Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Aku ingin Kakak


__ADS_3

Kevin memberikan benda pipih tipis pada wanita di depannya setelah menekan beberapa nomor.


Kartika menatap wajah Kevin dengan pipi yang basah dengan air mata. Kartika buru-buru menghapus butiran bening yang mengalir dari pipinya. Mengambil ponsel dari tangan Kevin. Wajahnya berubah cerah menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.


Terdengar jauh di sana suara yang sangat ia rindukan, suara itu adalah suara Titin ibunya.


"Hallo dengan siapa ini?" sapa ibunya di sebrang sana. Kartika langsung menjawab pertanyaan dari ibunya dengan Isak tagis dan derai air mata.


"Ibu, ini Kartika. Putri ibu."


"Tika, bagaimana keadaanmu? kamu di mana, Nak?"


Suara Titin parau terdengar di telinga Kartika.


"Aku baik Ibu, tidak usah mencermaskan diriku. Mentari mana?"


"Syukurlah, Mentari sakit sayang terkena DBD."


"Ya Allah, adikku Mentariku."


Kartika menutup telpon dan menangis tersedu-sedu teringat akan adik perempuan semata wayangnya yang kini terbaring sakit. Jika dia sakit rumah menjadi suram tidak ada gelak tawa yang terdengar.


Melihat Kartika yang menangis dan menangis lagi, Kevin tidak m tega melihatnya. Kevin berinisiatif mengajak Kartika keluar hanya sekedar untuk mencari angin dan berjalan-jalan.


"Mari kita keluar sejenak."


"Benarkah, kau mengajakku keluar dari kurungan ini!"


Kartika tidak percaya dengan perkataan yang baru saja terlontar dari bibir pria yang di sampingnya. Kartika pikir dirinya akan selalu terkurung tidak bisa menikmati udara luar. Tapi sekarang pria ini mengajaknya keluar sungguh hal yang tidak dapat ia lukisan dengan kata-kata karena hatinya teramat senang.


Kevin melangkah ke arah lemari dan memberikan jaket hangat untuk wanita yang akan di ajak pergi.


Kartika tidak bisa menolak karena dirinya memang ingin menghirup udara segar di luar sana. Cuaca sore di kota ini terasa dingin dan sedikit berkabut.


Keduanya keluar dari kamar Kevin, menghampiri Ilham yang sedang duduk santai dengan Yayah ibunya.


"Kunci!" pinta Kevin pada Ilham.


"Apakah kamu akan menyetir sendiri?"

__ADS_1


"Ya, aku hanya ingin pergi berdua saja."


Kartika tertunduk ketika Kevin melemparkan tatapan ke arahnya.


"Ya, sudah berhati-hati lah di jalan."


Kevin tersenyum membuka pintu mobil untuk Kartika. Setelah menutup kembali pintu mobil. Kevin berputar untuk duduk di sebelahnya dengan memegang kemudi.


Sepanjang perjalanan Kevin tidak segan-segan menatap wajah Kartika dari kaca spion. Seolah tidak bosan menatap wajah wanita yang duduk di sampingnya.


Walaupun sebenarnya hati Kartika kesal tetapi dirinya tidak bisa membohongi hatinya jika rasa itu masih ada dan belum tergantikan dengan sosok yang lain.


"Kau ingin kemana?"


"Kemana saja kamu membawaku, aku ikut saja. Karena hanya dengan itu aku masih hidup sampai hari ini. Aku percaya padamu."


Mendengar perkataan Kartika, Kevin bagai melayang di atas awan. Betulkah Kartika sudah memaafkan dirinya sehingga berkata seperti itu. Kevin terus mengemudi hingga sampai di suatu tempat menghentikan laju mobilnya.


Kartika tertegun melihat pemandangan di luar kaca mobil. Pemandangan yang sangat ia rindukan. Namun, sekarang tidak lagi. Tempat favoritnya kini sudah di ketahui orang dan menghancurkan seluruh kenangan indah di dalam hidupnya.


Kevin menatap Kartika mengajaknya untuk turun. Namun, Kartika masih di dalam mobil tidak mau turun. untuk kembali mengukir kenangan.


"Turunlah, bukankah ini tempat yang paling kamu ingin singgahi?"


"Ya, itu dulu. Sekarang tidak lagi."


"Mengapa?"


"Karena kamu sudah merampas dan menghancurkan semuanya."


