
Salamah sedang duduk termenung menghadap jendela, memperhatikan sepasang burung merpati yang sedang kasmaran keduanya mematuk satu sama lain. Melihatnya seperti menjadi hiburan di saat lelahnya.
Salamah memikirkan rencana apa lagi yang akan di buat untuk memiliki seluruh harta keturunan Dahlan.
Salamah ingin menganbil rumah yang di tempati Dahlan. Salamah ingin melihatnya jatuh miskin dan ditinggalkan orang. Seperti dirinya dulu. Salamah sudah berhasil melakukan itu pada Kartika. Namun, rupanya Kartika tidak selemah yang Salamah kira. Kartika rupanya wanita yang kuat secara lahir dan batin berkat dukungan kedua orang tuanya. Tadinya Salamah pikir Kartika akan menyerah tentang Kevin. Namun, semakin jauh mereka saling mengenal semakin erat rasa yang keduanya punya.
Salamah mengajak Dahlan untuk bertemu di sebuah kafe. Dahlan mengiyakan ajakan Salamah karena penasaran ada hal apa yang ingin di bicarakan.
Dahlan sebetulnya curiga karena Salamah mirip dengan istrinya dulu, walaupun kini dia sudah menikah dan mempunyai anak tetapi rasa cintanya lebih besar pada ibunya Royadi bukan pada ibunya Dedy.
Itu yang menjadi sebab Royadi yang duduk sebagai pimpinan perusahaan bukan Dedy sehingga Dedy cemburu dan ingin menyingkirkan Royadi.
Tiba di tempat yang di janjikan sebuah kafe dengan resort diluar gedung dengan pemandangan kebun jati yang indah yang di lengkapi dengan ornamen kursi warna warni dan ayunan menambah suasana menjadi berwarna.
Salamah duduk di ayunan pandangannya lurus ke depan, tidak menyadari jika orang yang diajaknya bertemu telah tiba sedang menatapnya dari kejauhan.
"Kamu sudah lama di sini?"
Dahlan menyentuh bahu Salamah dari belakang sehingga wanita dalam ayunan terkejut untuk sesaat. Wanita itu memalingkan wajahnya.
"Lumayan lama."
"Maaf, tapi sebetulnya apa yang ingin kamu bicarakan?"
Dahlan menanyakan pada inti pertemuannya kali ini.
Salamah beranjak dari ayunan berdiri di dekat pohon. Dahlan berdiri tidak jauh darinya.
Dengan tangan dilipat di dada Dahlan menatap wanita berkerudung merah yang berdiri tidak jauh darinya.
Kini keduanya saling berhadapan.
"Aku ingin membeli rumah yang kamu tempati."
Kedua mata Dahlan membulat sempurna mendengar penuturan Salamah.
"APA ..., aku tidak salah dengar kan?"
"Kurang jelas, baiklah aku ucapkan sekali lagi. Aku ingin membeli rumah yang kamu tempati sekarang!"
"Untuk apa, aku sama sekali tidak ingin menjualnya."
__ADS_1
"Aku membutuhkan rumah itu."
"Tidak akan ku jual, karena itu rumah dari pendahulu kami."
"Itu sebabnya aku menginginkannya."
"Kegilaan apa ini!"
Keduanya masih beradu mulut hingga Salamah keceplosan mengatakan hal yang membuat kedua mata Dahlan membuat Sempurna.
"Karena aku bagian dari rumah itu yang kamu singkirkan."
"Sebetulnya kamu ini siapa?"
"Haruskah aku jujur dan mengatakan semuanya."
"Katakanlah."
Nada bicara Dahlan melembut, pria itu akan coba mendengarkan apa yang ingin di ungkapkan wanita berkerudung merah di depannya.
Keduanya duduk menurunkan emosinya masing-masing.
"Bicaralah!"
"Jadi ternyata benar dugaanku waktu itu, kamu memang istriku."
"Benar aku ingin melupakanmu tapi hingga detik ini tidak bisa. Walaupun aku sempat menikah dan mempunyai seorang putri tapi rasa sakit itu masih ada."
Dahlan terdiam masih menunggu kelanjutan dari perkataan Salamah yang terdiam.
