Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Ingin ku singkirkan


__ADS_3

Sementara Kevin yang menunggu Kartika tampak gelisah, beberapa kaki Kevin melihat arloji yang melingkar di lengan kanannya. Sudah 20 menit lebih tetapi Kartika belum kembali. Apakah terjadi sesuatu? Tetapi aku tidak mendengar apa-apa. Sebaiknya aku mencarinya terlebih dahulu.


Kevin beranjak dari tempatnya bersembunyi di balik tembok. Hatinya merasa cemas memikirkan Kartika yang belum juga kembali menemuinya. 


Bukankah tidak ada yang tahu hanya Ati saja, gerutu Kevin dalam hati. Sudahlah tidak usah banyak berpikir cari saja dulu sebelum terlambat.


Kevin terus melangkah samar terdengar suara dari sebuah ruangan. Lelaki berjas hitam menajamkan pendengarannya.


"Tidak salah lagi itu suara Kartika" bisiknya dalam hati. 


Perlahan Kevin membuka pintu yang tidak di kunci.


Dua orang yang sedang bersitegang  membalikan badan melihat siapa yang datang.


"Diam di tempat, jatuhkan senjatamu!"


Dahlan menodongkan pistol ke arah Kartika dan Kevin.


"Kakek bukankah aku ini cucumu? bukankah kakek pernah berjanji akan menepati janji untuk menjadikanku seorang guru. Namun, mengapa dirimu malah ingin melenyapkan ku Apa salahku? Beritahu aku sebelum menembak ku?"


"Diam, sudah cukup kau mempermalukan keluarga ini, aku akan melenyapkan kau berdua." 


Dahlan masih menodongkan pistol ke arah Kevin dan Kartika bergantian. 


"Ternyata tadi itu bukan mimpi, benar ada Kakak." 


Tiba-tiba Mentari muncul dari balik pintu dan memeluk kaki Kartika dan Kevin bergantian.


Ketiganya kaget, sekaligus senang teryata Mentari terlihat baik-baik saja.


Dahlan menurunkan pistol yang di arahkan pada Kevin dan Kartika sebelum gadis kecil itu sempat melihat apa yang lakukannya. Dahlan tidak ingin cucu kecilnya mengetahui tindakan buruknya. Dahlan memasukan kembali pistol ke balik jasnya. Berdiri mematung di sebrang meja. Yang memisahkan jarak antara Kevin dan Kartika dengan dirinya.


Dahlan memperhatikan Mentari yang berbicara dengan Kartika dan Kevin. Wajahnya terlihat ceria dan menggemaskan.


"Kakak ajak aku pergi ke rumah barumu?"

__ADS_1


"Nanti ya, sayang jika dirimu telah pulih akan Kakak ajak."


"Janji," ucap Mentari mengulurkan jari kelingking ke arah Kartika yang berjongkok memposisikan supaya bisa sejajar dengan Mentari. Dua buah jari saling berkait, keduanya mengembangkan senyum.


"Kakek sungguh baik membawakan Kakak ke sini untuk menjengukku."


Kartika dan Kevin saling bertatapan membiarkan Mentari berbicara sesuai yang ia lihat tanpa tahu kejadian apa di balik itu.


"Apa pun itu, Kakek akan memberikannya demi kau sehat kembali." 


Mentari berlari ke arah Dahlan memeluk kakinya. Dahlan membungkukkan badannya untuk menggendong Mentari. Dahlan memberikan kode pada Kartika dan Kevin untuk segera pergi meninggalkan kediamannya.


Keduanya saling bertatapan, Kevin meraih tangan Kartika menuntunnya untuk keluar meninggalkan rumah Dahlan.


Ketika berpapasan dengan Dahlan, Kevin tetap waspada tatapannya tetap tajam mengarah pada pria tua di depannya. Kevin tidak menginginkan sesuatu yang buruk akan menimpa mereka berdua.


Mentari melambaikan tangan dalam gendongan Dahlan. 


Hingga keduanya bisa melewati pintu gerbang dengan aman.


"Terima kasih, sudah menjagaku ke rumahku hari ini."


Kartika menunduk kan wajahnya yang memerah. Tidak bisa di pungkiri dirinya merasa senang dengan jawaban Kevin yang mengakuinya sebagai istrinya. Tapi, di sisi lain hatinya masih tidak bisa menerima dan memaafkan sang suami yang meninggalkan dirinya saat itu.