Kevin tertegun mendengar jawaban yang baru saja di dengarnya dari bibir Kartika. Kevin tidak menyangka jika Kartika masih membencinya. Sesaat tadi dirinya sempat berpikir jika Kartika sudah melupakan dan mengubur semuanya. Biarlah yang terpenting Kartika masih ada di sisinya. Kevin akan menjaganya. Semua terjadi atas kesalahannya. Sekeras apapun upayanya untuk meyakinkan Kartika. Kevin tetap tidak akan percaya padanya. Mungkin ini hukuman untuknya yang telah membalas cinta tulus Kartika dengan racun.


Kevin memegang tangan Kartika mengajaknya untuk turun. Karena di paksa terpaksa Kartika menurutinya. Kevin membimbing Kartika untuk menaiki tangga duduk di bale-bale menikmati udara segar yang bertiup membelai tubuhnya. Rambut dan pakaiannya Kartika di permainkan angin.


Karena telah larut Kevin mengajak Kartika untuk pulang kembali ke rumah.


Kartika hanya mengiyakan ajakannya tanpa banyak bicara.


Ilham menghampiri Kevin yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di depan teras.

__ADS_1


"Bisakah kau bertemu dengan Ati, ia ingin menanyakan kabar kakaknya Suci."


"Baiklah, suruh saja dia datang ke kantor. Atur pertemuannya olehmu."


"Baiklah."


Ati wanita ini sungguh mengganggu pikiranku setiap saat. Ilham gundah dengan perasaannya sendiri. Ilham tidak paham


Ati sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Kartika. Ilham takut pertemuannya dengan Ati diketahui orang. Apalagi sampai terdengar ke telinga Salamah. Bisa hancur hidupnya juga ibunya. Ia harus lebih berhati-hati lagi.


Ilham menulis pesan pada Ati yang berisi Kevin mengiakan pertemuannya.


Di sebrang sana Ati sangat senang, ia akan merebut, menghancurkan hidup Kartika sehancur-hancurnya tanpa di ketahui orang. Jika dirinya tidak bisa memiliki Kevin. Kartika pun tak boleh memilikinya.


Hatinya puas dengan chat yang di berikan Ilham,  senyum lebar menghiasi wajah Ati. Tidak m sia-sia dirinya menghubungi Ilham. Sepertinya Ilham menaruh hati padanya terbukti saat pesta pernikahan ia memperhatikan dirinya dari ujung rambut sampai kaki. ketika tidak sadar antingnya terjatuh Ilham mengembalikan sekaligus meminta nomor ponselnya. Sejak itu Ati sering mencari informasi tentang Kartika melalui Ilham. Ilham tidak sadar jika dirinya hanya menjadi alat Ati untuk mencapai tujuannya.


Jika trombosit sudah sampai pada angka yang di tentukan Mentari baru bisa pulang kembali ke rumah. Tetapi jika belum harus bersabar untuk tetap menerima perawatan.


Melihat anaknya yang tergolek lemas dengan selang infus yang terpasang di pergelangan tangan Turun sungguh tidak tega melihatnya. Di usap pergerakan tangannya dan mencium kening sang anak. Ia menatap sang istri Titin yang berdiri di sampingnya.


"Tadi aku mendapat telpon dari Kartika."


"Benarkah, dia sekarang berada di mana?"


"Dari suaranya dia sepertinya baik-baik saja. Aku tidak tahu dia berada di mana. Ketika ku tanyakan, Kartika tidak menjawabnya telpon pun terputus."


"Doakan saja supaya Kartika baik-baik saja, selalu di lindungi dari berbagai macam bahaya."


"Amin."


"Sampai kapan kita berada di sini, aku sudah capek ingin tidur di kamar sendiri."


"Bersabarlah, tunggu hingga sore ini jika pemeriksaan terakhir Mentari bagus, kita bisa pulang."


Royadi dan Titin menatap tubuh Mentari yang masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya agak kurus. Ia juga memberikan jus jambu untuk menambah trombositnya naik. Walaupun Mentari menolak Titin mencoba merayu supaya anaknya meminumnya. Itu semua demi kesembuhannya.


"Ayah, Ibu, Kakak mana? Kok belum datang juga untuk menjenguk. Aku sangat rindu padanya."


"Nanti jika sudah tidak sibuk Kakak pasti akan datang. Sekarang Mentari yang kuat dan makan yang banyak supaya kita bisa pulang."

__ADS_1


"Tidak mau, aku ingin Kakak."


__ADS_2