
Keesokan harinya pencarian di lanjutkan. Namun, belum membawakan hasil keduanya belum ditemukan.
Royadi dan Dedy terpaksa kembali dan pencarian di serahkan pada para pengawal dan Halim. Karena keduanya harus mengurus bisnis Ayahnya yang terbengkalai karena mencari Kartika.
Ketika jam istirahat Royadi di kantornya menerima telpon dari nomor yang tidak di kenal. Karena penasaran Royadi menekan tombol hijau.
Terdengar di sebrang sana suara seorang wanita.
[Royadi jika jika kamu menginginkan anakmu pergilah ke kebun strawberry, di sana ada sebuah gubuk kecil pasti mereka ada di sana!]
[Baiklah, terimakasih untuk informasinya]
Telpon terputus, Royadi berjalan tergesa hingga tidak sadar bertubrukan dengan adiknya Dedy.
"Ada apakah denganmu?"
"Ah, maaf. Tidak ada apa-apa."
Royadi sengaja menyembunyikan jika dirinya baru saja mendapatkan informasi tentang keberadaan putrinya.
"Tadi sepertinya kamu menerima telpon yang menyebutkan Kartika."
"Tidak. Mungkin Kamu salah dengar."
"Cerita lah aku tidak akan bilang pada Ayah. Aku akan membantumu."
Royadi menatap Dedy berusaha untuk mempercayai ucapan adiknya. Walaupun sebenarnya Riyadi tidak bisa percaya sepenuhnya. Ia sadar adiknya sangat menginginkan posisi direktur pasti dia akan mencari cara supaya dirinya jatuh dan tidak dibutuhkan lagi di kantor. Tapi Riyadi berusaha berbaik sangka pada Deddy untuk masalah putrinya.
"Tadi aku menerima telpon yang mengatakan jika Kartika dan Kevin kemungkinan ada di sebuah rumah bambu di dekat kebun strawberry."
"Itu berita bagus, bergegaslah kamu menuju ke sana. Biar untuk urusan kantor aku dan ayah yang akan mengurusnya."
"Baiklah, Ku percaya kan kepadamu. Aku segera berangkat."
Royadi menepuk bahu Deddy berjalan keluar dari ruangannya. Ia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun pada adiknya, Jika Deddy sebetulnya memihak Dahlan untuk melenyapkan ponakannya.
Royadi sangat yakin jika anaknya selamat dan tidak terjadi apa pun padanya.
Riyadi segera menuju mobilnya yang terparkir di garasi segera masuk duduk di balik kemudi. Ia harus cepat sebelum orang dari keluarga Kevin tiba lebih dulu di sana.
Royadi tancap gas dengan kecepatan tinggi. Mengemudikan mobil seperti pembalap profesional karena telah hapal dengan kondisi jalan yang di laluinya ia sampai dengan cepat.
__ADS_1
Royadi menatap sebuah rumah panggung berukuran kecil di depannya. Rumah di depannya tampak sepi tidak terlihat orang berlalu lalang di dalamnya. Perlahan Royadi melangkahkan kaki memasuki halaman rumah mengitarinya berhenti tepat di depan pintu memegang gagang pintu, Menekannya. pintu pun terbuka. Rupanya pintu tidak di kunci Royadi masuk dengan memanggil nama putrinya.
"Tika ..., Kartika..., apakah kamu didalam?"
Hening tidak ada jawaban hanya suara langkah kakinya saja yang terdengar memantul.
Royadi memeriksa semua ruangan, Royadi melihat ada bekas bercak darah di lantai. Memeriksa lemari, kolong tempat tidur dan kamar mandi. Namun, belum menemukan keberadaan Kartika. Terdengar suara bunyi mobil yang baru saja tiba dan terparkir di halaman. Royadi mengintip dari balik jendela. Ia ingin mengetahui siapa yang baru sampai di tempat itu. Ia kaget ketika yang terlihat di luar sana adalah ayahnya bersama Dedy dan beberapa orang pengawal kepercayaan Dahlan.
Ya Allah di mana mereka! bisa bahaya kalau ayah menemukan Kartika.
Royadi terus mencari hingga tiba di sudut ruangan, dimana ada Kevin di balik pintu sedang membekap mulut Kartika supaya tidak berteriak.
Kevin melepaskan tangan dari mulut Kartika sehingga wanita itu memanggil Royadi.
"Ayah ...."
Kartika menghampiri dan memeluk ayahnya.
