Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Kamu mengajakku kencan?


__ADS_3

Kevin curiga jika yang menculik Kartika adalah neneknya, sehingga memutar balik mobil menuju ke rumahnya. Kevin akan menanyakan tentang keberadaan pada Salamah.


Ketika sampai Kevin langsung turun melangkah masuk ke ruang kerja Salamah. Wanita tua itu heran melihat sikap cucunya yang tidak seperti biasanya main terobos saja. Tidak mengetuk pintu dulu dengan sopan.


"Nenek di mana Kartika? Dimana kamu menyembunyikannya?" 


"Siapa yang menyembunyikan siapa? Untuk apa aku menculiknya?"


"Nenek jangan bohong, bukankah nenek tidak suka jika aku berhubungan dengannya. Karena Kartika cucunya Dahlan."


"Memang benar aku tidak suka. Tapi, aku tidak pernah berbuat picik untuk menculiknya."


Keduanya terdiam. Jika bukan dari keluarga mereka lalu siapa? Kevin kemudian memecah keheningan dengan menanyakan hal lain.


"Apa,Nenek punya musuh selain Dahlan?"


Salamah terdiam mengingat sesuatu yang ingin di lupakan. Masa lalu yang menyakitkan.


Ketika itu Sehan menemuinya di saat perutnya membuncit dan mengajaknya untuk menggugurkannya setelah itu mengajaknya menikah. Namun, Salamah menolak akan membesar anaknya hasil pernikahan dengan Dahlan walaupun pada akhirnya di singkirkan oleh keluarga Dahlan.


"Sehan, apa mungkin dia, "gumamnya pelan.


"Sehan, siapa itu?"


"Kekasihku dulu."


"Dimana sekarang!"


"Aku tidak tahu, setahu Nenek dia pergi ke luar negri karena nenek menolaknya."


Kevin mengabari Royadi jika neneknya tidak ada hubungannya dengan penculikan Kartika. Namun, ia mencurigai seseorang yaitu Sehan. Bisa saja pria itu memanfaatkan situasi yang kacau untuk membalas dendam pada sang nenek karena rasa kecewanya dulu.


Royadi menyusun rencana dengan Kevin jika mereka harus mencari tahu siapa Sehan, di mana tinggalnya, apa profesinya dan sangkut paut dengan Salamah. Pasti ada petunjuk yang di tinggalkan untuk menemukan Kartika kembali tanpa harus terluka.


Royadi kembali ke tempat dimana Kartika di culik, ia bertanya pada orang yang ada di kebun teh. Apa mereka melihat seorang wanita di jemput dengan menggunakan mobil. Namun, tidak ada yang melihat. Royadi pun kecewa bersiap menghidupkan mobilnya untuk kembali, Namun, seseorang mengetuk kaca mobil dengan jemarinya. Sehingga Royadi terpaksa harus membuka kaca mobil.


"Ya, Pak, ada apa?"


"Bukankah tadi Tuan menanyakan Kartika"


"Kamu tahu di mana putriku?"


"Tadi sekilas aku melihatnya menaiki mobil menuju ke arah sana." Telunjuknya mengarah pada jalanan dengan dua arah.


"Kearah mana mereka membawanya?"


"Sepertinya ke arah kanan."


"Baiklah, terima kasih untuk informasinya."

__ADS_1


Royadi memberikan dua lembar uang berwarna biru sebagai tanda terima kasih telah memberikan informasi. Kini ada titik terang keberadaan putrinya. Namun, bukankah daerah itu hanya lahan kebun teh saja, apa ada rumah di daerahnya itu. Aku tidak pernah melewati jalanan ini. Royadi meluncur pelan di jalan raya yang basah oleh tetesan gerimis. Matanya di pasang dengan tajam karena jalanan tertutup kabut.


Semakin jauh ke dalam melajukan mobilnya, Royadi tidak menemukan sebuah rumah atau semacamnya. Namun, pria itu belum menyerah barang kali ada gang atau apa yang belum di lewatinya. Royadi pun melajukan mobilnya kembali. Semakin masuk ke dalam jauh dari tempat semula.


Terlihat ada cahaya lampu dari kejauhan, Royadi sedikit terhibur dengan melihat cahaya. Barang kali ini tempatnya. pikir Royadi. pria itu pun memarkirkan mobil menyembunyikannya di semak-semak, jangan sampai ada yang tahu jika dirinya sudah dekat dengan tujuannya. 


Royadi turun dari mobil melangkah mengambil pistol dari saku bajunya. Ia harus waspada untuk berjaga jika ada yang menyerangnya. Perlahan pria itu melangkah dengan hati-hati dan waspada mengendap di balik tembok. Tatapannya tajam melirik ke kanan dan kiri. Mendengarkan suara jika ada orang lain selain Kartika di dalam rumah itu. Tetapi, hening hanya terdengar suara Isak tangis Kartika dan pintu yang di pukul dari dalam.


Perlahan Royadi mendekati pintu. Namun, urung bersembunyi kembali ketika mendengar suara langkah seseorang yang kian dekat. Royadi menunggu di balik tembok. Ingin mengetahui siapa yang datang.


Ketika orang tersebut sampai Royadi menjadi sedikit lega, rupanya sosok itu adalah Kevin.


Royadi keluar dari persembunyiannya berjalan melangkah menghampiri menegur Ridwan.


