
Kartika menatap pria yang duduk di depannya.
"Paman, lihatlah aku.Aku baru saja tadi malam menikah. Pestaku yang sangat meriah beralih menjadi penderitaanku sekarang. Belum lagi tadi aku di permalukan seseorang di pasar. Aku sudah tidak punya tempat untuk kembali."
"Itu tidak benar. Keluarga tetap keluarga. Percayalah ucapanku."
"Baiklah jika paman sudah tak mengijinkan Aku tinggal. Aku tak bisa memaksa. Terima kasih untuk semuanya. Semoga nanti Allah membalas kebaikan paman padaku."
Pria tua itu menatap Kartika, sebetulnya dirinya sangat kasihan melihat keadaan Kartika. Namun, ia takut jika perbuatannya di ketahui orang lain. Pria itu takut jika ada yang melaporkan tindakannya yang menolong wanita itu.
Kartika meninggalkan rumah yang baru saja di disinggahinya. Pria tua membuntuti Kartika dari kejauhan. Ia khawatir wanita muda yang ditolongnya akan di ganggu pemuda berandalan karena di daerah dekat tempat tinggalnya rawan.
Setelah memastikan Kartika keluar dari lingkungan dengan aman. Pria tua itu membiarkan Kartika melanjutkan langkahnya sendiri.
Kartika terus berjalan entah sudah berapa puluh meter Ia lalui untuk sampai ke rumah kakeknya.
Tiba di depan pintu gerbang Kartika mematung. wanita itu bimbang harus masuk atau berbalik arah.
__ADS_1
Dalam kekalutan hati, sebuah mobil berhenti. Rupanya itu mobil Halim. Dia segera keluar berjalan setengah berlari menghampiri Kartika.
"Tika," panggilnya.
Wanita dengan gaun pengantin lusuh itu menoleh, Kartika kaget melihat Halim keluar dari mobil berlari ke arahnya.
Halim memegang pergelangan tangan Kartika.
Sementara di dalam rumah Ati melihat Kartika yang berada di pintu gerbang dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas.
Ati berteriak sekeras yang ia bisa. Ia sengaja melakukan hal itu supaya Kartika mendapatkan hukuman dari Dahlan yang sangat menyayanginya.
Dahlan yang mendengar teriakan Ati segera keluar dari ruang kerjanya.
Kartika tidak mempedulikan Halim yang menghadangnya ia menerobos masuk. Ketika sampai di halaman rumah wanita bergaun pengantin langsung memeluk ibunya.
"Kamu dari mana saja! Dimana suamimu?" Titin memeluk dan mengusap punggung putrinya yang menangis.
__ADS_1
Kartika menjawab dengan terbata di sela Isak tangisnya, "Kevin meninggalkanku, Bu."
"Apa?" tangannya teplek menutup mulutnya.
Dahlan menarik tangan Kartika dengan kasar sehingga pelukan keduanya terlepas.
Tanpa basa basi Dahlan menampar pipi mulus Kartika berkali-kali hingga wanita bergaun pengantin bersimpuh memohon ampun dengan memegang kaki Dahlan untuk meminta maaf. Namun, permohonannya tidak di hiraukan Kakeknya. Dahlan menendang bahu Kartika dengan kakinya berkali-kali. Wanita muda dengan baju pengantin meringis dan menangis. Pasti rasanya sakit hingga meninggalkan luka memar di balik bajunya.
Melihat perlakuan dari kakeknya Halim dan Royadi yang baru datang menghadang untuk menghentikan tindakannya supaya tidak bertindak kejam terhadap putrinya.
"Jika, Ayah berlaku buruk terhadap putriku. Aku akan meninggalkan rumah ini." ancam Royadi pada ayahnya.
"Kakek ijinkan aku menikahi Kartika," pinta Halim tiba-tiba sehingga mengejutkan semua orang. Semua mata menatap Halim.
"Nak, kamu sudah gila! Jangan membahayakan nyawamu. Kasihanilah ibumu ini." ucap Merry, tak menyangka jika anaknya akan memohon sesuatu yang membuat murka sang mertua.
"Apa-apaan ini, jika ingin menikah nanti aku carikan wanita yang lebih baik dari dia," sahut Dedy tidak menyetujui permintaan Halim.
__ADS_1
"Kalian semua tahu tetapi tidak ada yang memberi tahuku. Keterlaluan!"
Dahlan sangat marah karena cucunya juga menyukai Kartika yang bukan cucunya.