Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Aku ingin kamu lenyap


__ADS_3

Ati bercermin menatap pantulan dirinya di kaca. Rambut yang terurai lurus, make up yang natural, baju kemeja berwarna pink dasti dengan kerah berenda di bagian leher menampakan leher jenjangnya. Celana panjang berwa hitam sedikit cutbray. Menambah anggun penampilannya.


Wanita muda itu menyambar tas selempang yang berada di gantungan,  Menyelepangkannnya di bahunya. Kemudian beranjak dari kamarnya. Melangkah ke dapur untuk mengambil bawaannya yang sudah di siapkan dan di masukkan ke dalam paper bag berwarna coklat.


"Kamu mau kemana?"


"Ada sedikit urusan, Bu."


"Ya, sudah."


Mery tidak bertanya macam-macam ia paham dengan urusan anak muda karena ia dulu juga pernah muda.


Tiba di kantor Kevin, Ati di persilahkan masuk karena memang Ati sudah ada janji bertemu.


Kevin selalu mengiyakan pertemuan jika menyangkut Kartika tetapi jika tidak ada nama Kartika yang dibawa Ati, Kevin tidak pernah akan mau untuk bertemu.


Karena merasa ragu dengan Ati, ingat kejadian waktu dirinya membawa Kartika untuk menjenguk adiknya. Nyatanya tindakannya di ketahui Dahlan padahal Ati sendiri bilang tidak ada yang tahu, jika akan mengendap masuk ke dalam rumah dan segera pergi setelah bertemu mentari. tapi itu kejadian lalu mungkin kini Ati tidak seperti itu.


Kevin mempersilahkan Ati masuk, duduk di kursi, Kevin pun duduk di sebrang meja miliknya.


Ati meletakkan paper bag di atas meja dan memberikannya pada Kevin.


"Aku bawakan ini untuk Kartika, aku mendengar katanya Kartika sedang berbadan dua. Selamat, ya."


Ati menyodorkan tangan untuk bersalaman, Kevin menerima uluran tangan Ati dan tersenyum.


"Terima kasih."


Ati menurunkan kakinya yang di lipat , kemudian berdiri, melangkah menuju kursi yang di duduki Kevin. Berdiri di belakangnya melingkarkan tangannya di leher Kevin.


Kevin diam sesaat. Namun, kemudian pria itu melepaskan tangan Ati yang melingkar di lehernya dengan perlahan. Wajahnya begitu dekat dengan wajahnya.


"Kenapa."


"Apakah kamu sudah melupakan aku?"

__ADS_1


"Maaf, Aku tidak bisa bersamamu karena aku hanya mencintai Kartika."


Mendapat penolakan dari Kevin wajah Ati berubah merah. Wanita itu marah karena Kevin telah menolaknya. Padahal sebelum mengenal Kartika hubungan keduanya sangat dekat. Walaupun Kevin belum pernah mengutarakan perasaannya. Tapi Ati cukup yakin jika pria di depannya itu sempat memujanya. Itu terbukti jika ia meminta bertemu Kevin tidak pernah menolak untuk menemuinya.


"Tapi perasaanku padamu tak pernah berubah."


Ati menatap mata pria di depannya yang kini terasa jauh.


"Carilah pria lain yang lebih menyukaimu tapi bukan aku."


Mendengar perkataan Kevin yang menyakitkan hatinya, Ati memutar tubuhnya berlari ke arah pintu. Hatinya perih. Pria yang di harapkan sepertinya tidak akan bisa di rengkuhnya kembali. Kevin betul-betul sudah berubah. Dan itu semua karena Kartika.


Tika, Kartika. Aku sangat membencimu karena kamu Kevin tidak pernah melirikku lagi. Aku ingin kamu lenyap, cepat makan masakanku. Menyingkir lah dari hidupku untuk selamanya.


Ati terus berlari hingga tiba di parkiran, Wanita itu buru-buru masuk ke dalam mobil, melanjutkan tangisnya dengan bertumpu pada stir mobil. Ati meluapkan seluruh emosinya, menangis sepuasnya.


Setelah puas menangis Ati melajukan mobilnya di jalan raya, berhenti di sebuah bar.


Ati duduk memesan minuman, pelayan memberikan satu botol minuman yang di pesannya.


Ati menuang minuman ke gelas dan meneguknya. Tidak cukup satu gelas wanita itu menambahkan lagi minumannya ketika gelasnya kosong. Kepalanya mulai di rasa pusing, pandangannya mulai samar.


