
Yuli dan Renata sedang menikmati secangkir kopi dan beberapa kue yang terhidang di atas meja. Merasa terganggu dengan teriakan Kartika yang membuat telinga Renata terasa panas.
"Ibu, suruh wanita itu diam."
"Biarkan saja, tutup telingamu saja."
"Walaupun sudah menutup telinga tetap saja terdengar. Berisik."
"Lihat siapa yang akan menenangkan wanita itu?"
Yuli menunjuk dengan dagunya. Renata menatap sosok pria berjas navy yang sedang berjalan menuju ke arah pintu kamar Kartika.
"Lagi-lagi dia. Apa aku ini tidak menarik sehingga selalu saja kalah darinya, ibu?"
Yuli menatap anaknya. Ia sadar tidak bisa memaksakan hati untuk membuat Kevin tertarik. Rasa itu muncul atas anugrah Tuhan. Walaupun kita bersusah payah untuk memilikinya jika Tuhan tidak mengijinkan tidak akan terjadi. Yuli hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Di tatapnya wajah cantik dan ayu anaknya. Tangannya terjulur dan meraih dagu sang anak.
"Bersabarlah, pasti Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kesabaran seorang istri."
"Apa, Bu. Sabar! memang aku kurang sabar sehingga suamiku sendiri membawa wanita lain. Sementara istrinya saja belum tersentuh!"
Renata bangkit dari duduknya muak melihat perbuatan Kevin yang terus saja membuat hatinya mendidih.
Ridwan berjalan dengan membawa nampan berisi sarapan. berdiri di depan pintu kamar Kartika, perlahan membuka pintu kamar.
Kartika menatap dirinya penuh amarah. Ia tahu karena dirinya hidupnya menjadi tidak karuan. Dia menjadi terbuang dari keluarga besarnya.
Kartika mundur dari pintu beberapa langkah membiarkan Kevin masuk dan mengunci pintu kembali.
Pria berjas navy meletakkan nampan di atas meja.
"Makanlah selagi hangat."
"Aku tak butuh makan."
"Jika tidak makan kasihan perutmu. Nanti, sakit perut."
"Apa peduli mu."
__ADS_1
"Karena aku ini masih Suamimu."
"Hah, Suami. Mana ada Suami yang membuat Istrinya hidup seperti dalam penjara."
Kartika bersandar pada meja menatap Kevin yang berdiri di depannya.
"Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk melindungi mu."
"Keluarkan aku ...! aku ingin pulang. Ingin keluar dari sini!"
"Yayah."
Seorang pelayan berlari menghampiri Kevin. Berdiri di depannya.
"Ya, Tuan."
"Tolong bantu Kartika jika membutuhkan sesuatu."
"Baik."
Kevin menatap wajah Kartika yang muram dan melangkah keluar dari kamar. Hatinya pilu melihat Kartika yang belum berganti pakaian. Kevin harus berangkat ke kantor untuk meeting pagi ini.
"Terima kasih. Kau orang kepercayaan Kevin?"
Kartika menatap Yayah.
"Bisa di bilang seperti itu, Tuan Kevin sudah bersamaku sejak kecil karena ditinggal kedua orang tuanya."
"Bisakah kau menolongku untuk keluar dari rumah ini?"
"Jangan, Nona dia akan marah besar jika aku menolongmu. Aku di sini hanya pekerja supaya bisa makan dan dapat upah."
Mendengar jawaban dari Yayah, Kartika mendesah berat. Ya, dirinya tidak akan tega memaksa. Kartika melangkah mendekati jendela mengintip suasana diluar kamarnya dari balik gorden.
"Makanlah sarapannmu, supaya dirimu tetap sehat dan berpikir jernih. Jika sakit kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirkanlah dirimu, saya pamit untuk bekerja kembali."
Yayah memberikan nasehat, setidaknya ia memberikan jalan pada Kartika untuk tetap bertahan di dalam rumah ini entah sampai kapan. Sebetulnya ia sangat kasihan melihat wanita muda tersiksa di rumah majikannya. Namun, apalah dayanya yang hanya seorang pembantu. Tidak memiliki hak untuk apapun. Semua yang ia lakukan atas titah Tuan mudanya. Bukan atas kehendak hatinya.
