
"Belum, berdoa saja. Semoga kita secepatnya di pertemukan."
Titin kian erat memeluk Suaminya tangisnya yang tadi sempat berhenti kini pecah kembali.
"Sudahlah tidak bisa usah terlalu sedih, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Bersabarlah sedikit."
Royadi mengecup pucuk kepala istrinya, melepaskan pelukannya.
"Ayo, kita segera pulang."
Royadi mengangkat beberapa tas yang berisi pakaian. Sementara Titin melangkah ke arah tempat tidur untuk mengendong putrinya. Riyadi tidak tega jika harus membangunkan disaat anaknya tertidur lelap.
°°°
Tiba di rumah mereka di sambut dengan gembira, kakek langsung menggendong cucu kesayangannya yang beberapa hari tidak terlihat di rumahnya karena di rawat di rumah sakit. Sang kakek menciumi pipi cucunya berkali-kali.
Para pembantu mengucapkan selamat datang.
"Rumah ini sepi tanpa Mentariku," ucap Ati yang menghampiri dan mencium pipi tembemnya.
"Ayo kita harus segera tidur, ibu sangat capek sekali ingin merebahkan tubuh dengan nyaman."
Mentari berpamitan di gendong oleh ayahnya menuju ke kamar kakaknya karena mereka memang sering tidur berdua walaupun sudah mendapatkan kamar masing-masing.
Semua anggota keluarga ikut mengantar Mentari ke kamarnya.
Royadi menurunkan gadis kecil atas ranjang kemudian menarik selimut hingga dadanya.
Kecupan mendarat satu persatu mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.
Setelah semua anggota keluarga keluar tinggallah Ayah dan ibunya saja. Mereka pun mengucapkan selamat malam dan meninggalkan Mentari sendiri di kamarnya.
Malam kian larut semua orang terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing.
__ADS_1
°°°
Wajah Kartika tidak biasanya cerah, seperti cerah lembayung senja yang tampak dari balik jendela. Warna jingga mengelilingi sore hari yang beranjak magrib.
Kartika masih membalut rambutnya dengan handuk kemudian mengambil kantong belanjaan yang dari kemarin tidak tersentuh olehnya. Bukan tidak suka hanya saja kadang rasa marah dan benci mendatangi hatinya begitu saja. Sehingga mengubah suasana hatinya. Satu kantong belanjaan diraihnya, ternyata isinya sepasang sendal persis seperti gayanya. Tidak terlalu peminim karena ia suka sendal yang biasa saja. Namun, nyaman saat dipakai bukan berhak tinggi. Ia ingin memakainya sekarang dan menunjukannya pada pria yang telah membeli kebutuhannya.
Ketika di pakai ternyata ukurannya sangat pas dengan ukuran kakinya. Kartika tersenyum ternyata Kevin sangat memahami dirinya hingga ukuran sendal bisa pas di kakinya.
Kartika membuka kantong yang lain ternyata semuanya berisi kebutuhannya dari mulai pakaian hingga dalaman dan beberapa make up yang di butuhkan wanita sehari-hari.
Mode pakaian dan perlengkapan yang dipilih Kevin sangat cocok dengan seleranya. Padahal keduanya belum begitu dekat hanya beberapa kali saja bertemu, kemudian akhirnya menikah. Walaupun pernikahan itu di palsukan oleh Kevin sendiri. Namun, hati Kartika sudah terpaut sangat dalam. Hingga Kevin merasa sesak di saat setiap kali melihat Kartika menangis. Kevin pun selalu berupaya membuat Kartika tersenyum karena dengan itu hatinya merasa lebih bahagia.
Kartika menatap wajahnya di cermin sesaat, ia merasa puas dengan pulasan make up sederhana yang di aplikasikan di wajahnya. Wajahnya memang sudah cantik dari lahir sehingga tidak butuh waktu lama untuk berlama-lama di depan cermin.
Kartika duduk di sisi ranjang menunggu Kevin yang sudah berjanji akan datang untuk menjemputnya. Kakinya di ayunkan ke depannya dan ke belakang untuk mengusir rasa jenuh saat menunggu.
Pintu di ketuk dari luar, wajah Kartika seketika terlihat berbinar.
