
Evi sedang duduk di sisi ranjang kemudian berdiri sesaat kemudian duduk kembali, berdiri lagi duduk lagi terus berulang beberapa kali sepertinya wanita itu sedang gelisah.
Evi ingin mengutarakan perasaannya pada Halim tapi tak berani. Terus dipendam dalam hati sangat menyiksa dirinya.
Evi duduk kembali di tepi tempat tidur mengetuk-ngetuk tumit kakinya di lantai.
Apakah dirinya harus datang lagi ke Dahlan dan meminta bantuan Kartika untuk mengutarakan perasaannya.
Ah tidak itu sungguh memalukan, tapi memang tidak ada cara lain selain itu.
Evi bangkit dari duduknya melangkah keluar dari kamar. Niatnya sudah sudah bulat ingin mengutarakan perasaannya melalui Kartika.
Mungkin dengan begitu Kartika mau membantunya untuk menyampaikan isi hatinya pada Halim. Tapi jika Kartika tidak mau malu lah dirinya karena sudah menemuinya.
Baiklah mulai dengan bismilah, sesuatu yang berawal baik pasti akan berakhir baik pula. Ya seperti itulah Evi percaya dengan pepatah itu.
Evi mengendap-ngendap keluar dari rumah agar tidak di pergoki oleh Salamah -- ibunya. Bisa gawat jika Dia tahu dirinya keluar dari rumah tanpa pengawasan.
Setelah berhasil keluar dari rumah Evi terus menyusuri trotoar hingga sampai di rumah Dahlan.
Sesampainya di depan pintu gerbang Evi tidak langsung dipersilahkan masuk.
Seorang penjaga menanyakan beberapa hal setelah mengutarakan maksudnya ingin menemui salah satu penghuni rumah. Pengawal pun memberinya ijin untuk masuk ke dalam rumah.
Kartika yang di beritahu oleh pengawal bahwa ada tamu yang ingin menemuinya segera bergegas berjalan ke arah ruang tamu.
Dilihatnya Evi telah berdiri mematung memperhatikan tiap sudut dari ruang tamu tersebut.
Ada perlu apa dia datang menemuiku di malam hari seperti ini.
Melihat Kartika yang sedang melangkah mendekatinya. Senyum Evi terkembang sempurna. Kartika heran melihat binar mata Evi yang berseri-seri. Sehingga bertanya dalam hati ada apa gerangan dengan dirinya.
Evi menghampiri Kartika kemudian meraih kedua jemari tangannya.
"Tolong bantu Aku!"
"Bantu apa? jika Aku bisa tentu Aku akan membantumu."
"Tolong sampaikan pada Halim jika Aku menyukainya."
Kartika kaget sehingga membuat mulutnya membulat, mendengar penuturan Adik iparnya tersebut. Wanita itu tidak habis pikir bisa-bisanya Dia menyukai Halim. Padahal Halim bagian dari keluarga Dahlan yang sangat dibenci oleh Neneknya. Tidak takutkah Ia padanya?
Kartika bungkam tidak bisa berkata sepatah kata pun, wanita itu betul-betul syok. Dirinya saja masih belum di terima di keluarganya ini ditambah Dia yang ingin melihat dirinya dalam kesusahan. Sungguh dimana pemikiran Evi saat ini.
__ADS_1
"Kau, tidak sedang bercanda 'kan?"
"Tentu saja tidak. Aku menyukainya tapi Aku tidak ingin mengikatnya dalam pernikahan, jika Dia tidak mencintaiku."
"Eviii ..., Kamu sudah gila. Aku saja menderita menikahi Kakakmu. Apa bisa dan sanggup Kamu hidup seperti Aku dan Kakakmu."
"Tentu saja bisa karena Aku mencintainya dan ingin kedamaian di dua keluarga ini."
Kartika terduduk lemas mendengar penuturan dari bibir Evi.
Dia kecil tetapi berpikir dewasa. Bagaimana Aku bisa menghalangi niat baiknya.
"Baiklah, biar nanti Aku katakan pada Halim tentang perasaanmu padanya. Tetapi Aku tidak jamin jika Dia juga menyukaimu."
"Terima kasih atas bantuannya. Baiklah Aku pulang pamit pulang."
Kartika mengangguk menatap punggung Evi yang hilang di pintu gerbang.
Kini tinggal dirinya seorang diri di ruangan yang luas itu. Bagaimana cara mengatakan pada Halim jika ada seseorang yang menyukainya sementara ia tahu jika Halim menyukai dirinya.
Adilkah ini jika Aku menyampaikan pesan Evi yang di titipkan Evi kepadanya.
