
Kartika di dorong masuk saat perawat memanggil namanya. Kevin membantu Kartika untuk berbaring. Dalam ruangan terlihat dua monitor seperti televisi Kevin berdiri di sebelah Kartika.
Seorang dokter kaki-laki memasuki ruangan, duduk di kursi bagian sisi kanan tempat tidur.
Dokter meraih sarung tangan, membuka pakaian bagian atas Kartika untuk melihat perutnya. Dioleskan jelly di sekitar perut kemudian tangannya mengambil alat yang akan terhubung ke monitor. Sehingga akan menampakan gambar dalam rahim yang berisi janin.
Tangan dokter terus meraba-raba keberadaan bayi dengan alat, hingga tampak lah gambar janin di monitor.
"Bagaimana keadaannya dokter?"
"Sepertinya sang bayi kekurangan oksigen."
"Lantas harus bagaimana baiknya?"
Kevin kecewa dengan penuturan dokter. Kartika ikut mendengarkan wajahnya berubah murung.
"Sebaiknya di gugurkan saja, karena jika tetap dilanjutkan ia akan berakhir pula."
"Apakah ada cara untuk tetap mempertahankannya, Dok?"
Kevin mempertimbangkan keadaan Kartika jika kandungannya harus tiba-tiba di gugurkan. Kartika pasti akan sangat sedih. Sehingga bertanya demikian untuk membesarkan hati Kartika.
"Ada nanti kita bantu dengan obat-obatan, ya. Semoga saja bisa terelamatkan."
"Amin."
Dokter menghapus jelly dengan tisu dari perut Kartika, menutup pakaiannya kembali.
Setelah pulang kerumah
"Aku ingin tahu, siapa yang memberikan bistik padaku sehingga aku menjadi seperti ini?" tanya Kartika pada Kevin karena sebelumnya dirinya tidak di beri tahu jika bistik itu mengandung racun.
Kevin berpikir sejenak tidak segera menjawab pertanyaan Kartika. Kevin sebetulnya ingin menyembunyikannya karena tidak ingin Kartika memikirkan hal yang tidak perlu. Namun, karena Kartika terus mendesak akhirnya Kevin berbicara jujur.
"Sebetulnya itu dari Ati, katanya ia ikut senang atas kehamilanmu."
"Oh, ternyata dia tetap membenciku hingga sepeti ini dan kau percaya saja dengan ucapannya."
"Maafkan aku, aku tidak pernah berpikiran jelek terhadapnya karena dia adalah sepupumu."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah tahu janin dalam perutku tidak baik-baik saja."
"Kita gugurkan saja."
"Tidak, aku akan memperjuangkan nya. Aku ingin bayi kita lahir. Ini semua salahmu kamu akan terus melihatku menderita dan kamu akan terus terluka melihat diriku tersiksa."
Kevin diam, membiarkan Kartika melepaskan semua rasa kesalnya pada dirinya. Kevin harus berbuat apa untuk meredam emosi Kartika yang meledak-ledak.
__ADS_1
Kevin mendekati Kartika memeluknya, wanita itu menangis terisak di dada Kevin menumpahkan segala lara hatinya.
Kevin membelai rambutnya, mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Kartika saat ini sedang rapuh ia harus menghiburnya.
"Aku ingin pulang, biar ibuku yang merawatku."
"Tidak kita pulang kerumah Nenek saja."
"Aku tidak mau, sepertinya orang di rumahku dan di rumahmu semuanya tidak aman, aku hanya percaya pada ibu dan Ayah tidak dengan yang lain."
"Jadi kita terpisah lagi?"
"Ya, karena aku ingin mempertahankan bayi ini." Kartika mengusap perut dengan tahan kanannya.
Mendengar jawaban seperti itu Kevin terdiam, karena Kartika tetap pada pendiriannya yang tidak dapat di ganggu gugat lagi. Baiklah aku yang harus bertindak untuk menjaganya. Sebaiknya Ati di penjarakan saja karena sudah jelas makanan itu mengandung racun dan hampir saja Kartika dan calon bayinya kehilangan nyawa jika tidak segera membawanya ke rumah sakit.
Sebelum Kartika kembali ke rumahnya. pria itu harus menyingkirkan Ati terlebih dahulu.
Kevin menghubungi pengacara pribadinya untuk mendiskusikan bagaimana caranya supaya Ati di jebloskan ke dalam penjara.
Setelah keduanya mengumpulkan bukti barulah melapor pada polisi untuk meminta surat penangkapan.
