Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Permintaan Kevin


__ADS_3

Kevin masih memikirkan perkataan orang yang menemuinya. Ia harus menemukan surat yang ditulis Ibunya supaya yakin dengan perkataan Yusuf.


Bukankah Kartika putri dari Royadi pasti dia tahu sesuatu mengenai surat itu dan di sembunyikan di suatu tempat oleh ayahnya.


Mungkin jika meminta bantuan Kartika untuk menemukan surat itu pasti Kartika bersedia menolongku.


Baiklah aku akan menemuinya, meminta tolong padanya.


Karena dengan itu surat itu bisa segera di temukan, kejelasan yang ku inginkan pasti terkuak.


Kevin tidak konsentrasi ketika berada di kantor. Pria itu memutuskan untuk pulang lebih awal untuk menemui Kartika di rumah Dahlan.


Kevin mengajak Kartika untuk berjalan-jalan dengan menunggangi kuda.


Menikmati pemandangan sore hari di sekitar kebun teh yang tampak hijau.


Angin yang bertiup mengibaskan rambut Kartika hingga menyentuh wajah Kevin. Harum dari sampo menguar memenuhi rongga dadanya.


Kevin memeluk tubuh Kartika dengan tangan yang masih memegang pelana.


Dagu Kevin bersandar pada leher Kartika jenjang perlahan mengecupnya.


Kartika yang sedari tadi diam meliriknya.


Tatapan kedua mata mereka beradu, sementara Kuda yang mereka naiki tetap berjalan pelan. Membawa keduanya menikmati suasana alam yang romantis.


Kevin menarik pelana kuda ketika sampai di sisi tebing tempat paforit keduanya.


Kevin membantu Kartika untuk turun dari kuda.


Kartika membentangkan kedua tangan seolah menikmatinya angin yang menerpa dirinya. Angin memainkan rambut dan gaunnya sehingga berkibar- kibar.


Kartika perlahan berjalan menaiki tangga kemudian duduk di kursi menatap pemandangan alam yang sejuk.


Kevin menambatkan tali kekang kuda kemudian berjalan menghampiri Kartika. Duduk di sebelahnya


"Kamu tahu tentang sesuatu yang ayahmu sembunyikan beberapa tahun lalu?"


"Tentang apa?"


Kartika balik bertanya karena ayahnya tidak pernah membahas tentang surat yang di tanyakan Kevin .


"Surat itu tentang masa laluku dan juga ibuku. Kau ingat dengan perkataan ibumu tentang cincin yang ku sematkan di jarimu."

__ADS_1


"Iya. Aku ingat, Aku pun penasaran dengan yang di katakan ibu, jika benar kamu anaknya kamu harus memanggilnya ayah. Lantas status pernikahan kita bagaimana? Bukankah saudara satu darah haram menikah?"


"Iya, makanya bantu aku untuk mengungkap jati diriku. Itu akan membuat semuanya jelas."


"Aku sedang mengandung anakmu bagaimana ini?"


Kartika mengusap perut dengan telapak tangan kanannya.


"Jangan panik dulu, aku pun sama bingungnya denganmu akan semua ini."


"Kamu bisa menggeledah kamar ayah dan ibumu untuk menemukan surat itu. Kamu bisa kan melakukannya? Walaupun tindalan ini kurang sopan tapi memang hanya cara ini yang bisa kita lakukan. Jika bertanya langsung apa mereka akan berkata jujur, tidak bukan?"


"Baik, akan ku coba saranmu. Jika aku tidak menemukannya baru aku akan bertanya langsung begitu kan maksud mu?"


"Baguslah jika kamu paham."


Keduanya bertatapan kali ini keduanya menjadi canggung teringat perkataan yang baru saja mereka bahas.


Jika keduanya kakak beradik maka pernikahan mereka tidak di bolehkan dan bagaimana keduanya harus melanjutkan hidup dengan status kakak adik yang menikah. Pasti akan menjadi bahan hinaan dan caci maki dari warga sekitar.


Walaupun keduanya saling mencintai tapi jika terbukti semua yang sudah terjadi adalah salah.


Kevin dan Kartika sama-sama terdiam larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Karena hari telah terlalu sore Kevin mengantar Kartika untuk pulang ke rumah Dahlan karena keduanya memang tinggal terpisah.