Terdengar seseorang membuka kunci, setelah bunyi jetrek pintu terbuka, langkah seseorang masuk. Kartika menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seperti yang sudah di duganya ternyata Kevin yang sedari tadi di tunggunya.
"Maaf, kamu terlihat sangat cantik malam ini."
Kartika mengangkat kepalanya menatap wajah Kevin untuk sesaat kemudian tertunduk kembali.
Kevin mengulurkan tangan di sambut oleh Kartika. Setelah berdiri berhadapan, Kevin melepaskan pegangan melangkah menghampiri lemari yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kevin membuka lemari mengambil sebuah jaket hangat wanita, memakaikannya di tubuh Kartika.
"Ayo, kita keluar sekarang!"
Kartika mengangguk mengiyakan ajakan pria yang ada di depannya.
Tiba di kediaman rumah kakeknya Kartika. Kevin dan Kartika mencari celah untuk masuk ke dalam melalui pintu belakang. Yang mengharuskan mereka memanjat tembok tinggi.
"Ayo naiklah, biar aku bantu menarik tanganmu."
__ADS_1
Kartika berusaha untuk memanjat tembok yang lumayan tinggi. Tangan keduanya berhasil saling berpegangan. Kevin menarik tubuh Kartika yang lumayan berat.
Setelah berdiri di halaman belakang keduanya saling bertatapan, memperhatikan sekeliling. Keduanya waspada bisa saja mereka menaruh jebakan yang membuat keduanya terkurung oleh para penjaga. Namun, seperti keadaan terlihat aman.
"Kamar Mentari di mana?"
"Di atas yang jendelanya mengarah ke sini."
"Masuklah dan terus waspada, aku akan menunggumu di sini. Waktumu tidak banyak hanya 20 menit saja. Jika setelah habis waktu kamu tidak kembali aku akan menerobos masuk membuat keributan untuk membawamu kembali."
"Baiklah, aku pergi. Ya?"
"Hem."
Kartika melangkah dengan mengendap-endap untuk sampai ke kamarnya. Matanya melirik ke kanan ke kiri seolah takut ada yang melihat keberadaannya.
Jika Kakek tahu tamatlah riwayatnya. Kartika berbicara di dalam hati dan terus melangkah menuju kamar yang ingin di tuju nya. Tidak berapa lama sampailah Kartika tepat di depan pintu kamar miliknya.
Kartika mendorong pintu kamarnya yang tidak terkunci. Kartika perlahan melangkah masuk. Duduk di dekat Mentari yang tertidur pulas.
Kartika mencium kening dan pipi cabi Mentari, meraih tangan mungil di ciumnya punggung anak kecil itu berkali- kali. Wajah gadis kecil itu terlihat pucat. Kartika merasa sedih melihat kondisi sang adik. Tidak terasa air mata mulai menetes dari sudut matanya.
"Sayang cepat sembuh, Kakak tidak bisa berlama-lama disini. Sudah melihatmu saja hari Kakak merasa lebih tenang. Makan yang banyak supaya cepat besar dan kita bisa pergi berdua kemanapun kamu mau.
Kartika membelai rambut gadis yang sangat dirinya rindukan.
Jangan membuat ibu marah, kasihan dia. Walaupun sikapnya terkadang membuat kita kesal tapi itu demi kebaikan kita. Bantu ibu jika dia membutuhkan bantuan karena di saat kita sakit ibulah yang selalu ada di sisi kita bukan orang lain. Di ingat nasihat kakak ini. Sudah ya sayang waktu kakak sudah habis.
Kartika membetulkan selimut yang melekat di tubuh sang adik. Wanita itu mengecup kening Mentari sekali lagi. Dengan langkah yang pelan dan hati-hati perlahan Kartika keluar dari kamarnya, menutup kembali pintu kamarnya.
Baru saja berjalan beberapa langkah Kartika berteriak kesakitan.
"Aaaaa ...."
__ADS_1
Kartika merasa ada seseorang yang menarik rambutnya sangat keras. Namun, suara Kartika tidak bisa keluar karena mulutnya sudah di bekap dengan tangan, kemudian menyeret tubuhnya ke sebuah kamar.