
Kartika kembali ke dapur, para pelayan melayani dirinya dengan ramah.
"Kau sungguh cantik mirip artis di televisi."
Mendengar perkataan dari salah satu pembantu Kartika menunduk tersipu malu.
"Silahkan, di minum selagi hangat."
"Terima kasih."
Kartika mengambil gelas yang di sodorkan ke arahnya. Menggenggam gelas dengan kedua tangan. Seolah mencari kehangatan di pagi hari yang dingin karena di luar masih di guyur hujan.
Mendekatkan gelas ke bibirnya, meneguknya beberapa teguk. Terasa hangat di kerongkongan.
"Wah-wah, gadis ini sudah berani keluar dan berlaku sebagai nyonya rumah."
Semua mata tertuju pada suara yang baru saja terlontar dari mulut seseorang di sebrang pintu.
Rupanya Salamah sang pemilik rumah telah berdiri di ambang pintu memperhatikan gerak geriknya.
Kartika bangkit dari duduknya tidak tahan dengan ucapan Salamah yang menusuk hatinya. Kartika pikir dirinya sudah di terima di rumah ini. Namun, ternyata dugaannya salah. Ia masih orang asing di rumah besar ini. Di mana Kevin dari tadi tidak tampak. Biasanya pria itu akan membelanya jika dirinya di hina atau di sakiti oleh seseorang.
Kartika bangkit berlari menuju ke arah kamarnya, membanting tubuhnya di atas tempat tidur.
Menagis sejadinya dengan menutup wajahnya dengan bantal.
Yuli, Renata dan Salamah sedang asyik menikmati secangkir kopi dan roti sebagai camilan siang.
"Aku akan meninjau sebuah tempat, ku titipkan rumah ini padamu."
"Hem," sahut Yuli enggan menimpali.
"Jika ada apa-apa bertingkahlah seperti nyonya rumah, jika tidak bisa segera hubungi aku."
"Tenang saja, percayakan rumah ini padaku. Aku akan menjaganya untukmu."
"Baiklah aku pergi."
Setelah meneguk kopinya Salamah berlalu meninggalkan kedua ibu dan anak yang masih duduk di tempatnya masing-masing.
Sementara itu Kartika mengintip dari balik jendela mencari sosok Kevin. Namun, tidak di temukan juga.
"Kemana dia, aku sungguh bosan."
Kartika keluar dari kamar melangkah menuju pintu gerbang. Melewati Yuli yang sedang bersantai bersama Renata. Namun, ketika melihat Kartika, Renata langsung pergi meninggalkan ibunya setelah menerima telpon dari seseorang.
"Maaf, Kamu tidak bisa keluar. Itu pesan Nyonya besar."
Kartika tetap bersikap keras ingin keluar. Namun, para penjaga menghalanginya. Sehingga Yuli yang sedang bersantai terusik.
"Bawa dia masuk. Kurung kembali di kamarnya."
__ADS_1
Para penjaga membawa Kartika dengan kasar, memaksa Kartika kembali ke kamarnya.
"Kenapa ...., kenapa kalian bisa keluar masuk dengan begitu bebas tetapi aku harus di kurung?"
Kartika menoleh ke arah Yuli yang sedang di bawa paksa oleh para penjaga
"Itu karena kau bukan bagian dari keluarga ini paham," timpal Yuli melangkah mendekati Kartika mengangkat dagunya.
"Cepat kunci kembali, jangan biarkan dia lepas."
Para penjaga berhasil memasukan Kartika kembali ke dalam kamarnya walaupun dengan susah payah karena Kartika terus memberontak untuk lepas.
Kartika kesal menarik gorden hingga terlepas dari kaitnya. Menarik sprei hingga terlepas dari tempat tidur. Melempar bantal hingga berserakan di bawah. Kamarnya kini seperti kapal pecah. Kartika duduk di lantai menutup wajahnya untuk menyembunyikan tangisnya.
Sementara Yayah yang tidak tega melihat perlakuan para penjaga terhadap Kartika langsung menelpon Kevin. Memberitahukan jika tadi Kartika mengamuk ingin keluar. Namun, di cegah oleh Yuli sehingga membuat gaduh.
Kevin yang dalam perjalanan kekantor memutar balik mobilnya sehingga kembali lagi ke rumah.
Ketika tiba di depan pintu kamar Kevin lupa tidak membawa kunci.
