
Jika benar betapa bahagianya aku, mendapatkan seseorang yang betul sayang dan mencintai diriku.
Semoga segala persiapan lancar tanpanya ada gangguan. Walaupun Kartika sadar Ati jadi membencinya karena gagal menikah dengan Kevin.
Toh mungkin benar Kevin adalah jodohnya yang di kirim Allah untuknya bukan untuk Ati sepupunya. Kartika yakin dirinya tidak pernah merebut apapun dari Ati. Ia bertemu tanpa pernah tahu jika lelaki yang akan menikahinya adalah pacar Ati.
Bukankah setiap wanita dan laki-laki itu hidup berpasang-pasangan. Mungkin nanti Ati akan di pertemukan dengan jodohnya. Semoga.
Hari yang dinanti tiba malam untuk menghias tangan pengantin dengan lukisan di tangan sang calon pengantin.
Tamu dan para tetangga berdatangan ingin melihat prosesi pemasangan henna.
Namun, tiba-tiba Halim datang mencengkram lengan Kartika mengajaknya pergi meninggalkan prosesi. Membawa Kartika kebelakang rumah. Kartika yang tidak mengerti dengan sikap Halim pun tersadar melepaskan cengkraman Halim dengan kasar.
"Sebetulnya ada apa?"
"Jangan lanjutkan ini, pergilah bersamaku!"
"Itu tidak mungkin."
__ADS_1
"Kenapa? Kau mencintainya?"
"Tentu saja, dari awal sudah kukatakan, aku mencintainya. Paham!"
"Aku juga mencintaimu, batalkan ini! Biar aku memohon pada kakek untuk menikahi mu."
"Apa," pekik Kartika kaget.
Kartika bungkam, ia tidak bisa menikah dengan Halim karena ia tidak mencintainya dan hanya menganggapnya sebagai kakaknya tidak lebih dari itu.
"Ada apa?" tanya Royadi.
"Ayah, Halim menyuruhku untuk membatalkan pernikahan karena ...."
"Aku menyukai Tuka, Paman. Biarkan aku yang menikahinya jangan kau berikan pada Ridwan." pinta Halim memohon.
Royadi menatap tajam wajah Halim keponakannya. Ia tak menyangka jika dia akan mengatakan hal yang tidak terduga seperti ini.
Tangannya melayang ke arah wajah Halim dan tepat mengenai wajahnya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di usap perlahan oleh Halim. Sedangkan Kartika menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak menyangka jika Ayah akan berlaku kasar pada ponakannya.
__ADS_1
"Kau, beraninya mengatakan hal itu. Kau ingin mempermalukan dan mencoreng nama keluargamu." Royadi menunjuk hidung Halim dengan sangat marah. Tangannya terkepal menahan amarah yang bergejolak dalam dada. Bisa bisanya keponakannya berkata seperti itu di saat seperti ini. Ia sungguh tak habis pikir.
"Kembalilah ke dalam, biar Ayah yang menyelesaikan ini!"
Kartika menatap kedua pria yang sedang bersitegang itu. Sesaat kemudian ia membalikan tubuhnya meninggalkan mereka melangkah kembali ke dalam rumah.
"Sudahlah buanglah jauh-jauh ingin mu itu."
"Itu tak mungkin Paman, Aku akan mengusahakan dan bicara pada Kakek."
"Cukup anakku bukan bola yang dioper ke sana- ke mari," sanggahnya dengan suara keras memarahi Halim.
Royadi kecewa dengan apa yang di katakan keponakannya. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya dan mengucapkan istighfar berkali-kali. Kemudian pergi meninggalkan Halim yang terduduk di lantai. Hatinya hancur wanita yang diinginkannya akan segera menikah dan dia tidak bisa mencegahnya. Dari bibirnya terus memanggil nama Kartika.
Berulang-ulang. Dinding dan pohon menjadi saksi atas hancur hatinya.
"Tika ..., Tika ...."
Di dalam kamar Ati menumpahkan rasa kecewanya ia menghancurkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya. melempar pas bunga hingga pecah berserakan di lantai.
__ADS_1
Kenapa bukan dia yang diminta padahal dirinya sudah cukup dekat dengan Ridwan bahkan sudah pacaran.
Mengapa harus Kartika yang baru saja bertemu dan berkenalan dengan Ridwan dia yang terpilih.