Matahari terpantul dari jendela kamar, seorang wanita masih tergolek di atas tempat tidur. Karena silau Kartika membuka perlahan matanya. Kemudian duduk di tempat tidur matanya menatap jendela yang masih tertutup tirai. Dengan malas Kartika memaksakan untuk turun dari tempat tidur dan menyibak tirai gorden. Berdiri mematung teringat kembali akan kejadian tadi malam ketika dirinya mencoba menemui adiknya dan bertemu dengan kakeknya pula. Kartika tidak habis pikir mengapa kakeknya ingin melenyapkan dirinya padahal dirinya cucunya juga. Pasti ada yang kakek sembunyikan sehingga kakek tidak mau mengakuinya sebagai cucunya. Ya aku harus mencari tahu sendiri. Sebenarnya ada apa?


Aku di sini tidak tahu apa--apa, wanita itu juga mengatakan balas dendam. Sebetulnya ada masalah apa dengan keluarga ini.


Kevin ..., ya dia juga mengatakan bahwa dirinya juga ingin membalas dendam sehingga menikahi ku yang merupakan anak dari Royadi. Orang yang telah melenyapkan ayah dan ibunya. Tapi itu tidak mungkin! Aku harus mencari tahu sendiri sebenarnya ada apa. Sehingga aku ikut terlibat di dalamnya. Menjadi korban dari ketidak Adilan yang tidak ku ketahui.


Kartika keluar dari kamar bermaksud ingin mencari Kevin. Namun, Kartika tidak tahu harus mencarinya ke mana. Kartika terus berjalan hingga tiba di dapur tempat para pembantu sedang memasak dan menyiapkan hidangan untuk sarapan. Kartika memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf, dimanakah kamar Kevin?"


Seorang pembantu agak muda menjawab pertanyaan Kartika dengan menunjuk sebuah kamar yang tidak jauh dari dapur. Pintunya masih tertutup rapat.

__ADS_1


Kartika mengucapkan terima kasih, segera berlalu dari dapur melangkah menghampiri pintu kamar yang masih tertutup rapat yang di tunjukan pembantu itu.


Sampai di depan pintu Kartika memanggil nama Kevin berkali-kali.


"Kevin ..., Kevin ....!"


Kartika menunggu. Namun, tidak ada jawaban sehingga Kartika memberanikan diri untuk menyentuh gagang pintu menekan dan membukanya.


Rupanya pintunya tidak di kunci. Kartika membuka pintu itu dengan lebar. Kartika terkejut ketika melihat ada seorang wanita sedang menyisir rambut di depan cermin. 


"Dimana Kevin?"


Wanita yang sedang menyisir rambut menoleh ke arah Kartika, meletakkan Sisir yang sedang di pegangannya di atas meja riasnya. Wanita itu bangkit dari duduk menghampiri Kartika.


"Ini kamarku! Oh kamu, jika kamu tahu siapa aku? kamu pasti akan bersujud di kakiku untuk meminta maaf."


"Untuk apa aku berlaku seperti itu?"


"Lihat ini."


Renata menghampiri sebuah box pakaian dan membukanya, ternyata isinya baju-baju bayi yang sangat lucu dan berwarna warni. Renata mengambil sebuah jaket rajut berwarna biru memperlihatkan pada Kartika


"Lihat ini, sudah lama aku membuat ini supaya aku bisa menjadi seorang ibu. Namun, apa kamu menghancurkannya begitu saja."


Kartika mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Renata padanya.


"Maaf, aku sama sekali tak paham dengan apa yang kamu katakan."


"Dari gadis aku berusaha untuk mendapatkannya. Setelah kini tinggal satu atap apa yang dia berikan padaku hanya rasa sakit."


Renata menunjuk dadanya hingga air mata menetes di pipinya. Sepertinya wanita di depannya sangat terluka tapi pada siapa Kartika tidak paham apa yang sedang di bicarakan Wanita di depannya. Kartika tadi hanya mencari Kevin, tetapi ternyata salah kamar.


Kartika memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Kartika merasa bingung dengan perkataan Renata yang sama sekali di pahami nya.


Yang dirinya tahu sepertinya wanita itu sangat marah pada seseorang entah pada siapa.

__ADS_1


Renata sangat kesal hingga mengobrak abrik seisi kamar. Kamar yang tadinya tertata rapi menjadi seperti kapal pecah.


Aku ingin menyingkirkannya tapi bagaimana caranya. Kedua tangan Renata terkepal dan kedua matanya merah. Air mata terus mengalir dari sudut matanya.


__ADS_2