
"Iya, turunlah."
Kevin turun kemudian membuka pintu mobil untuk Kartika.
Keduanya melangkah menuju pintu. Tangan Kevin mencari sesuatu di saku jasnya. Sebuah kunci sudah ada dalam genggaman kemudian memasukan kunci dan memutarnya hingga berbunyi klik. Kemudian tangan Kevin meraih pergelangan tangan Kartika. Kartika tidak kuasa menolak keduanya bejalan masuk ke dalam rumah.
Kartika menatap sekeliling memungut kain kering berdarah. Kartika sesaat berjongkok teringat kejadian di saat dirinya menembak Kevin dan kemudian merawat lukanya.
"Kita tinggal di sini saja, jika kamu mau?"
Kartika tersadar dari lamunan ketika mendengar suara Kevin yang berbicara kepadanya.
Kartika berdiri berjalan ke arah tong sampah di dapur, melempar kain yang di penuhi darah ke tong sampah.
Kartika melongok kan kepalanya menatap Kevin dari arah dapur.
"Jika mau tinggal di sini, sebaiknya membeli beberapa bahan makanan dahulu."
"Kamu serius!"
Kevin terkejut dengan ucapan Kartika seolah tidak menyangka akan mendapatkan jawaban yang sangat di inginkannya.
Kevin tersenyum melangkah menghampiri Kartika, memeluk pinggangnya dari belakang.
"Ih, nakal."
Kartika menatap wajah Kevin sesaat kemudian berusaha melepaskan pelukan Pria itu dengan susah payah, Kevin membiarkan Kartika memberontak dalam pelukannya. Kevin mencium leher Kartika setelah itu baru melepaskan pelukannya.
"Baiklah jika seperti itu, aku pergi ke Alfamart di dekat sini. Kamu tunggu di sini saja jangan buka pintunya jika ada yang mengetuk dan menekan bel!" tegas Kevin di ambang pintu sebelum melangkah keluar meninggalkan Kartika.
"Hem, tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri." lirik Kartika yang masih menyelesaikan mencuci piring.
Kevin bergegas pergi meninggalkan Kartika seorang diri di dalam rumah. Wanita itu masih sibuk membersihkan dapur yang berantakan, serta menata ulang perabotan supaya tertata lebih rapi.
Terdengar bel pintu berbunyi, Kartika langsung membuka pintu tanpa berpikir panjang dan melupakan nasehat Kevin.
Ketika pintu terbuka Kartika kaget mendapati seorang wanita telah berdiri di ambang pintu. Sepertinya wanita itu tidak asing, Kartika merasa pernah melihatnya tapi di mana. Kartika mencoba mengingat wajah wanita yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Bukannya kamu ini adiknya Kevin? Tapi ada apa datang ke sini?" Dua pertanyaan di ajukan Kartika karena merasa heran.
"Oh, ya. Yang kamu ingat aku ini adalah adiknya Kevin tapi jika kau ingin lebih jelas mengenalku, biar ku jelaskan statusku saat ini."
"Maksudmu apa?" Kartika mengerutkan kening. Dirinya sungguh tidak paham dengan apa yang di ucapkan wanita di depannya.
"Dengarkan baik-baik, aku ini istri sahnya Kevin dan kamu hanya gundik!" ucap Renata menunjuk ke arah dirinya sendiri dan ke arah Kartika.
Kartika semakin tidak mengerti dengan ucapan Renata bagaimana mungkin Renata adalah istrinya Kevin. bukankah dia kakak beradik.
Belum hilang keterkejutannya Renata menunjukan sebuah poto yang memuat gambar keduanya dalam balutan gaun pengantin. Melihat foto tersebut Kartika kaget, rasanya ia tidak ingin percaya tetapi foto itu menang nyata adanya.
Karena ingin memastikan foto itu sehingga mengambil dari tangan Renata dan melihatnya dengan seksama. Benar itu menang foto Kevin dan Renata.
"Jika kamu tidak ingin di sebut perebut suami orang. Tinggalkanlah tempat ini bersama dia." Renata menunjuk ke arah tembok.
Keluarlah seseorang yang bersembunyi dari balik tembok.
Kartika mengikuti telunjuk Renata. Kartika tertegun ketika melihat siapa orang yang di maksud oleh Renata.
Pria yang baru keluar dari balik tembok adalah Halim kakak sepupunya.
"Tika ikutlah denganku? Tinggalkan tempat ini. Ini bukan hak mu?"
