
"Kevin bilang ini dari neneknya dan dulu pernah menjadi milik ibunya sebelum meninggal."
"Coba kamu selidiki asal mula cincin itu dan kau akan menemukan kebenarannya," ungkap Royadi.
"Maksud Ayah, ayah hanya ingin mengetahui asal usul dari cincin itu?"
Royadi terdiam, Titin masuk dan duduk di sisi Suaminya.
Titin memperhatikan benda yang ada di jari manis putrinya. Titin meraih tangan Kartika melepaskan cincin itu dari jari Kartika kemudian melemparnya ke lantai.
Melihat cincin itu Titin menjadi teringat pada mantan istri suaminya terdahulu. Cincin itu sama persis dengan cincin yang dulu pernah diberikan Royadi pada Humaira sebagai simbol cinta yang tidak terpisahkan. Darah Titin menjadi mendidih jika mengingat hal itu.
"Kevin ceraikan Kartika sekarang juga!"
"Tidak ibu, itu tidak akan ku lakukan."
"Ada apa dengan ibu?"
Kartika tidak menduga permintaan ibunya akan serumit ini. Mendengar permintaan Titin, Royadi hanya bisa diam tidak berkata apa-apa. Pada kenyataannya yang dikatakan Titin memang benar.
Kartika mengambil cincin yang terlempar ke lantai dan jatuh di kaki tempat tidur Royadi.
Kevin kedatangan tamu di kantornya, orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Namun, pria itu tetap mempersilahkan masuk setelah menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditandatangani.
setelah bersalaman Kevin mempersilahkan lelaki setengah baya tersebut untuk duduk. Dia pun mulai menceritakan jika dirinya di titipkan wasiat sebelum ayahnya meninggal. Ketika itu menjadi pekerja pembuat cincin. Pria itu mengatakan jika cincin yang dipakai Humaira adalah pemberian Royadi bukan Ramos.
Bagai disambar petir di sore hari Kevin mendengar pengakuan tersebut. Namun, Kevin tidak ingin percayai perkataan pria itu begitu saja, tidak mungkin orang yang membunuh ibunya adalah orang tuanya sendiri.
"Tidak mungkin, pasti ada yang keliru."
"Jika tidak percaya temukan surat wasiat yang ditulis ibumu sebelum meninggal."
"Dimana aku bisa menemukannya aku tidak tahu dan belum pernah melihatnya."
Setelah membeberkan wasiat tentang cincin Yusuf mohon pamit.
__ADS_1
Setelah kepergian Yusuf. Kevin menjambak rambutnya frustasi. Pria itu tidak percaya jika cincin ibunya adalah pemberian dari Royadi yang berarti Royadi adsksh ayahnya. Orang yang selama ini ia benci dan menjadi mertuanya saat ini.
Jadi mungkinkah selama ini neneknya membohonginya untuk mengadu domba dirinya dan memanfaatkan cinta tulusnya pada Kartika. Siapa yang harus aku percaya nenek atau Yusuf yang baru saja memberitahukan kebenaran tentang cincin ibunya.
Sementara itu Yayah pembantu Salamah termenung di dalam kamarnya, wanita itu memikirkan bagaimana caranya untuk menyampaikan surat yang sudah disimpan rapat-rapat sejak 20 tahun silam.
Surat yang di berikan Humaira di saat masih hidup dan masih berada di rumah ini. Rumah yang membuatnya menderita atas siksaan yang diberikan Salamah sebagai mertuanya. Salamah tega memisahkan Humaira dengan suami dan anaknya karena menikah dengan Royadi anak dari Dahlan yang dulu sempat menjadi istrinya walaupun hanya sesaat. Karena terjadi kebakaran dan Mariam dikabarkan meninggal dunia.
Humaira tidak ingin terus menyaksikan Royadi yang tersiksa dan dijadikan alat adu domba oleh Salamah, sehingga Humaira memilih pergi dari rumah itu. Meninggalkan Kevin yang masih bayi ada dalam asuhan dan tanggung jawab Salamah.
Ilham mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka, pria itu melihat ibunya sedang duduk termenung di tepi ranjang. Karena Yayah tidak memberikan jawaban Ilham masuk, menepuk bahu ibunya pelan.
Wanita separuh baya itu terperanjat kaget dan berkata latah.
"Eh copot, copot. Ngagetin saja."
Yayah melihat Ilham yang memposisikan diri duduk di sebelahnya.
"Apa yang sedang ibu pikirkan? Sampai tidak dengar anaknya mengetuk pintu?"