Merry terkejut ketika pagi-pagi sekali rumahnya di datangi petugas dan menyerahkan surat yang berisi,
"Saudara Ati di tahan atas dugaan pembunuhan berencana."
Merry menahan kedua petugas tersebut di depan pintu dengan merentangkan kedua tangannya. Supaya tidak masuk ke dalam rumah untuk membawa anaknya yang masih di dalam kamar. Kedua petugas itu masuk tidak mempedulikan Merry yang menghalanginya.
Mendengar suara gaduh semua penghuni rumah keluar dari kamar masing-masing menghampiri ruang tengah.
Satu orang dari dua petugas berbicara,
"siapa kiranya orang yang bernama Ati."
Hening tidak ada jawaban hanya tangis Merry yang terdengar.
Semua mata tertuju pada sosok wanita dengan pakaian tidur bermotif bunga dengan rambut pirang yang di ikat ke belakang.
Petugas seolah paham nama yang di maksudkan nya mengarah pada satu orang yaitu Ati. Kedua petugas menghampiri Ati dan memborgol tangannya.
"Ibu, tolong aku. Aku tidak berbuat jahat."
Ati meronta ketika tangannya di borgol dan di bawa paksa oleh petugas.
Dahlan yang menyaksikan cucunya di bawa petugas menghampiri Merry dan berkata.
"Ini yang di banggakan keluarga! Kamu tidak becus mengurus anak-anak mu, yang satu menentangku kini yang satu lagi membuat malu."
__ADS_1
Merry tidak bisa berkata untuk menimpali perkataan mertuanya. Ucapannya memang benar mungkin aku terlalu lembek mendidik mereka sehingga kedua anakku menginjak kepalaku sendiri.
"Mulai hari ini didiklah anakmu dengan benar!"
Deddy memperingatkan istrinya, kemudian meninggalkan Merry yang masih berdiri di ruang tamu.
Sedetik kemudian ia menyusul langkah Suaminya ke dalam ruang kerja.
"Bebaskan Ati, aku mohon! Kasihan jika harus berada di jeruji besi."
"Biarkan saja, toh itu semua sudah seharusnya tanggung jawabnya. Siapa berbuat dialah yang bertanggung jawab. Awas jangan coba-coba menebusnya untuk menutupi kesalahannya lagi.
Biarkan dia di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Tapi ---."
"Tidak ada kata tapi."
Walau bagaimanapun Ati tetap lah putrinya masa iya dia tega membiarkannya di jeruji besi. Tapi ucapan Suaminya memang ada benarnya juga. Selama ini ia selalu membenarkan tindakannya walaupun itu salah dan akibatnya malah semakin tidak terkontrol hingga sekarang harus berada di balik jeruji.
Kevin teganya dirimu menjebloskan aku ke penjara. Aku pikir kamu akan tutup mulut ternyata tidak. Jadi selama kita pacaran itu tidak ada artinya sama sekali.
Lihat saja setelah Kartika tidak bisa punya anak masih kah kamu akan mendampinginya atau akan kembali mengemis cinta padaku.
Ati berdiri di depan jeruji besi, ia tak menyangka jika perbuatannya akan mengakibatkan dia berada di sini. Tempanya para penjahat dan sampah masyarakat.
Ati melihat Merry dan Dedy yang baru saja sampai.
Ati memegang jeruji besi dan berteriak setengah memohon.
"Ayah, Ibu keluarkan aku dari sini."
Ati mengguncangkan jeruji besi seolah ia ingin keluar dari sana dengan segera.
Merry dan Dedy hanya melirik sekilas, kemudian ia menanyakan perihal Ati sampai harus di tahan.
Setelah mendengar penjelasan kepala kepolisian Dedy dan Merry paham.
Ternyata kasusnya memang mengharuskan putrinya untuk di tahan karena dia telah berani untuk menghilangkan nyawa bukan hanya satu tapi sekaligus dua yaitu ibu dan janin di dalam kandungan Kartika.
"Ibu, tebus aku, apa kamu tega membiarkan anakmu tersiksa di sini," teriak Ati dari dalam jeruji, mengguncangkan jeruji.
Dedy menghampiri putrinya, sebetulnya ia tak tega melihat putrinya yang terus merajuk untuk di bebaskan. Tetapi ia tak menggubrisnya.
"Bertanggung jawablah pada perbuatan yang sudah kamu lakukan, supaya dirimu menjadi pribadi yang lebih baik."
Setelah berkata seperti itu Dedy mengajak Merry untuk segera meninggalkan tempat itu, membiarkan anak perempuannya berada di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah di lakukannya.
__ADS_1