Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Sumpah Serapah


__ADS_3

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela sehingga Kartika terbangun dari tidurnya. Karena matanya merasa silau. Kartika melirik ke arah samping. Namun, tidak menemukan tubuh Kevin di sisinya. Kedua mata Kartika nanar memandang seluruh ruangan. Di dapati Kevin sudah bangun terlihat sedang mengenakan pakaian.


Kartika menatap pria yang membelakanginya itu untuk sesaat. kemudian tersadar bukankah ini masih bukan madu mereka. kenapa Kevin sudah berpakaian rapi seolah akan pergi bekerja.


Kartika pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Sayang, bukankah ini masih hari bulan madu untuk kita. Kenapa terburu-buru untuk kembali kerja."


Karena pertanyaannya tidak mendapat jawaban Kartika mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Kemudian turun dari ranjang melangkah mendekati Kevin.


"Mengapa cepat sekali kau harus kembali kerja, bukankah ini masih bulan madu untuk kita?"

__ADS_1


Kartika mencoba tersenyum merasa malu dengan perkataannya sendiri.


"Ada urusan yang harus ku selesaikan di kantor tidak bisa ditunda."


"Apa?"


Kartika memberanikan diri memeluk Kevin mencoba menahan pria di dalam dekapannya supaya tidak pergi. Namun, Kevin melepaskan tangan Kartika yang melingkar di pinggangnya dengan kasar. Kemudian berjalan meninggalkan kamar tanpa tanpa menoleh kembali ke arahnya.


Malam yang dingin dan penuh gairah berputar lagi di otaknya. Ia tak menyangka hidupnya akan hancur berkeping-keping tak tersisa seperti ini.


Hidupnya berubah delapan puluh derajat. Andai ia tidak menikah dengannya tentu semua ini tidak akan terjadi. Kemana ia harus pergi?

__ADS_1


Kartika berlari mengejar Kevin yang sudah berada jauh dihalaman. Wanita dengan pakaian tidur itu memanggil namanya berkali-kali. Namun, Kevin tidak menoleh atau membalikkan tubuhnya.


Sumpah serapah keluar dari bibir Kartika melihat Kevin yang terus melangkah menjauh.


"Demi Allah, aku bersumpah. Seumur hidupmu, kamu akan menderita!"


Kevin terus saja berjalan menjauh. Jangan sampai menoleh, melihat Kartika dengan kedua matanya yang berlinang. Kevin sebenarnya tidak tega berbuat hal demikian tapi sisi lain hatinya tega. Yang ia rasa hatinya kini terasa sesak melihat Kartika menangis. Hati Kevin terasa perih seperti tersayat sembilu tapi ia mencoba untuk tidak peduli tetap melanjutkan melangkah menjauh dari rumah yang sempat membuatnya terlena tadi malam.


Kevin sampai di depan mobilnya. pria itu menyambungkan kabel yang tadi malam di putuskan nya. Setelah tersambung ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil Namun, hatinya kini terasa sakit. Kevin merasa tidak mengerti dengan perasaan yang kini ia rasakan. Mobil terus melaju di jalan raya yang cukup ramai. Banyak orang berlalu lalang melakukan kepentingannya masing-masing.


Hari semakin terang, Kartika kembali masuk ke dalam rumah. Ia merusak semua perabotan yang ada di dalam rumah itu. Terbayang kembali saat pertama kalinya memasuki rumah itu dalam keadaan gelap. Kevin menyalakan pemantik api untuk menerangi ruangan. Kevin menyuruh dirinya untuk menutup pintu dan gorden. Kartika menurut melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian Kevin menemukan lampu tempel yang tergantung di dinding. Meraih dan menghidupkannya, ruangan yang tadinya gelap menjadi terang. Walaupun tidak seterang lampu listrik. Cocoklah untuk mereka yang baru saja menikah menjadikan suasana romantis yang tidak di sengaja.

__ADS_1


Kedua pipi Kartika basah oleh air mata ia menatap selimut yang tergeletak di atas ranjang yang belum sempat di lipatnya kembali. Selimut itu yang menjadi saksi mahkota yang berharga terenggut begitu saja.


__ADS_2