Kartika seperti linglung, menurut ketika Halim menuntun tangannya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Halim melakukan kendaraan meninggalkan rumah itu.
Sementara Renata merasa menang karena telah bisa menyingkirkan Kartika.
Terimakasih Ati berkat kau aku bisa memisahkan mereka.
Renata masuk ke dalam rumah melangkah mengambil pisau dari dapur. Menusukkannya ke dalam perutnya. Darah segar pun mulai mengalir merembes membasahi baju dan lantai.
Renata memposisikan dirinya seperti orang yang telah di serang seseorang. Dengan begitu Kevin pasti akan menolongnya.
Renata juga membuat tasnya terjatuh supaya perbuatannya tampak nyata bukan di buat-buat.
Sebetulnya aku tidak ingin berbuat curang seperti ini tapi apalah dayaku, sekuat aku berusaha kamu tidak pernah peduli padaku. Padahal aku ini istri sah mu dan dia hanya gundik.
__ADS_1
Cepatlah datang Kevin tolonglah aku! Tapi bagaimana jika dia tidak datang habislah sudah. Dengan luka yang dibuatnya sendiri sebetulnya dalam hati Renata takut jika Kevin tidak mau menolongnya. Renata Takut jika Kevin hanya akan peduli ada Kartika untuk mencarinya dan mengabaikan dirinya hingga kehabisan darah dan tamatlah riwayatnya.
Tidak, tidak mungkin Kevin tidak peduli padaku dia pasti akan membawaku ke rumah sakit. Renata menangis menahan sakit lahir dan batin yang di deritanya.
Kevin yang sudah selesai berbelanja kebutuhan di Alfamart segera bergegas pulang.
Melihat pintu yang terbuka Kevin kaget bergegas mempercepat langkah kakinya setengah berlari memasuki rumah.
Kevin masuk ke dalam rumah dengan memanggil nama Kartika berkali-kali. Namun tidak ada jawaban. Karena merasa khawatir dengan keadaan Kartika, Kevin menaruh belanjaan yang di bawanya di letakkan begitu saja di lantai.
Kevin mencari keberadaan Kartika.Namun, yang di dapatinnya seseorang yang terbaring di lantai dengan luka di bagian perutnya.
Kevin terkejut menghampiri wanita yang terbaring. Alangkah kagetnya ketika mengetahui wanita yang tergolek adalah Renata bukan Kartika.
"Kamu tak apa-apa? Siapa yang melukaimu seperti ini? Lalu di mana Kartika?"
"Wanita itu pergi dengan Halim setelah menusukku," sahut Renata menjelaskan kejadian yang menimpanya.
"Biar aku membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah Renata."
Kevin menggendong tubuh Renata membawanya ke dalam mobil. Meletakkan tubuh Renata di jok mobil bagian tengah, supaya dia bisa berbaring dengan leluasa. Sambil menyetir Kevin menoleh berulang kali ke belakang memperhatikan kondisi Renata yang yang terluka. pria itu takut jika Renata tidak bisa tertolong.
"Renata tolong bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit."
Renata tidak berkata sepatah katapun wanita itu pingsan karena kehilangan banyak darah atas ulahnya sendiri.
Sampailah mobil yang ditumpangi Kevin di parkiran rumah sakit dan terus melaju hingga tiba di UGD. Para perawat yang berjaga bersigap membawa Renata ke atas blankar dan mendorongnya menuju ke dalam untuk mendapatkan tindakan. Kevin menunggu di ruang tunggu dengan hati cemas. Pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya menghubungi Salamah untuk memberitahu Renata yang terluka, sedang berada di rumah sakit.
Kevin tidak percaya jika Kartika pergi meninggalkannya, pasti terjadi sesuatu tidak mungkin tega melukai Renata. Kevin menyangkal semua perkataan Renata.
Sementara itu Kartika seperti orang linglung menurut saja ketika Halim menuntunnya keluar dari rumah itu. Kartika seolah di buat lupa tengah menunggu Kevin yang sedang berbelanja untuk keperluan mereka.
Halim membuka pintu mobil, mempersilahkan Kartika masuk. Sementara Halim berputar untuk duduk di belakang kemudi.
"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku akan menikahi dan membebaskan dirimu." Tangan Halim menggenggam jemari Kartika. Wanita itu hanya menatapnya.
"Bisakah kita mampir ke suatu tempat?"
__ADS_1
"Boleh, Kemana pun kamu mau. Aku akan mengantarmu."