"Ibu tidak memikirkan apapun."
"Biar ini ibu simpan sendiri, jika ingin membantu. Bisakah kau memberikan pesan pada ibunya Kartika, Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadanya."
"Baiklah, nanti aku sampaikan. Ibu tulis pesannya dulu di secarik kertas. Karena aku tak bisa lama-lama jika berada di sana, banyak mata yang mengawasiku di sana Ibu pahamkan."
Yayah bangkit dari duduknya menghampiri laci untuk mengambil buku tulis dan ballpoint untuk menulis.
Wanita menarik kursi dan duduk, jemarinya dengan lincah menari di atas kertas. Sebaris tulisan tersusun dengan rapi.
Setelah selesai Yayah membubuhkan tanda tangan dan namanya dengan jelas. Setelah itu merobek kertas tersebut dan di lipatnya menjadi lipatan kecil.
Yayah menghampiri Ilham yang sedang memainkan ponselnya.
"Berikan ini pada Titin, jangan sampai ada yang melihat."
__ADS_1
"Baik, ibu."
Yayah menggiring putranya ke ruang makan untuk menyiapkan makan siang yang telah terlewat.
Ati sengaja mengirimkan surat cerai palsu pada Kevin walaupun bagaimana mereka harus bercerai. Supaya hati ini menjadi tenang. Aku akan mendekati Kevin kembali seperti sebelumnya. Perasaanku masih tetap utuh untuknya belum tergantikan dengan yang lain, walaupun Kevin sempat menikah dengan Renata tetapi dia tidak pernah menyentuhnya jadi sainganku hanya Kartika sepupu sialan itu. Ati tersenyum sambil memegang amplop besar berwarna coklat.
Ati siap mengirimkan dan akan merebut hati pujaannya kembali.
Ia berdiri dan menatap cermin di hadapannya, memastikan tampilannya sudah sempurna. Ia akan pergi menemui Kevin dan memberikan surat palsu buatannya.
Surat sudah berada di tangan Kevin. Setelah membaca isi surat itu Kevin merasa bingung harus menandatanganinya atau tidak surat cerai yang baru diberikan Ati kepadanya. Kevin merasa tidak percaya jika Kartika akan memintanya untuk berbuat demikian.
Bukankah baru saja ia mengatakan bahwa dirinya bukan pembunuh dan akan mengungkap siapa pelaku kecelakaan Royadi.
Aku harus menemui Kartika untuk membahas masalah ini. Tidak mungkin Kartika meminta cerai.
Kevin mendatangi rumah Dahlan dan berhasil bertemu dengan Kartika. Kevin menanyakan perihal surat cerai yang dikirimnya.
Kartika menjawab jika dirinya tidak mengirimkan surat cerai. Walaupun waktu itu ibunya sempat memberikan surat cerai tetapi ia belum menandatanganinya. Karena berat rasanya jika harus berpisah dengan orang yang dikasihinya.
Sementara Ilham masuk diam-diam ketika Kevin sudah masuk ke dalam untuk menemui Kartika.
Ilham ingin menyampaikan pesan dari ibunya untuk menemui Titin, Ilham mengendap-endap supaya bisa bertemu dengan Titin.
Biasanya di jam seperti ini wanita itu sedang menjemur pakaian, tapi ini tidak kelihatan di atap. Dimana dia?
Ilham duduk di bangku yang ada di dekat jemuran, berniat akan menunggunya.
Namun, setelah beberapa saat menunggu Turun belum juga keluar. Ilham akan terus menunggu sampai nanti Kevin memanggilnya untuk kembali.
Namun, baru saja Ilham berdiri dari kursi kedua matanya melihat Titin yang kesulitan membawa cucian penuh di dalam ember.
Ilham menghampiri, meraih ember cucian untuk membantunya.
Setelah meletakkan ember cucian di lantai Pria muda itu memberikan secarik kertas dari saku jasnya yang di lipat tanpa amplop.
__ADS_1
Titin tertegun melihat kertas yang di sodorkan Ilham. Wanita itu menatapnya lekat. pria muda itu paham dengan maksud Titin yang minta penjelasan. Ilham pun mengatakan jika ibunya menitipkan surat itu. Barulah Titin mau menerima kertas yang di lipat kecil dari tangan Ilham.
Titin membuka membaca isinya. Wanita itu tertegun sesaat melipat kembali kertas tersebut. Matanya beralih menatap Ilham. kemudian bertanya, "apa benar ini dari ibumu?"