"Kanu ingat ketika kamu meninggalkanku dalam rumah dan rumah itu terbakar. Aku berusaha menyelamatkan nyawaku sendiri walaupun aku panik dan takut. Api yang berkobar dan kayu yang berjatuhan dari atas atap hampir saja menimpaku. Untungnya saat kejadian itu ada seseorang yang menolongku. Kenapa waktu itu kamu tidak datang menemui ku padahal aku sudah menunggumu?"
"sebetulnya aku datang. Namun, saat itu rumah sudah terbakar. Aku pun sempat mecari mu namun, aku tidak menemukanmu. Aku pikir kamu di lahap api karena kesalahanku. Kamu tahukan aku selalu di kelilingi oleh pengawal ayahku dan sama sekali aku tidak bisa berkutik jika ingin menemuimu."
"Karena itu aku ingin membalas semuanya. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi aku dulu. Akan ku limpahkan dendam ini pada cucumu Kartika dan Kevin karena Kevin adalah anak Royadi dan Humaira.
"Kamu segila itu!"
"Iya, aku puas jika semuanya menderita dan hancur bersamamu."
"Kumohon hentikan balas dendammu, biar aku menebus semua kesalah pahamanmu ini dengan apa yang kamu mau?"
__ADS_1
"Tidak bisa, aku belum ingin berhenti."
Karena tidak ada titik temu Dahlan mengalah dan berinisiatif untuk pergi meninggalkan Salamah yang masih duduk di kursinya dengan tenang.
Dahlan menyalahkan dirinya tidak seharusnya dirinya bersikap keras pada Kartika sehingga Kartika menderita seperti sekarang karena ulahnya dulu padahal Kartika bukanlah cucu kandungnya. Tapi mengapa dia yang harus menanggung semua kesalahan di masa lalunya.
Kevin baru tahu jika dia adalah cucu asli darinya. Sungguh kejam dirinya memisahkan dua orang yang saling mengasihi satu sama lain ini. Karena ke tidak tahuan dirinya.
Apa yang harus ku lakukan untuk meredam atau mengalahkan Salamah yang begitu antusias ingin menjatuhkan dan menghancurkan keluargaku. Dahlan berpikir sambil menyetir mobilnya.
Tiba-tiba Evi menerobos masuk ke dalam rumah Dahlan mengatakan ingin bertemu dan bicara dengan Kartika. Namun, orang yang di maksud Evi tidak ada di dalam, Titin mengatakan jika Kartika tinggal di rumah Salamah karena Kevin yang memintanya.
Evi kecewa karena di rumahnya dirinya tidak menemukannya.
Titin kaget mendengar penuturan Evi yang mengatakan jika Kartika tidak ada di sana. Lantas Kartika berada di mana?
Merry ikut menyela pembicaraan dan mengatakan jika Kartika di rawat di rumah sakit karena sakit atas ulah anaknya dan ia pun meminta maaf untuk anaknya Ati.
Titin tidak memberikan kata maaf pada Mery. Wanita itu menjadi khawatir atas penurunan Merry dan bertanya dalam hati, ada apa dengan anaknya?
Titin segera menghampiri telpon yang berada di atas nakas, ia kemudian meletakkan gagang telpon di telinganya dan menekan nomor ponsel Kevin untuk menanyakan keberadaan anaknya.
Kebetulan panggilan tersebut langsung tersambung, di angkat oleh menantunya.
[Dimana Kartika? Apakah dia baik-baik saja?]
Kevin terkejut ketika mertuanya menanyakan keadaan Kartika.
[Kartika baik-baik saja]
Kevin menyerahkan ponsel ke tangan Kartika, supaya Kartika sendiri yang memberitahukan keadaannya.
[Ya, ibu. Ini Tika?]
[Nak, apa kamu baik-baik saja! Ibu dengar kamu ada di rumah sakit]
[Iya, kemarin perut Tika sakit, tapi sekarang sudah agak membaik]
[Ah, syukurlah. Nanti ibu coba kesana setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah]
Titin memutus sambungan telpon, merasa lega untuk saat ini karena anaknya sepertinya baik-baik saja.
__ADS_1
Evi mohon pamit akan datang lagi ketika Kartika sudah ada di rumah itu.
Matanya sekilas melihat Halim yang sedang bercanda dengan Mentari. Jantungnya menjadi tidak karuan dan berdekup lebih kencang. Ia pun berpaling dan segera berlalu dari rumah itu.