Dengan hati-hati wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci.


Kartika mulai mencari dari atas meja kerja, membuka berkas yang tersusun rapi tapi tidak menemukan nya. Wanita itu beralih membuka lemari baju, keranjang baju yang ada di pojok lemari tetep tidak menemukan benda yang di maksud. Langkah Kartika beralih menatap ranjang. tangan Kartika mengangkat kasur melihat di bawahnya walaupun tidak bisa terangkat semua karena berat. Kartika melihat dari sisi kanan kiri. namun, tetap tidak menemukan apa-apa. Kartika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dimana lagi harus mencari benda itu? Kartika duduk di sisi ranjang. Tangan Kartika meraih bantal untuk merapikannya ketempat semula.


Mungkinkah ada sesuatu di balik sarung bantal ini?


Itu mungkin saja karena semua tempat yang sudah di cari tidak ada.


Dengan perasaan yang tidak karuan Kartika merogoh satu persatu bantal yang ada di tempat tidur.


Satu bantal tidak menemukan, kemudian ia meraih bantal kedua membuka lipatan dan memasukan tangannya. Tangannya menyentuh sesuatu di bagian bawah ujung bantal Kartika mengambilnya. Ternyata benar wanita itu menemukan surat yang di katakan Kevin. Kartika buru-buru memasukan kertas tersebut ke dalam saku bajunya dan merapihkan semua barang-barang yang sudah di acak untuk menghilangkan jejak.


Setelah itu Kartika melangkah keluar untuk membuka pintu dan menutupnya kembali. Detak jantung Kartika tidak karuan karena menahan takut dan was-was jika ke kepergok Royadi atau pun Titin. Kartika menarik nafas panjang akhirnya bisa bernafas dengan benar setelah dari tadi was-was dan cemas.


Tiba di dalam kamarnya Kartika duduk di sisi tempat tidur. Wanita itu mengeluarkan kertas putih dari balik kantong roknya.


Perlahan Kartika membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas yang berada dalam tangannya.

__ADS_1


Suamiku Royadi


Aku sedang dalam bahaya mohon kiranya kau menolong aku dan anakku, bawalah aku keluar dari rumah ini.


Sekarang aku menjadi tawanan dan harus menurut dengan apa yang mereka perintahkan padaku.


Kau ingat dengan nama yang ingin ku berikan pada anak kita jika lahir nanti.


Namanya Kevin. Aku berharap dia menjadi anak yang lembut seperti malaikat Ridwan penjaga pintu surga.


Dia mempunyai tahi lalat di leher belakangnya.


Aku di lecehkan, aku sudah tidak tahan jika kamu tidak datang aku akan bunuh diri saja.


Tolong aku


Humaira


Kartika tertegun dengan isi surat yang baru saja di bacanya.


Berarti benar Kevin adalah kakaknya dari ayah yang sama. Dan seharusnya tidak menikah karena ada pertalian darah.


Kartika menangis histeris karena kesal sekaligus tidak percaya. Bagaimana bisa kedua orangtuanya membiarkan semua ini terjadi terlebih dirinya kini sedang hamil.


Apa dosa dirinya pada kedua orang tuanya sehingga nasibnya begitu naas.


Kartika menangis sesenggukan dan histeris sehingga Titin menghampiri kamar putrinya dengan terburu-buru.


Ketika tiba di pintu kamar Titin langsung membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


Titin mendapati anaknya tengah menjambak rambutnya dengan kesal.


Wanita itu segera meraih tubuh putrinya ke dalam pelukannya.


"Ada apa sehingga kamu menangis seperti ini?"


"mengapa Ibu menyembunyikan ini."


Suci melepaskan pelukan dan meraih kertas yang tergeletak di atas tempat tidur menyerahkannya pada Ibunya.


Titin kaget melihat surat yang di sembunyikan kini ada di tangan putrinya.


Dari mana Kartika bisa tahu jika dirinya menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Bahkan Royadi pun belum aku beri tahu jika anaknya masih hidup dan menjadi suami Kartika.

__ADS_1


Titin berusaha bersikap biasa wajahnya kembali seperti sedia kala.


"Ibu bisa jelaskan ini?"


__ADS_2