Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Bubuk putih


__ADS_3

Merasa dirinya harus membalas tindakan Royadi yang telah membunuh ibu dan Ayahnya. Namun, pada kenyataannya setelah traumanya sembuh Evi baru sadar perbuatannya itu  ternyata salah. Evi tidak sengaja menguping pembicaraan Yayah dan Titin kemarin sadar, ternyata  Royadi hanya difitnah oleh ibunya.


Evi juga baru mengetahui ternyata Royadi adalah ayah dari kakaknya dan perkalian darah dengan nya hanya sebatas saudara, karena dirinya benar anak dari Salamah sedangkan Ridwan anak dari Royadi.


Karena di besarkan dalam lingkungan yang sama keduanya menjadi dekat hingga saat ini.


Salamah menyembunyikan status dirinya sebagai anaknya. Melimpahkan status dirinya pada Yayah sebagai anaknya. sebagai bentuk untuk melindungi dirinya dari gangguan keluarga Dahlan. Itu menurut penuturan Salamah yang tidak sengaja Evi dengar.


Sebenarnya Salamah itu dendam dengan siapa sehingga banyak melibatkan banyak orang yang tersakiti olehnya.


Ibunya juga sempat cerdas ketika Evi keluar rumah, bertemu dengan salah satu keluarga Dahlan yang menolongnya.


Apakah ada yang tahu jika dirinya bagian dari keluarga Salamah. Padahal menurutnya keluarga itu ramah dan baik. Tidak ada yang berkata kasar ketika dia di bawa oleh Dedy dan sempat bersantap malam bersama.


Keluarga di sana hangat tidak seperti di sini penuh dengan ketegangan demi ketegangan terjadi silih berganti.


Evi pun sempat melihat Halim yang duduk berdua dengan Renata entah sedang membicarakan apa waktu itu, tapi yang ia tahu Renata tidak suka dengan Kartika dan Halim pun menyukai Kartika, ingin menyingkirkan Kevin yang menurutnya sebagai penghalang.


Halim yang mengejar Kartika mati-matian untuk mendapatkan cintanya tidak pernah berbalas hingga detik ini. Pun Renata, Kevin telah menceraikan dirinya tersebab Renata menunjukan foto pernikahannya sehingga membuat Kevin murka.


Apa yang bisa ku perbuat sekarang supaya kedua keluarga ini rukun kembali?


Evi menatap dinding kamar, malam ini wanita itu tidak bisa memejamkan matanya yang sebenarnya lelah. Pikirannya jauh menerawang kehidupannya yang sedang di jalaninya.


"Kevin .... Kevin ...."


Teriakan Kartika mengagetkan penghuni yang berada di dalam rumah Salamah, semua orang bertanya-tanya mengapa Kartika berteriak di luar pintu gerbang.


Kevin yang memang mendengar suara Kartika langsung berlari keluar, menyuruh penjaga untuk membuka pintunya.


Ketika pintu terbuka Kartika langsung memeluk Kevin, sehingga pria itu tampak kaget sekaligus senang. Baru kali ini Kartika bersikap manis padanya.


Kevin melepaskan pelukannya memegangi kedua lengan Kartika


"Ada apa, tidak biasanya kamu bersikap seperti ini?" tanya Kevin heran.


"Ada yang mau kukatakan kepadamu."


"Masuklah dulu," pinta Kevin pada Kartika. Karena sebenarnya pria itu sangat rindu pada istrinya. inginkan Kartun Kartika tinggal lebih lama untuk beberapa saat. Karena keduanya tinggal terpisah.

__ADS_1


Kevin memegang pergelangan tangan Kartika, membawanya masuk, berjalan berkeliling melihat kuda peliharaannya.


Kartika menghampiri salah satu kandang kuda dan mengelus kepala sang kuda dengan lembut.


"Kamu ingin menaikinya?"


"Ingin tapi ---."


Kartika menggantung perkataannya sehingga membuat pria di depannya penasaran. Segera menanyakan kelanjutan dari kalimatnya itu.


Kartika menghampiri Kevin, berbisik di telinganya.


"Aku sedang hamil!"


Kevin sangat gembira mendengar pengakuan Kartika, tanpa sadar dirinya memeluk Kartika.


Kartika tersenyum lebar melihat perlakuan Suaminya.


