Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Dokter


__ADS_3

Baiklah aku tunggu sebentar lagi, masa iya jika dia memberi janji tetapi tidak ditepati. Titin melipat kedua tangannya di dadanya menghalau rasa dingin yang menerpa tubuhnya. Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya karena langit mendung karena tidak ada bintang yang nampak menghiasi langit malam.


"Titin ...."


Suara seseorang menyapanya hingga ia terperanjat dan melepaskan lipatan tangan di dadanya, spontan wanita itu membalikan tubuhnya. Didapatinya sahabatnya telah berdiri tepat di hadapannya. Wanita dengan rambut yang disanggul menarik tangannya, hingga ia terpaksa harus mengikutinya masuk melewati pintu gerbang.


"TUNGGU!"


Titin melepaskan genggaman tangannya, Yayah berhenti berjalan, menatapnya.


"Ada, apa?"


"Apa tidak apa-apa jika aku masuk ke dalam?  bagaimana jika ada yang melihatku." 


Mata Titin nanar memandang sekeliling. 


"Salamah sedang keluar jadi aman, dia akan kembali besok pagi."


"Ah, syukurlah."


Kedua wanita dengan usia yang sama melanjutkan langkahnya. Yayah membawa Titin ke kamarnya. Karena di rasa tempat itu tempat paling aman. Karena bawahannya tidak berani masuk sembarangan ke kamarnya.


Yayah menutup pintu dan menguncinya, berjaga jika ada seseorang yang membuka pintu dengan sengaja.


Titin duduk di sisi tempat ranjang dan Yayah duduk di kursi meja rias. Keduanya duduk berhadapan. 


Yayah mengambil tangan Titin di genggamannya.


"Berjanjilah kamu akan menyampaikan pesanku."


"Baiklah, aku berjanji. Tenang apa?"


"Sudah lama aku ingin memberitahumu tentang ini, namun, aku tidak punya keberanian. Tapi setelah melihat apa yang terjadi pada Ridwan dan Royadi aku sungguh berdosa menyimpan amanat ini terlalu lama."


"Amanat apa? dari siapa?"


"Kau tahu Humaira?"


"Iya, itu mantan istri Royadi, dia meninggalkan sepucuk surat padaku. Tapi aku berusaha menyimpan dan menutupinya rapat-rapat."


Titin terdiam, sebenarnya dirinya tidak suka jika ada yang membahas Humaira walaupun orang tersebut sudah lama meninggal. Tapi jika ada hal yang menyangkut Royadi bagaimanapun juga Royadi adalah suaminya. Titin tentu akan menolongnya jika memang membutuhkan pertolongannya.


Yayah bangkit berdiri melangkah ke tepi tempat tidur bagian kepala. Wanita itu mengambil bantal yang selalu di digunakan sebagai alas kepalanya. Tangannya  mengambil bantal membuka kancingnya. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam  sarung bantal. Ketika tangannya ditarik ada secarik kertas berwarna putih di dalam tangannya.


Yayah menyodorkan kertas putih yang terlipat rapi menjadi dua bagian.


"Bacalah, supaya kamu paham maksudku,"  pinta Yayah pada sahabatnya.

__ADS_1


Titin meraih kertas tersebut kemudian mulai membacanya. 


Suamiku Royadi


Aku sedang dalam bahaya mohon kiranya kamu menolong aku dan anakku, bawalah aku keluar dari rumah ini.


Sekarang aku menjadi tawanan, harus menurut dengan apa yang mereka perintahkan padaku.


Kamu ingat dengan nama yang ingin ku berikan pada anak kita jika lahir nanti.


Namanya Kevin. Aku berharap dia menjadi anak yang lembut seperti malaikat Ridwan penjaga pintu surga.


Dia mempunyai tahi lalat di leher belakangnya.


Aku di lecehkan, aku sudah tidak tahan jika kamu tidak datang menolongku aku akan bunuh diri saja. 


Tolong aku


Humaira


Titin melipat kembali surat yang baru saja dibacanya, matanya terlihat berkaca-kaca. Wanita itu bisa merasakan kepahitan hidup sahabatnya dulu tapi memang saat itu dirinya pun tidak tahu dengan keadaan Humaira saat itu.


