Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
PENCARIAN


__ADS_3

Keesokan harinya Saras berniat kembali bekerja. Dia memakai atasan kemeja motif garis-garis warna biru muda dan celana panjang warna hitam. Setelah memakan roti selai coklat kesukaannya sebagai sarapan, Saras lantas memakai sepatunya dan memesan ojek online.


Sesampainya di gedung tempat dia bekerja, Saras langsung masuk menuju lobi dan hendak memasuki lift karyawan menuju lantai 5. Pada saat sedang mengantri di depan lift, Wulan sahabatnya nampak berlari-lari menuju ke arah lift juga.


“Baru datang juga, Lan?” sapa Saras.


“Iya nih, aku hampir kesiangan gara-gara semalam lembur untuk menyiapkan bahan rapat, karena pagi ini akan diadakan rapat ulang. Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa rapat direksi diulang sampai tiga kali dan belum menemukan titik temu, selama hampir 5 tahun aku bekerja disini, hal ini baru terjadi sekarang” ucap Wulan sambil menggerutu.


Saras hanya tersenyum menanggapi ocehan sahabatnya, dan mereka segera masuk ke dalam lift saat pintunya terbuka. Hari masih pagi, jadi tidak banyak yang berdesakan di dalam lift itu.


Meski mereka berada di satu lantai kerja, tapi Saras dan Wulan berbeda divisi. Saras menjabat sebagai Kepala Divisi Marketing dan Wulan menjabat sebagai Kepala Divisi HRD. Mereka bersahabat sejak kuliah, itulah mengapa mereka bisa sangat akrab.


“Kamu beneran sudah pulih, Ras?” Wulan meyakinkan sahabatnya sebelum mereka berpisah ke ruangan masing-masing.


“Iya, aku sudah baikan kog” jawab Saras.


“Baiklah, sampai jumpa nanti saat makan siang ya?” ucap Wulan sambil melambaikan tangannya.


Saras membuka pintu ruangannya yang masih sepi. Di dalam ruangan itu Saras bersama keempat orang temannya di Divisi Marketing. Saras langsung duduk dan menyalakan komputernya untuk melihat pekerjaan yang kemarin sempat ditinggalkan nya. Saras memang selalu datang lebih awal, itulah mengapa dia dipercaya untuk menjadi Ketua Divisi karena kecekatannya dalam bekerja.


Selang beberapa menit kemudian, Doni, Dika, Eka dan Hera masuk ke dalam ruangan. Mereka nampak antusias menyambut Saras karena kemarin sempat tidak masuk.


“Mbak Saras, sudah sehat kah?” Eka yang baru masuk memulai percakapan.


“Iya Ka, aku hanya kecapekan dan ingin istirahat saja”


“Kenapa tidak mengabari kami kalau Mbak Saras gak masuk kerja?” Hera yang baru duduk di mejanya ikut nimbrung.

__ADS_1


“Maaf aku kemarin sangat lelah, jadi gak bisa pamit ke kalian, aku cuma pamit ke Wulan” jawab Saras yang merasa tidak enak hati.


“Ya udah gapapa Ras, yang penting kamu sudah sehat dan bisa beraktivitas lagi” Doni menimpali.


“Apakah data penjualan yang kemarin sudah kamu serahkan ke bagian HRD, Don?” tanya Saras


“Sudah, dan sepertinya belum diperiksa mbak Wulan karena rapat direksi ditunda lagi, katanya setelah rapat direksi selesai baru akan diperiksa”


“Baiklah. Selamat bekerja” ucap Saras sambil tersenyum simpul. Ekor matanya tidak sengaja melihat ke arah Dika yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa menanyakan apapun pada gadis itu. Saras tahu kalau Dika menaruh hati padanya, namun dia selalu mencoba untuk menjauhinya, karena Saras pikir dia sudah mempunyai Andi sebagai pacarnya kala itu. Saras belum menghubungi Andi lagi sejak kemarin lusa saat dia memergokinya bersama Nita. Mungkin bagi Andi hubungan mereka sudah berakhir, jadi Saras berpikir dia tidak perlu menghubunginya lagi untuk menjelaskan semuanya.