Kevin melepaskan pelukan membuka kandang kuda, ia menuntun tali kekang kuda dan kemudian menyuruh Kartika untuk menaikinya.


Kartika terlihat bingung menatap tahu dirinya sedang berbadan dua tapi mengapa mengajaknya untuk berkuda.


Ridwan yang paham akan raut wajah Suci pun berkata,


Kevin mengusap rambut kuda yang di pegang tali kekangnya.


"Baiklah, tidak usah berlari, ya?"


Kartika memastikan lagi ucapan Kevin .


"Iya, sayang."


Kartika tersenyum raut wajahnya merona karena di panggil sayang oleh suaminya.


Keduanya menaiki kuda, Kartika duduk, sementara Kevin memegang kendali kuda.


Kuda berjalan pelan menyusuri lapangan kuda.


"Tinggallah di sini saja supaya aku melihat perkembangan bayi kita."

__ADS_1


"Aku pun ingin, tapi apakah mereka akan merawatku seperti ibuku?"


"Ada Yayah yang bisa kita percaya."


"Baiklah, kalau kamu memaksa."


Kartika meminta Kevin untuk menelpon ibunya, memberitahu Jika dirinya tidak bisa pulang, ingin tinggal di rumah Kevin.


Sebetulnya dalam hati Titin tidak mengijinkan Kartika di bawa ke rumah Kevin. Titin khawatir dengan keadaan Kartika yang lemah. Tapi karena Kartika sudah bukan tanggung jawabnya lagi melainkan tanggung jawab Suaminya. Titin pun memberikan ijin dan meminta Kartika untuk datang berkunjung ke rumahnya sesekali. Kartika mengiyakan permintaan ibunya. dengan mengangguk


Hari pertama di rumah Kevin terasa lama karena Kartika tidak mempunyai teman untuk berbincang, sedangkan Kevin meninggal dirinya untuk bekerja, mengurus perusahaannya.


"Nona, apakah nona ingin makan sesuatu?" tanya Yayah yang melihat Kartika membolak-balik majalah, duduk di ruang tamu.


"Aku ingin sesuatu yang asam, seger, manis. Kira-kira apa, ya?"


"Rujak, mau?"


"Hem, ya itu sepertinya seger, tapi jangan terlalu pedas karena aku tidak begitu suka pedas."


"Baiklah, akan saya buatkan."


"Maaf, merepotkan."


"Tidak, itu sudah kewajiban saya untuk melayani tiap anggota keluarga di sini."


Yayah pamit dari hadapan Kartika untuk membuat  rujak permintaan majikan mudanya.


Sementara itu di rumah, Ati sedang asyik memasak makanan. Tidak biasanya Ati mau berkutat di dapur. Entah setan apa yang merasukinya hingga wanita anggun dan juga angkuh itu ada di dapur menggunakan celemek. Berkutat dengan wajan untuk membuat semur daging kesukaan seseorang.


Sebenarnya Ati tidak pandai memasak oleh sebab itu Ati meminta bantuan Minah untuk membimbingnya memasak, Walaupun Minah tak suka pada majikan mudanya itu tetapi dia tetap mau membantunya demi kebaikan. Supaya ilmu yang di dapatkannya berkah.


Minah menyiapkan daging sapi yang sudah ia iris dan tinggal di rebus hingga empuk, setelah itu di buang airnya dan di tiriskan terlebih dahulu.


Minah menyiapkan bumbu di bantu oleh Ati dengan memblender bumbu dan rempah.


Kemudian di masukankan ke dalam wajan besar di tambahkan air dan kecap di ungkep lagi hingga air menyusut dan siap untuk di hidangkan. Tak lupa taburan bawang merah supaya tambah wangi.


Setelah selesai memasak Ati menyuruh Minah untuk meninggalkan dirinya. Biar dia sendiri saja yang menyiapkan wadah dan semacamnya untuk di kemas.

__ADS_1


Ati mengambil sebuah twinwall berukuran sedang, kemudian menuangkan masakan yang telah di masaknya, Ati merogoh sesuatu dari dalam celemek nya sebuah plastik berukuran kecil, berisi serbuk putih, ia menuangkan seluruh isinya ke dalam masakan yang telah di buatnya dan mengaduknya kembali untuk menghilangkan jejak.


Setelah selesai Ati menutup wadah tersebut dan meletakkannya di atas meja.


__ADS_2