"Kevin, bagaimana kamu bisa sampai di sini?"


"Nanti saja aku jawab, Sekarang mari bebaskan Kartika terlebih dahulu."


Mendengar suara ribut di luar Kartika menghentikan tangisnya meminta tolong.


"Tolong buka pintunya?"


"Tenang Nak, Ayah akan mendobrak pintu ini. Jadi menjauhkan dari pintu."


Sementara Kevin berjaga untuk melindungi Royadi jika ada orang yang ingin berbuat jahat terhadap mereka.


Royadi berlari menendang pintu dengan kasar. Satu kali pintu  masih utuh tidak bergerak sekalipun. Royadi mencoba kembali untuk yang kedua kalinya pintu berhasil roboh dan terbuka. Dilihatnya putrinya berwajah sembab karena dari tadi menangis dan ketakutan.


"Tidak apa-apa, Kamu sudah selamat kali ini, ayo kita keluar dan pulang."


Kevin menatap Kartika, Kartika tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sembab.


Melihat Ayahnya dan Kevin bekerja sama. Kartika merasa senang kini Ayah dan Kevin tidak berselisih lagi malah bekerja sama untuk menyelamatkan dirinya. Kartika mengusap sisa air mata yang menetes di pipinya. Kini rasa takut sudah sedikit berkurang karena kehadiran dua orang yang dicintainya.


Keesokan harinya Kevin mengajak Kartika untuk mengunjugi pemakaman ibunya. Ia ingin memperkenalkan Kartika sebagai mempelai wanita yang akan di nikahi.


Sebetulnya keluarga Kartika tidak merestui pernikahan Kartika. Tetapi, karena wanita berambut itu tetap bersikeras akhirnya sang kakek pun memberikan restunya dengan terpaksa. dengan syarat Kartika harus tetap tinggal di kediamannya untuk menjaga nama baiknya.


Kevin dengan terpaksa menuruti keinginan kakeknya.


Sementara Halim mengajak Renata pulang karena dikabari bahwa Kartika telah kembali ke rumah Dahlan dengan selamat. Mendengar perkataan Halim Renata sangat senang. Ibunya di sana pasti sangat menghawatirkan dirinya.


"Kamu mau melepaskan ku?"


"Tentu saja."


Renata menatap pria di hadapannya walaupun tidak setampan Kevin tapi lelaki ini telah sedikit mencuri perhatiannya. Renata tidak ingin kecewa yang kedua kalinya walaupun nantinya akan di kata apa terserahlah yang penting Renata ingin mengungkapkan perasaannya.


"Bisakah nanti kita bertemu lagi, tidak untuk hari ini saja."

__ADS_1


"Apakah kamu mengajakku kencan?"


Halim terus mendekat hingga Renata terpojok di tembok. Tangan Halim terjulur membelai wajah wanita itu. Renata memejamkan mata. Jantungnya berdetak tidak karuan. Sesaat kemudian Halim berjalan menjauh. Renata tersadar membuka kedua matanya berlari mengejar Halim.


"Aku menyukaimu." Renata bertingkah seperti bukan dirinya. 


Halim menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik menghadap Renata jarak keduanya tidak begitu jauh tidak juga begitu dekat.


"Jangan bergurau, mana bisa kita bersama sedangkan keluarga kita saling berseteru."


Renata terdiam sadar dengan apa yang baru saja di ucapkan Halim, ucapannya memang benar mana mungkin mereka bisa menikahi orang dari keluarga Dahlan. 


"Sudahlah, lupakan."


Halim menarik lengan Renata supaya berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil. 


Lelaki berjas abu-abu menghidupkan mobil, mobil pun meluncur tanpa hambatan di jalan raya.


Bunyi ponsel dari saku jas Halim , tapi pria itu tidak mengangkatnya.


"Ponselmu berbunyi, angkatlah!"


Halim melirik sesaat ke arah Renata yang duduk di sampingnya.


"Ya, Aku masih di jalan. Baru saja keluar rumah. Ya aku bersama Renata."


"Siapa?"


"Kakek menayakanmu karena ibumu terus saja meminta dirimu untuk di kembalikan karena Kartika telah kembali."


"Mana ponselmu."


"Untuk apa?"


"Aku ingin memasukan nomor ponselku, kita tukeran nomor!"


"Tidak usah, aku tidak memerlukannya."


"Mungkin sekarang tidak, tapi setelah kita kembali ke rumah masing-masing. Kamu pasti akan merindukanku."


Halim terdiam di buat mati kutu oleh Renata. pria itu tidak bisa membalas sedikitpun ucapan Renata. Gadis itu mengambil ponsel dari tangannya dengan paksa dan memasukan nomor ponselnya.


Halim hanya melihatnya saja tanpa bisa menolak. Jemari putih Renata menari-nari di atas layar ponselnya.


"Sudah," gumanya pelan.


Renata menyerahkan kembali ponsel Halim. Pria di sampingnya menerima, memasukan kembali ke dalam saku jasnya.


Pandangan Halim lurus kedepan berbeda dengan Renata yang sesekali menatapnya dan tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya. Sungguh sangat sayang jika dilewatkan. Halim pun menatap wajah putih Renata. Ketika sadar mereka bertatapan wanita itu menunduk ada sedikit rasa malu jika di tatap seperti itu oleh Halim.


__ADS_2