"Sudah hentikan Nona, kau sudah minum banyak. Bisa-bisa kau tidak sadarkan diri di sini. Tidak takut kah kamu?"


Ati menatap wajah pria yang baru saja mengingatkan dirinya. Namun, wanita itu tidak peduli. Ati sengaja datang ke sini untuk menenangkan diri bukan untuk mendengar celotehan dari seseorang.


Ati tetap menuangkan minuman ke dalam gelas meneguk isinya lagi. Ketika akan berdiri untuk menyudahi minumannya. Ati terjatuh dari kursi pria dengan rambut lurus berwajah mirip artis Korea memegang tangannya berniat ingin menolongnya. Namun, sesaat ke mudian Ati tidak sadarkan diri karena mabuk. Pria itu membawa Ati ke dalam mobil miliknya. Sesaat pria itu memperhatikan wajah Ati.


"Wanita ini lumayan cantik juga," gumamnya.


Karena bingung harus membawanya kemana, ia memberanikan diri membuka tas yang tas selempang di pundak Ati. Pria itu mencari tanda pengenal untuk mengantarnya pulang. Setelah membongkar semua isi tas didapatinya sebuah KTP di bacanya dan memasukannya lagi ke dalam dompet.


Pagi hari di saat bangun tidur Ati meringis menahan sakit kepala yang tidak tertahankan. Ati pun memegangi kepalanya, kembali kembali berbaring.


Mungkin hari ini Ati harus bolos tidak bisa pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah hari ini.

__ADS_1


Kret


Terdengar pintu di buka dari luar, Ati memalingkan tatapannya melihat siap yang memasuki kamarnya.


Tampak di ambang pintu ibunya mulai melangkah masuk, kemudian duduk di sisi tempat tidur.


"Kemarin dari mana saja, memalukan pulang di antar laki-laki dalam keadaan tidak sadarkan diri, "omel Mery


"Aku pingsan dan di antar laki-laki?"


Ati tertegun mengingat kejadian tadi malam. Seingatnya Ati merasa kesal, marah pada Kevin setelah itu, pergi ke clab untuk menenangkan diri. Lalu di sana ia sempat  berselisih paham dengan seseorang yang tidak tahu siapa namanya.


Mungkinkah dia yang mengantarku pulang?


Ahgh itu tidak penting, yang penting dia tidak bertindak kurang ajar. Sepertinya dia lelaki baik. Namun, sayang aku tidak tertarik padanya.


"Kamu tidak ingat? sebetulnya dari mana pulang bau minuman, kamu habis clabing?"


"Ibu, namanya juga anak muda wajar lah kalau ke clab sesekali."


"Tapi ibu malu pada kakekmu. Bukankah kamu yang di bangga-banggakan kakek, eh kenyataannya kamu tidak lebih baik dari Kartika."


"Sudah ibu kepalaku sakit." Ati menutupi wajahnya dengan bantal. Ati tidak ingin mendengar Omelan Mery.


Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Mery menjawab masuk, pintu di buka dari luar, Titin membawakan nampan berisi air madu untuk meredakan rasa pusing dan mual efek dari minum beralkohol.


"Minumlah air madu ini supaya rasa pusing dan mual segera hilang."


Titin meletakkan nampan di nakas dekat tempat tidur.


"Terima kasih, Kak."


Walaupun sebetulnya enggan mengatakan terima kasih tapi berkat dirinya Mery tidak usah repot membuatkan air madu.


Pun Titin sebetulnya hanya kasihan melihat Ati kemarin yang tiba di antar oleh seorang pria dan dalam keadaan tidak sadar. Itu cukup membuktikan bahwa Ati tidak sebagus yang terlihat dari luar.

__ADS_1


Berbeda dengan putrinya yang berlaku baik di luar maupun di dalam rumah, tetapi tetap saja tidak ada yang menyanjungnya selain dirinya, suami dan adiknya. Dimata mereka Kartika tetaplah orang lain. Bukan bagian dari keluarga. Mengingat itu Titin sering menitikkan air mata. Karena tidak bisa melindungi anaknya dengan baik. Mungkin benar sudah takdir Kartika harus hidup dengan orang- orang yang hanya membenci dirinya bukan menyayanginya.


Setelah meletakkan nampan Titin meninggalkan ibu anak yang masih berada di kamar.


__ADS_2