Sementara itu Yuli yang diam-diam mengikuti Evi menghadangnya di tepi jalan tidak jauh dari rumah Dahlan.
"Ada perlu apa sehingga Kamu menyelinap masuk ke rumah itu."
Evi diam tidak mau untuk berterus terang pada Yuli.
Jika Kamu tidak mau memberitahu Aku akan melaporkan perbuatanmu yang baru saja mengunjungi rumah Dahlan pada Salamah.
Evi yang memang tidak tidak ingin jika harus berurusan dengan Salamah--- ibunya akhirnya membuka mulut.
Dengan syarat Yuli harus menolongnya untuk mengakhiri pertikaian dua keluarga.
Yuli yang belum mengetahui apa yang hendak dikatakan Evi terkejut ketika wanita muda memaparkan bahwa dirinya menyukai Halim dan ingin menikah dengannya.
Sungguh ini kebetulan yang nyata. Niatnya untuk membalas Salamah kini terbuka lebar di depannya. Tinggal ia memberikan celah dan dorongan saja pada Evi maka Salamah akan kalah dan Evi akan pergi meninggalkan rumah ini. Berpindah ke rumah Dahlan.
"Jika seperti itu, Aku bersedia menjadi saksi pernikahanmu nanti."
Evi sangat senang mendengar jawaban dari Yuli, walaupun Ibunya akan marah besar ia tak peduli, niatnya ingin keluar dan menjauh dari Salamah yang menurutnya jahat. Telah memanfaatkan banyak orang hanya untuk kepentingannya sendiri.
Sementara itu Kartika berpapasan di ruang tamu dengan Halim, wanita itu l menghentikan langkah pria di depannya.
__ADS_1
"Kaka, Aku ingin bicara?"
Halim menghentikan langkah kakinya.
"Bisa duduk sebentar?"
Pria dengan poni berjambul itu pun duduk di salah satu kursi.
"Kakak, ingat dengan wanita dari keluarga Salamah yang bernama Evi?"
Halim memegang dagunya mencoba mengingat tentang nama tersebut.
"Bukankah dia adiknya Kevin?"
"Iya, benar. Dia menitipkan salam padaku, apa Kamu mau menerimanya seandainya Dia menyukaimu?"
Kartika melontarkan pertanyaan yang membuat Halim kaget untuk sesaat. Pria itu menatap Kartika lekat.
"Bukankah Sudah pernah Aku katakan bahwa Aku menyukaimu. Tapi jika Kamu memaksa baiklah akan Aku terima."
"Bukannya Aku yang memaksa, Kak. Tapi, Dia mengatakannya sendiri jika dirinya menyukaimu dan ingin menikah denganmu walaupun Kamu tidak mencintainya tidak apa Dia tidak ingin terikat dengan status."
"Ah, ini membingungkan biar ku pikirkan dulu. Mana mungkin Aku menikahinya tanpa cinta."
Halim bangkit dari duduknya meninggalkan Kartika yang masih duduk di kursi.
Kartika merasa bersalah telah mengutarakan maksud dari perkataan Evi yang dititipkannya. Tapi jika tidak menyampaikannya dirinya akan berdosa karena sudah mengatakan iya pada Evi.
Sehingga perkataan Kartika itu membuat Halim bingung dengan perasaannya sendiri yang tidak menyukai Evi.
Yuli yang mengetahui perasaan Evi terhadap Halim tutup mulut ketika berada di rumah Salamah. Ia tak ingin memberitahu siapapun. Cukup hanya dirinya saja yang tahu.
Sementara itu Salamah yang mengetahui jika Kartika sedang berbadan dua berencana ingin menyingkirkan sang janin supaya keturunan Dahlan tidak ada penerusnya lagi. Dan yang tersisa hanya penerus Salamah saja.
Salamah memanggil seorang pengawal yang paling dipercaya dari sekian orang yang bekerja padanya.
Rendi ya dialah orangnya, wajah dan perawakannya tidak setegap pengawal lain tapi parasnya sangat cakap.
Salamah mengeluarkan benda pipih dari saku celananya. Mengusap layar kemudian menekan deretan nama dari banyak nama di dalam kontak ponselnya.
Salamah bermaksud bertemu dengan Rendi untuk memberinya satu misi dimana misi tersebut harus rapi tanpa harus ada seorang pun yang tahu jika ia yang memberikan misi tersebut.
Ponsel pun tersambung dengan nada hingga beberapa detik dan kemudian terdengar suara seseorang di seberang sana.
__ADS_1
[Datanglah kemari! Ada tugas untukmu]
[Baiklah, aku segera kesana untuk menemuimu]