
Kartika membawakan bubur ayam buatannya ke hadapan Kevin. Menaruh nampan diatas meja dan membantu Kevin untuk duduk.
"Cicipi lah jika tidak enak tidak usah di makan, puasa saja!"
Kevin menatap Kartika yang sedang mengaduk bubur, mengangkat sendok ke dekat bibirnya.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Kevin menelannya.
"Hem, ini enak."
"Benarkah."
Mata Kartika berbinar mendengar pujian pria di depannya. Wajahnya merona merah. Tak sia-sia dirinya membuatnya dengan susah payah.
Sesuap demi sesuap bubur di dalam mangkok berpindah ke dalam perut Kevin hingga tandas semua isinya.
Kartika menyodorkan gelas berisi air putih hingga menyentuh bibir Kevin, meneguk air putih hingga tandas pula.
Benci dan dendam bisa saja berubah menjadi cinta. Janganlah membenci sesuatu karena itu baik bagimu.
Kartika menepis pikiran yang berkelebat di dalam hatinya.
Tidak semua yang dirinya lakukan karena kasihan tidak ada rasa lain selain itu.
__ADS_1
Aku belum melupakan atas apa yang dia perbuat padaku. Yang kulakukan hanya sebatas perikemanusiaan.
Sementara Ilham terkejut tidak menyangka jika Kartika akan menjatuhkan dirinya ke sungai. Kevin pun tak membiarkan Kartika jatuh. Kevin menyusul menceburkan dirinya ke sungai untuk menyusul Kartika.
"Sial! bagaimana aku harus mengatakannya pada Salamah, jika Kevin terbawa arus demi menyelamatkan Kartika."
Ilham menatap sungai di bawah sana yang sudah menghanyutkan kedua majikanya. Lelaki itu mondar mandir bingung apa yang harus di lakukannya.
Ponselnya tiba-tiba berdering terpaksa ia merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Dengan tatapan yang masih tertuju ke bawah. Ilham menjawab panggilan sang ibu di sebrang sana.
"Ya ibu."
"Kamu di mana nak? Tidak pulang untuk makan siang?"
"Tidak ibu, aku masih sangat sibuk."
"Berikan padaku!" pinta Salamah pada pembantu kepercayaannya.
Yayah memberikan ponsel pada majikannya dengan tangan yang gemetar.
"Dimana Kevin?"
Ilham kaget suara ibunya berubah menjadi suara majikannya. Namun, ia berusaha menjawab pertanyaan Salamah dengan tenang.
__ADS_1
"Di mana Kevin? Kamu dan Kevin di besarkan bersama tidakkah kau menganggap ku nenekmu juga!"
Salamah bertanya sekali lagi, mengingatkan Ilham atas status dirinya di rumahnya.
"Kami sedang mencari Kevin yang terjun ke sungai bersama Kartika"
"Apaaa, Wanita itu lagi. Cari sampai ketemu kerahkan semua pengawal?"
"Baik."
Sambung telpon terputus. Ilham memasukan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Ia naik ke mobil, menatap sekilas ke arah Halim yang sedang termenung menatap ke bawah aliran sungai.
Ilham hendak berputar mencari jalan supaya bisa mencari Kevin dan Kartika setelah sebelumnya menelpon pengawal teman sesama timnya. Agar mencari keberadaan mereka di sekitaran sungai.
"Semoga keduanya selamat dan bisa cepat di temukan." Ilham berdoa di dalam hatinya.
Hari sudah bertambah gelap tapi tanda dari keberadaan Kevin dan Kartika belum menemukan titik terang.
Sementara itu Halim menelpon Royadi selaku ayah dari Kartika. Halim mengabarkan jika dia sudah menemukan Kartika. Namun di tengah jalan Kartika bertemu dengan Kevin kemudian menceburkan diri ke sungai.
Royadi meminta alamat supaya dia bisa ikut untuk mencari putrinya. Halim pun mengirimkan alamat yang di minta pamannya. Tidak berselang lama Royadi, Dedy dan para pengawal sudah datang dan mulai menyisir area sungai tempat dimana keduanya terjun dan hanyut.
Royadi menemukan ikat rambut Kartika yang biasa di pakainya. Dedy menghampiri dan mengajaknya untuk beristirahat terlebih dahulu karena hari sudah gelap sulit untuk terus melanjutkan pencarian. Royadi menuruti ajakan sang adik walaupun sebenarnya dalam hati tidak setuju. Tapi betul perkataannya hari sudah mulai malam pandangan mata terbatas untuk melihat. Jalanan yang berbatu terlalu berbahaya di malam hari. Bisa-bisa tergelincir dan terbawa arus pula.
__ADS_1