Yuli menyodorkan kunci ke arah Kevin dengan tatapan sinis. Namun, Kevin tidak mempedulikannya langsung mengambil kunci dari tangan mertuanya. Kemudian langsung membuka pintu kamar Kartika.
Setelah pintu terbuka Kevin buru-buru masuk mendapati Kartika tengah menangis terisak memeluk kedua lututnya di lantai.
Kevin melihat sekeliling kamar yang tidak karuan. Kevin mengalihkan kedua matanya menatap Kartika yang sedang menangis sesenggukan. Kevin perlahan berjalan menghampiri, berjongkok di depan Kartika yang menangis. Pria itu meraih pergelangan tangan Kartika. Namun, Kartika mengaduh sakit menarik kembali tangannya.
"Auuu ...."
"Siapa yang melakukan ini?"
Kartika tidak menjawab ucapannya. Kartika sadar, dirinya lah yang salah sehingga mendapatkan luka di tangannya. Jika tidak memberontak pasti ia akan baik-baik saja.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan keluar karena aku bosan."
Kevin mengajak Kartika keluar dari kamar. Lelaki gagah itu menghampiri ibu mertua yang sedang bersantai di taman dengan segelas kopi dan membaca koran.
"Siapa yang berani menyentuh Kartika selain aku?" teriak Kevin pada orang yang berada di rumah.
Yuli melipat koran yang sedang di bacanya. Meletakan di meja.
Sesaat wanita paruh baya itu menatap Kevin dan Kartika bergantian.
"Aku."
"Kenapa?"
"Karena dia memaksa untuk keluar. Apa salah aku berbuat demikian?"
"Pelayan?"
Semua pelayan berkumpul berbaris rapi di depan Kevin. kira-kira ada 10 orang.
__ADS_1
"Siapa yang berlaku kasar terhadapnya?" tunjuk Kevin dengan jempolnya pada Kartika.
Seorang pelayan maju satu langkah
Kevin mengepalkan jari memukul pipi pelayan dengan satu pukulan hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Stop, Kevin?"
Kevin menghentikan pukulannya. mendengar teriakannya Kartika.
"Jangan lagi berlaku kasar terhadapnya, jika tidak ingin di pecat!"
"Baik," sahut para pengawal serempak.
"Kembali ketempat jaga kalian."
Semua penjaga bubar dari barisan dan kembali lagi ke tempat tugasnya masing-masing.
Melihat perlakuan Kevin terhadap Kartika, Yuli hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kamu ingin keluar?"
"Iya, aku seperti di penjara di sini!"
"Baiklah."
Kevin menarik pergelangan tangan Kartika kemudian melangkah meninggalkan pintu gerbang. Membukakan pintu mobil untuk Kartika.
Wanita itu masuk ke dalam mobil di susul Kevin yang membuka pintu mobil sebelah lagi duduk di belakang kemudi di sebelah Kartika.
Keduanya saling tatap sesaat. Kartika merasa senang dengan sikap Pria di sampingnya yang selalu saja menghiburnya sehingga membuat hatinya hangat di kala sedang gundah.
Kevin menatap wajah Kartika berbisik dalam hatinya "aku tak akan membuatnya meneteskan air mata walaupun itu hanya satu tetes."
"Kau tidak bertanya kita akan pergi kemana?"
"Untuk apa bertanya jika pada akhirnya aku harus tetap patuh padamu," sungut Kartika kesal memajukan bibinya.
Kevin tertawa seolah lucu dengan ucapan yang baru saja di dengarnya.
Air matanya tak terasa keluar dengan sendirinya. Kevin menghentikan tawa menatap wanita di sampingnya yang masih memajukan bibirnya. Sedikit pun dia tidak tertawa melihat Kevin tertawa lepas terpingkal-pingkal.
Kartika menatap lelaki di didepannya, entah mengapa jika di dekatnya hatinya selalu hangat, rasa gundah bisa di tepisnya dengan segera.
Ya dia selalu menjadi matahari di saat hatinya tertutup awan mendung membuatnya ingin menangis.
Jika bisa ingin rasanya terus bersama walaupun kadang masih ada perasaan benci jika teringat atas apa yang telah di perbuatannya.
Mobil berhenti melaju, Kartika menatap Kevin.
"Ini ...."
__ADS_1