Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
PENYESALAN


__ADS_3

Keesokan paginya, gadis itu yang tak lain adalah Saraswati Dewi, merasakan seluruh tubuhnya sakit dan nyeri terutama di pangkal pahanya. Dia berusaha bangun dan hendak ke kamar mandi, namun betapa terkejutnya dia melihat keadaannya tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya.


Kepalanya pening, dia mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. Seingatnya dia sepulang kerja mampir ke kafe milik Andi kekasihnya, namun baru saja dia masuk, dia disuguhi pemandangan Andi yang sedang bersenda gurau dengan Nita temannya sambil memeluk pinggang gadis itu. Tanpa berkata-kata lagi, Saras, ia biasa dipanggil, langsung keluar dari kafe itu menuju sebuah klab malam.


Dia menghabiskan satu gelas minuman keras yang diberikan oleh salah seorang laki-laki di tempat itu, namun itu sudah membuatnya mabuk, karena itu memang pertama kali baginya. Lalu setelah itu Saras tidak ingat apa-apa lagi.


Dia melirik laki-laki yang berada di sampingnya, sangat tampan dan hidungnya sangat mancung, batin Saras. Namun seketika dia tersadar, apa yang telah mereka lakukan semalam, apakah mereka melakukan hubungan intim? pikir Saras lagi.


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, merutuki kebodohannya hingga bisa berada di kamar laki-laki asing dan melakukan hubungan selayaknya suami istri.


Perlahan dia memindahkan tangan laki-laki itu dari perutnya dan memunguti bajunya yang berserakan di lantai, memakainya lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


Sambil berjalan terseok-seok karena merasakan sakit pada pangkal pahanya, Saras akhirnya keluar dari apartemen itu dan segera memesan taksi online untuk menuju ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan Saras mencoba mengingat apa saja yang telah dia lakukan bersama laki-laki asing tadi. Dan dia memukuli kepalanya sendiri mengingat dia yang terlebih dulu mengajak laki-laki itu untuk melakukan hubungan intim.


"Aku harap aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi" gumam Saras yang sudah sampai di rumahnya. Dia lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa percintaannya semalam dengan laki-laki yang bahkan tidak ia kenal.


Saras kembali menangis memikirkan perbuatan yang dilakukan Andi pacarnya dan juga karena kecerobohannya sehingga dia kehilangan mahkota yang selalu dijaganya selama hampir 20 tahun ini.

__ADS_1


Namun nasi sudah jadi bubur, Saras hanya bisa berharap semoga perbuatannya kali ini tidak menyebabkan dia hamil. Bukan karena ada keluarga yang akan merasa malu, karena Saras adalah anak yatim piatu, orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan saat Saras masih sangat kecil. Hanya saja dia tidak mengenal laki-laki yang telah menidurinya, dan dia juga berharap semoga mereka tidak bertemu kembali selamanya.


Sementara itu di apartemennya, Bintang baru saja bangun dan mendapati gadis yang dipeluknya sejak semalam sudah tidak ada di tempatnya lagi. Bintang langsung mengambil celana dari dalam lemari, mengenakannya dan berjalan menuju kamar mandi, namun gadis itu tidak ada disana.


Lalu dia keluar menuju ruang tengah dan dapur, namun gadis itu juga tidak berada disana. Ia yakin jika gadis itu telah meninggalkan apartemennya saat Bintang terlelap tadi.


Bintang lalu meremas rambut nya, "apa yang akan dipikirkan gadis itu nanti? padahal aku belum sempat menjelaskan apapun padanya" geram Bintang


Bintang bergegas ke kamar mandi dan bergegas kekantor karena waktu sudah sangat siang dan dia hampir terlambat. Namun dia berniat mencari informasi tentang gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu.


----------------


"Halo Ras, kamu udah berangkat? ini sudah hampir jam masuk kantor lho" sahut suara di seberang yang tak lain adalah Wulan sahabatnya


"Aku kurang enak badan Lan, tolong pamitkan ke mbak Lala kalau aku cuti hari ini ya?" ucap Saras


"Kamu sakit, Ras?" tanya Wulan khawatir dengan keadaan sahabatnya, karena dia memang tinggal sendirian di rumahnya


"Aku gapapa Lan, cuma kecapekan aja" Saras kembali meyakinkan sahabatnya

__ADS_1


"Oke kalau gitu kamu istirahat lah, jangan lupa makan dan minum obat, nanti sepulang dari kantor aku mampir ke rumahmu"


"Iya, dasar bawel" pungkas Saras lalu mengakhiri panggilannya.


Saras dan Wulan memang bersahabat sejak awal kuliah, mereka selalu berbagi suka dan duka, oleh karena itu hubungan mereka sudah seperti saudara ketimbang sahabat.


Saras sejak kecil diasuh oleh keluarga pamannya yang tidak lain adalah adik dari ayah Saras, setelah lulus SMA Saras memutuskan untuk hidup mandiri, dia meminta untuk tinggal di rumah peninggalan orangtuanya saja.


Sebenarnya pamannya melarang Saras hidup seorang diri, namun Saras tidak mau merepotkan pamannya. Apalagi bibinya terlihat kurang menyukainya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk hidup terpisah dari keluarga pamannya itu.


Dulu Saras bekerja paruh waktu di restoran siap saji setelah pulang dari sekolah. Meski pamannya memberikan uang saku dan juga mencukupi kebutuhan Saras, tapi dia tetap melakukannya karena dia tidak ingin menjadi beban untuk pamannya terus menerus.


Hal itu berlangsung hingga Saras kuliah. Dia mendapatkan beasiswa karena kepintarannya dan mampu mencukupi kebutuhannya dengan tetap bekerja. Setelah kuliah, Saras menolak bantuan dari pamannya. Dia merasa bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak ingin merepotkan Pamannya lagi. Meski sempat menolak, akhirnya Pamannya menyetujui niatnya untuk hidup mandiri, meski kadang masih menawarkan bantuannya sesekali pada ponakannya itu.


Saras membuktikan bahwa dia mampu hidup mandiri hingga lulus kuliah dan mendapatkan gelar cumlaude nya. Dan sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan properti ternama di kotanya.


Baru dua bulan dia bekerja di tempat itu, namun sepertinya cita-cita untuk merenovasi rumah orangtuanya terancam gagal mengingat apa yang telah dilakukannya semalam bersama orang asing.


Meski sebenarnya enggan untuk makan, namun karena harus meminum obat agar badannya lekas pulih, Saras terpaksa mengunyah selembar roti untuk mengganjal perutnya. Nafsu makannya hilang setiap kali ia mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


Setelah meminum obat, Saras langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Sungguh hari ini dia tidak ingin melakukan apapun selain tidur.


__ADS_2