Dengan adanya surat ini Royadi dan Kevin jelas mempunyai hubungan darah. Lantas aku harus bagaimana menuruti permintaan Yayah ataukah tetap diam dan pura-pura tidak tahu tentang keadaan yang sebenarnya.


Titin membuang nafas kasar. Menatap sahabatnya yang masih memperhatikan dirinya.


"Baiklah, aku akan mengambil surat ini dan memberikannya pada Royadi. Supaya dia tidak lagi terlibat dalam urusan yang salah."


"Iya, kasihan anak dan ayah dipisahkan oleh neneknya yang serakah. Pulanglah jangan sampai ada orang yang tahu kau mengunjungiku di sini."


Titin bangkit meninggalkan Yayah yang masih duduk di kursi.


Yayah merasa lega telah berterus terang dan  telah menyerahkan surat yang selama ini disembunyikan. 


Titin berjalan cepat menyusuri gang sempit menabrak seseorang sehingga.


"Sayang, darimana saja?"


Yang di tabrak ternyata Suaminya, karena terburu-buru Titin tidak melihat orang di depannya.


"Eh, kamu sudah pulang?"


"Iya, mengapa tidak bersama Dedy?" 


Titin balik bertanya karena melihat suaminya berjalan kaki, biasanya suaminya pulang dengan Dedy adiknya dan di antar supir.


"Tadi aku ada sedikit keperluan, minta di turunkan di dekat sini. Eh rupanya kita bertemu di sini."

__ADS_1


Gerimis menetes keduanya berjalan bergandengan tangan.


"Kamu dari mana?"


"Aku tadi menemui Yayah katanya ada keperluan yang hendak disampaikan padaku."


"Tentang apa?"


"Tentang ..., nanti saja aku ceritakan di rumah, gerimisnya bertambah deras saja. Sebaiknya kita berlari."


Keduanya berlari bergandengan tangan karena tidak mau kehujanan di jalan.


Sementara itu Kartika muntah-muntah hingga badannya terasa lemas. Wanita itu pingsan tidak jauh dari Wastafel.


Minah yang melihat majikannya terbaring tidak bergerak, panik. Minah menarik tubuh Kartika ke ruang tengah karena hanya ruangan itu yang paling dekat. Dengan susah payah Minah membaringkan Kartika di sofa, mencari kayu putih dan mengoleskannya di atas bibir Kartika supaya di hidup dan Kartika segera siuman.


Pembantu rumah tangga itu memijat, tangan dan jari kaki Kartik. Wanita itu bingung harus berbuat apa lagi. Ingin memanggil dokter takutnya disalahkan.


Pintu diketuk dari luar, Minah segera beranjak dan meninggalkan Kartika untuk membuka pintu.


Ketika pintu terbuka Minah sangat senang ternyata ibunya Kartika kembali bersama suaminya.


Minah pun memberi tahu jika Kartika pingsan setelah muntah-muntah.


Royadi segera menelpon dokter pribadi keluarganya takut putrinya kenapa-kenapa. 


Royadi menghampiri Kartika yang masih terpejam dan meletakkan punggung tangannya di kening Kartika Dirasa olehnya tidak demam. Tapi mengapa Kartika pingsan?


Titin panik menggosok punggung tangannya dengan minyak kayu putih.


Ketika tadi meninggalkan rumah, memang dirinya lah yang salah meninggalkan Kartika begitu saja tidak berpamitan. Titin pikir Kartika sehat tidak terlihat tanda-tanda jika dia demam atau apa.


"Bagaimana, bisakah dokter Heru datang kesini dengan segera?"


"Tenangkan dirimu, beliau sedang dalam perjalanan."


"Minah, pijat sebelah sini." 


Titin menunjuk kaki Kartika, Minah pun berpindah tempat untuk memijat kaki wanita yang terbaring di sofa. Sementara Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk wajah anaknya supaya siuman.


Royadi mondar mandir, walaupun tadi dia menyuruh istrinya untuk tidak cermas. Namun, dirinya sendiri cermas. Melihat anaknya tergolek tidak bergerak.


Karena sanggat khawatir Royadi pun memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan putrinya, untuk merasakan detak nadinya sangat lambat dan lemah.


Wajah Royadi tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. pria itu gelisah menunggu dokter yang belum juga datang. Sehingga Royadi menghubunginya lagi melalui ponselnya. 


[Hallo, dok. Bisa secepatnya datang?]

__ADS_1


__ADS_2