Saat jam makan siang tiba, Saras keluar menuju ruangan Wulan, namun sahabatnya itu tidak berada di tempatnya. Menurut teman se divisi nya, Wulan masih menghadiri rapat direksi. Jadi Saras memutuskan untuk pergi ke kantin sendiri. Teman-teman se divisi nya sudah beristirahat terlebih dahulu, karena Saras masih melanjutkan pekerjaannya dan juga dia sengaja menghindari Dika.


Saras melangkah gontai, dia sebenarnya enggan harus ke kantin, namun dia tidak mungkin berada di ruangannya terus menerus karena bisa tambah stres mengingat beban pekerjaan yang dihadapinya. Setibanya di dalam lift, Saras segera memencet tombol lantai 2 tempat kantin berada. Disana sudah banyak para karyawan memenuhi meja kantin. Saras memilih duduk di dekat jendela yang agak sepi setelah sebelumnya dia memesan jus jeruk hangat karena dia tidak nafsu untuk makan.


Di kejauhan tampak keempat temannya sedang menikmati makanan yang sudah mereka pesan, Saras pura-pura tidak melihat ke arah mereka agar tidak diajak bergabung disana karena pasti suasananya akan canggung karena keberadaan Dika.


Setelah menghabiskan jus jeruknya, Saras segera kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Akhirnya setelah perdebatan yang cukup alot dan atas bantuan dari Anton juga, akhirnya rapat direksi bisa menghasilkan hasil yang memuaskan.


Bintang kembali ke ruangannya dengan diikuti oleh Anton. Dia langsung membuka jas nya dan merebahkan dirinya di sofa.


“Apa yang terjadi padamu, Bin? Kenapa kamu jadi kacau seperti ini?” protes Anton pada bos sekaligus sahabatnya itu. Bintang memang menyuruh Anton untuk memanggil namanya saja jika mereka sedang berdua.


“Apa gara-gara gadis itu?” lanjutnya.


Bintang hanya mendesah. “Aku sungguh penasaran dengan gadis itu, aku ingin menemuinya Ton” jawab Bintang lesu.

__ADS_1


“Apa kamu tahu tempat tinggalnya?” tanya Anton lagi.


“Bagaimana mungkin, sedangkan namanya saja aku tidak tahu”


“Dasar payah. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu tanpa mengetahui siapa orang yang kamu tiduri” ejek Anton.


“Bukankah sudah aku jelaskan kalau gadis itu yang menyerahkan dirinya sendiri padaku” balas Bintang tak kalah sewot.


“Tapi apakah dengan begitu, lantas kamu mengorbankan pekerjaan mu yang jauh lebih penting? Anggap saja ini One Night Stand, jadi kalian melakukannya karena mau sama mau, beres kan?”


“Tidak semudah itu Ton. Gadis ini sangat berbeda. Aku tahu sejak pertama kali melihatnya, dia sangat rapuh dan aku merasa sangat berdosa telah mengikuti apa kemauannya saat itu” lirih Bintang.


“Lalu sekarang apa rencana mu?”


“Aku akan mencari gadis itu. Semalam aku sudah mendapatkan fotonya dari CCTV apartemenku” jawab Bintang sambil mengeluarkan selembar foto dari dalam jas nya dan menyerahkannya pada Anton.


Anton mengamati foto yang diambil dari bagian samping itu, dia sepertinya pernah melihat gadis itu, tapi entah dimana.


“Sepertinya aku tidak asing dengan wajah gadis ini” ucap Anton.


“Benar kan, aku juga berpikiran sama” sahut Bintang.


“Apakah mungkin dia salah satu karyawan kita?” tanya Anton lagi.


“Entahlah. Kalau memang dia adalah karyawan disini, akan lebih mudah bagiku untuk bertemu dengannya” ucap Bintang.


“Baiklah akan aku periksa semua data karyawan, siapa tau gadis ini termasuk salah satunya” ucap Anton dan langsung mendapat anggukan dari Bintang.

__ADS_1


“Apakah kamu mau makan siang diluar?” tanya Anton.


“Tidak, aku sedang tidak selera makan. Nanti pesankan online saja kalau aku lapar” jawab Bintang dan Anton langsung keluar menuju ruangannya.


__ADS_2