Royadi menciumi kepala putrinya bertubi-tubi. merasa sangat khawatir. Namun, kini ia percaya jika Kevin memang lelaki baik yang mampu melindungi putrinya.
"Tolong bawa Kartika pergi bersamamu, ku percayakan anakku padamu. Cepatlah!"
Royadi mengambil tangan Kevin menangkupkan kedua tangannya kemudian menyatukan kedua tangan mereka saling menggenggam.
"Ikuti aku, kita harus bisa keluar dari rumah ini. Jika ingin selamat."
"Aku tak mau. Aku ingin bersama ayah!"
"Kanu tidak dengar tadi dia bicara apa. Beliau menitipkan kamu kepadaku. Paham. Jadi menurut lah demi keselamatanmu."
Air mata meluncur dari bola mata bening Kartika. Kartika sungguh ingin pergi bersama ayahnya. Tapi itu tidak mungkin seperti yang di katakan Kevin. Ia harus selamat jika ingin bertemu dengan ayahnya kembali.
Kartika membiarkan tangannya di genggaman oleh Kevin. Biasanya ia akan menepis dan mengumpat tindakannya. Tapi kali ini tidak ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
Wanita itu terus saja memandangi ayahnya. Sampai m di kebun belakang ayahnya sudah tidak terlihat lagi.
"Cepatlah kita harus sudah di jalan."
"Pergilah.Tinggalkan aku."
Kartika terjatuh karena kelelahan berlari menghindar dari kejaran kakeknya. Ia terduduk di rerumputan.
__ADS_1
Kevin menghampiri Kartika membopong tubuh rampingnya dengan entengnya.
Kartika hanya bisa menatap wajah tampan pria yang menggendongnya. Kartika tidak menyangka jika Kevin akan berani membopongnya. Wajah Kartika memanas berwarna merah muda. Tatapan keduanya beradu Kartika menunduk malu.
Ketika sampai di tepi tembok pagar Kevin menurunkan, meminta Kartika untuk memanjat pagar tembok yang lumayan tinggi sebagai jalan tembus ke jalan raya.
Dengan susah payah Kartika memanjat tembok, turun dengan bantuan Kevin.
Lega rasanya bisa lolos dari kejaran kakeknya. Keduanya berdiri di tepi jalan raya.
Tangan Kevin melambai memberhentikan taksi, keduanya langsung naik meluncur di jalan raya.
"Kita mau kemana?"
"Ikut saja dulu. Nanti, aku jelaskan ketika sampai."
Kartika bungkam percuma bertanya jika yang di tanya tidak ingin menjelaskan kemana Dia akan membawanya. Biarlah.Tangan Ridwan terus saja menggenggam tangan Kartika seolah takut jika wanita yang sedang duduk di sampingnya akan menjauh dan pergi meninggalkannya.
Taksi berhenti di sebuah rumah yang besar. Kevin mengajak Kartika turun. Ada dua pengawal yang berjaga di depan pintu. Kevin bisa melewatinya dengan mudah. Karena kedua pengawal itu mengijinkannya masuk.
"Kevin datang!"
Seru pembantu memberitahu seisi rumah, jika Kevin telah pulang.
Salamah keluar dari kamarnya disusul engan Yuli dan Renata. Evi adiknya Kevin keluar dan berlari memeluk kakaknya.
Yayah pun berdiri di depan Kevin mengucap selamat datang.
"Aku membawa Kartika biarkan dia tinggal di sini menjadi bagian dari keluarga ini!"
"Itu tidak mungkin, Pernikahanmu palsu!"
"Jika tidak boleh aku akan keluar dari rumah ini.
"Kau mengancam ku! Silahkan berbuat sesuka mu. Aku yakin kamu tidak mungkin meninggalkan rumah ini."
Samah dengan lantang berbicara pada cucu kesayangannya. Dirinya sangat yakin Jika Kevin tidak akan bisa hidup susah dan jauh darinya. Karena dia pemegang perusahan tertinggi yang di miliki Salama!
Walaupun Salamah sangat yakin dengan hatinya, Namun, bisa saja cucunya berbuat semaunya karena labil dengan urusan wanita. Ya wanita bisa menghancurkan prinsip pria mapan sekalipun.
Mendengar ucapan Salamah di depannya Kartika berkata lantang,
__ADS_1
"Aku sedikit pun tidak mau tinggal di sini! Ohhh, jadi dia ini Nenekmu. Yang sudah tega mempermalukan ku di pasar itu!"
"Apa yang Nenek lakukan padamu?"