__ADS_1
Yayah hanya berdoa dalam hati semoga wanita ini selalu dilindungi dari orang-orang yang ingin berbuat jahat. Ia pun tahu sepertinya Tuan mudanya memperlakukan wanita ini dengan baik. Padahal pernikahan dengan dirinya palsu. Jangan-jangan Tuan mudanya sebetulnya mencintainya sungguh-sungguh.
Sudahlah tidak usah memikirkan urusan orang, fokuslah pada pekerjaanmu saja, Yayah.
Yayah melangkah keluar kamar dan mengunci kembali kamar yang di tempati Kartika. Kartika hanya bisa menatapnya hingga tubuh Yayah hilang di balik pintu.
Kartika menatap sarapan di atas meja, sebetulnya ia sangat lapar, cacing di perut pun terus berbunyi meminta makan. Tapi Kartika belum berniat menyentuh roti dan susu yang di suguhkan. Kartika menekan ludah dan menjilat bibirnya betul-betul lapar. Dari kemarin ia tak makan apa-apa. Tangannya gemetar meraih roti di dekatkan pada bibirnya. Satu gigitan telah masuk ke dalam mulutnya, roti coklat keju terasa memanjakan lidahnya, terasa nikmat sekali. Ia memakannya dengan lahap dua lembar roti tumpuk habis di santapnya. Tangannya beralih mengambil satu gelas susu hangat dan langsung meminumnya.
Ya Allah terpaksa aku memakannya, karena aku harus tetap sehat dan bisa mencari jalan untuk bisa keluar dari rumah ini.
Seorang wanita berambut panjang Menghampiri Kartika yang sedang berdiri di depan jendela.
"Namamu siapa?"
"Kartika," sahutnya singkat, menatap wanita yang kira-kira umurnya berada di bawahnya.
"Kamu tidak tahu jika kamu menjadi alat untuk balas dendam."
"Apa ..., Aku menjadi alat untuk balas dendam. Maksudmu siapa yang balas dendam?"
Kartika bicara dengan berteriak karena wanita yang baru saja menemuinya meninggalkan dirinya begitu saja. Kartika menendang pintu, hatinya betul-betul kesal di buatnya. Ada apa sebenarnya. Balas dendam apa? Aku sama sekali tidak paham. Kartika menatap punggung wanita muda yang baru saja mendatanginya, kemudian meninggalkan dirinya kembali.
Kartika beranjak dari jendela, duduk di tempat tidur yang masih berantakan.
Di telinganya masih terngiang ketika wanita itu mengatakan jika dirinya adalah alat untuk balas dendam. Siapa yang punya dendam? setahuku aku tidak pernah berurusan dengan orang lain selain Ati sepupunya yang membenci dirinya. Tapi itu tidak mungkin karena dia saudaraku masa iya menaruh dendam terhadapku.
Terdengar suara langkah kaki berhenti di depan pintu. Pintu di buka dari luar seseorang masuk. Kartika mengalihkan tatapannya di lihatnya Kevin masuk dengan tangan yang penuh dengan paper bag. Kartika tetap tidak bergeming dari duduknya. Pria dengan setelan jas abu-abu meletakan bawaan di bawah meja. Kemudian menghampiri Kartika berjongkok di depannya.
"Tersenyumlah, wajahmu cantik jika tersenyum."
Kartika membuang wajahnya. Namun, rona merah di pipi tidak bisa di sembunyikan. Kartika tetap menampakkan wajah masamnya rasa ketidak sukaan dan benci pada pria yang ada di hadapannya. Walaupun kini kevin selalu bersikap manis kepadanya.
"Pakailah pakaian ini, semoga cocok dan pas dengan ukuran tubuhmu."
Kartika menatap wajah pria tampan di depannya.
"Aku tak peduli dengan pakaian. Aku hanya ingin berbicara dengan ibu dan adikku!"
__ADS_1
Air mata jauh dari sudut mata indahnya. Kartika sangat merindukan kedua orang tersebut sehingga menangis. Kevin tidak bisa melihat Kartika meneteskan air mata, Pria itu pun mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. memberikannya pada ...