Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Hamil


__ADS_3

[Saya baru saja sampai, sedang memarkirkan mobil]


Terdengar bunyi mendecit dari mobil yang sedang di parkiran di luar. Mendengar suara yang berderit Royadi merasa sedikit tenang. Karena putrinya akan segera di tangani. Sehingga Royadi akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.


Terdengar langkah dari sepatu pantofel yang menghentak lantai, berhenti di depan pintu. Bunyi ketukan terdengar dari luar.


Royadi  melangkah untuk membuka pintu.


Dilihatnya seorang dokter seusianya berdiri di depan pintu.


Royadi mempersilahkan dokter itu untuk masuk ke dalam. Memberikan ruang untuk memeriksa Kartika dengan menyuruh Titin dan Minah menyingkir dari sisi Kartika.


Keduanya berdiri menjauh dari tubuh Kartika.


Dokter Herman pun mendekati Kartika, duduk di kursi yang telah tersedia. Pria berpakaian putih itu memeriksa kening Kartika. Kemudian beralih pada pergelangan tangan, kemudian memeriksa mata Kartika dan menempelkan stetoskop di dada Kartika untuk mendengarkan detak jantung dan pernapasannya.


Setelah selesai dokter Herman berbalik menghadap ketiga orang yang sedang menunggu diangnosanya.


Pria berjas putih tersebut tersenyum, entah apa yang membuatnya gembira.


Dia pun berdiri menyalami Royadi, pria berjas navi tersebut bingung melihat sang dokter menjulurkan tangannya. Sehingga ia bertanya, "bagaimana keadaan putri saya, Dok?"


"Selamat anda akan menjadi seorang Kakek." 


"Ka ---kakek, jadi Putri saya sedang mengandung?"


"Berdasarkan pemeriksaan yang saya lakukan  sepertinya memang seperti itu. Saya akan meresepkan obat penambah darah dan anti mual supaya mengurangi rasa mual dan kekurangan darah yang menyebabkan tubuhnya lemas."


Dokter Herman menuliskan beberapa resep obat yang harus di belinya di apotek.

__ADS_1


Setelah selesai dan merapihkan peralatan yang di pakai tadi dokter Herman pun memohon pamit dan berpesan supaya Kartika tidak bekerja terlalu capek, karena usia kandungannya masih sangat muda. Jika tidak di jaga takutnya akan mengalami keguguran.


Royadi pun mengantar Dokter Herman hingga ke halaman, pria itu melambaikan tangan ketika dokter Herman pamit dengan membunyikan klakson mobilnya.


Setelah mobil melewati pintu gerbang Royadi pun membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam rumah.


"Sayang, tadi dengar, dokter mengatakan bahwa putri kita sedang mengandung."


"Iya aku dengar, kita harus menjaganya karena sepertinya putri kita lemah,  seharusnya kamu segera menebus obatnya." 


Titin menunjuk resep obat yang masih tergeletak di atas meja.


Royadi pun mengambilnya supaya esok hari bisa menebusnya karena hari ini telah larut malam. 


Royadi memindahkan Kartika yang masih belum siuman ke dalam kamarnya. 


Kartika terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Kartika memaksakan diri untuk bangun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Aku tidak apa-apa, Bu?"


"Sudah biar ibu bantu ."


Kartika tidak bisa protes lagi, berjalan tertatih di memegangi tangan ibunya. Kenapa dirinya sangat lemah seperti ini. Tubuh rasanya lemas tidak ingin bangun jika tidak malu mengompol di tempat tidur.


Titin menunggui putrinya yang berada di dalam kamar mandi, sesekali wanita itu bertanya karena tidak terdengar suara gemercik air. Titin takut jika putrinya pingsan kembali.


"Tika ..., Tika ...."


"Iya, ibu."

__ADS_1


Hatinya merasa tenang ketika mendengar jawaban atas panggilannya.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klik dari selot pintu, Kartika keluar dari kamar mandi, Titin segera menghampiri putrinya,  memapahnya kembali menuju ke dalam kamar. 


Setelah membantu Kartika berbaring, Titin kembali lagi ke dapur. Kembali ke kamar dengan tangan kanan memegang gelas berisi teh manis hangat.


"Minumlah teh ini dulu, supaya badanmu menjadi lebih segar."


Kartika menerima gelas yang di berikan ibunya, meneguknya beberapa teguk.


"Nak, tadi ibu memanggil dokter Herman untuk memeriksa keadaanmu. Dia memberitahu ibu dan Ayahmu jika kamu sedang berbadan dua."


"Benarkah ibu, jika seperti itu aku akan memberi tahu Kevin. Pasti dia sangat senang menerima kabar ini."


"Sehatkan badanmu dulu, baru memberi tahunya. Untuk jalan saya masih tidak kuat bagaimana kamu akan menemuinya?"


Kartika terdiam, betul kata ibunya ia harus sehat dulu supaya janin yang ada di dalam perutnya pun sehat, jika ia lemah bagaimana bayinya bisa bertahan di dalam perutnya.


"Besok ayahmu akan menebus obat yang harus di minum olehmu, sekarang tidurlah lagi."


Titin menyelimuti tubuh Kartika hingga batas dada.


"Jika perlu apa-apa panggil ibu saja. Ibu akan tidur di kursi menemanimu di sini."


Kartika menatap ibunya yang melangkah mendekati Sofa yang ada di sudut kamarnya.


Ibunya memang orang yang sangat perhatian dan paling mengerti akan dirinya.


Sikapnya yang lembut membuat Kartika nyaman bila bersamanya.

__ADS_1


Sementara itu Evi tidak sengaja menguping pembicaraan Salamah, Yuli dan Yayah merasa semakin hari semakin tidak nyaman berada di dalam rumah besar itu. Wanita itu  sebenarnya ingin mengakui tindakannya yang mendorong Royadi dengan sengaja karena  merasa harus membalas tindakan Royadi yang telah membunuh ibu dan Ayahnya. Namun, pada kenyataannya setelah traumanya sembuh. Evi baru sadar perbuatannya itu ternyata salah, menguping pembicaraan Yayah dan Titin kemarin ia sadar ternyata  Royadi hanya difitnah oleh ibunya.


Evi juga baru mengetahui ternyata Royadi adalah ayah dari kakaknya.  Pertalian darah dengan nya hanya sebatas saudara, karena .....


__ADS_2