Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Bekerja sama


__ADS_3

Di perkebunan teh Salamah dan Dahlan sengaja bertemu untuk membicarakan bisnis. Rambut Salamah di sanggul dan ditutupi oleh kerudung warna hitam yang di lilitkan di lehernya. Angin meniup kerudung Salamah hingga kerudung itu terjatuh ke tanah tidak jauh dari kaki Dahlan. Dahlan terpaku menatap wajah Salamah seolah melihat Mariam berdiri di depannya. Namun, wajahnya jauh berbeda tidak sedingin Sekarang.


Dahlan pun menepis pikiran itu dari kepalanya, mana mungkin orang yang telah tiada hidup kembali dalam wujud yang lain.


Tapi itu benar-benar mirip hanya senyumnya saja terlihat berbeda.


Dahlan membungkuk mengambil kain kerudung, memakaikannya kepada Salamah. Dahlan menatap wajah wanita yang berdiri di depannya dengan seksama. Ini benar-benar sama sama persis seperti pinang di belah dua."


"Mariam," lirih Dahlan menyebut nama wanita yang berdiri di depannya.


"Kamu masih ingat!"


"Jadi benar kamu memang Mariam?"


"Itu sudah tidak penting lagi untuk saat ini."


"Jika benar itu kamu, maafkan kesalahanku dulu. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk meninggalkan dirimu begitu saja."


"Sudahlah lupakan itu, fokus saja pada bisnis kita saat ini."


"Tidak, kamu pasti yang menyuruh Kevin untuk balas dendam atas sakit hatimu yang pernah kulakukan padamu dulu, 27 tahun lalu."


Salamah tidak menghiraukan perkataan Dahlan, Wanita itu fokus melihat-lihat kebun teh yang akan di beli untuk dijadikan sebuah gedung pusat perbelanjaan.


Sementara itu Kartika menerima kiriman bunga bertuliskan "datanglah ke kebun teh pagi ini, By Calon suamimu"


Kartika sangat senang pagi-pagi sekali mendapatkan kiriman bunga sebagai ucapan selamat pagi. Terlebih ada sebuah pesan di dalamnya yang mengajaknya bertemu.


Padahal setelah kejadian kemarin Kartika sangat khawatir jika tidak bisa bertemu kembali dengan Kevin.


Kartika sangat senang buru-buru menyambar handuk, berlari ke kamar mandi dengan riangnya. Titin yang melihat tingkah putrinya merasa heran. Kemarin Kartika terlihat sempat takut jika terjadi sesuatu pada dirinya karena ayahnya menentang keinginannya.


"Ibu, Aku pergi sebentarya?"


"Mau kemana pagi-pagi begini."


"Ada janji sebentar dengan ...."


Kartika berhenti bicara merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya. Wanita itu menatap Titin yang sedang mengoleskan selai ke dalam roti untuk sarapannya.


"Kevin."


"Iya," sahut Kartika riang.


"Sebetulnya ibu tidak setuju tapi jika itu yang membuatmu bahagia ibu mengijinkannya.


"Ibu, memang paling baik diantara ibu-ibu lain," puji Kartika tersenyum.


Pujian Kartika membuat rona merah di pipi Titin yang sudah tidak muda lagi. Kartika menghampiri ibunya, melingkarkan tangannya di leher Titin kemudian mencium kedua pipinya dengan lembut.


"Terima kasih, ibu. Aku pamit dulu."

__ADS_1


Titin tersenyum melepas anaknya dengan menatap punggung Kartika yang kemudian hilang di balik pintu.


Sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah, Titin tidak mempedulikannya, wanita itu masih asyik dengan pekerjaan hariannya.


Seorang pengawal datang menyampaikan pesan jika didepan rumah ada Kevin yang ingin menjemput Kartika. Titin menghentikan mencuci piring, membasuh tangannya yang penuh sabun dengan air bersih. Turun kaget dengan laporan pengawal itu. Bukankah tadi anaknya mengatakan ada janji bertemu di kebun teh. Ada apa ini mengapa jadi seperti ini. Jangan-jangan Kartika ada yang menculik. Titin segera berlari dengan tangan kanan masih memegang lap untuk mengeringkan tangannya.


Titin berduri tepat di depan Kevin.


"Bukankah Kartika pergi denganmu baru saja."


"Tidak, saya baru saja tiba," sahut Kevin.


"Tapi, tadi kata Tika, kamu mengajaknya bertemu melalui pesan yang di sampaikan melalui buket bunga mawar."


"Mana buketnya!"


"Sebentar aku ambil dulu."


Titin memutar tubuhnya masuk ke dalam untuk mengambil buket bunga, Kemudian kembali dengan kembali dengan sebuah buket bunga yang ada di tangannya.


Titin memberikan buket bunga itu pada Kevin. Kevin melihat tulisan yang tertera jelas sekali jika itu bukan tulisan tangannya.


Kevin memberikan bunga itu kembali ke tangan Titin.


"Aku akan coba menyusulnya barangkali Kartika memang masih menunggunya di sana."


"Baiklah."


Baru saja pikirannya tenang karena putrinya ada bersama dengannya. Namun, dalam sekejap mata Kartika lenyap kembali dari pelukannya. Mengapa Tuhan terus mempermainkan hidupku.


Royadi yang baru saja kembali dari ruangan Ayahnya terkejut melihat istrinya menagis.


"Ada apa?"


Royadi memeluk istrinya, membelai rambut Titin dengan tangan kekarnya.


"Sayang sepertinya ada yang menculik Tika. Karena tadi Kevin ke sini, berkata jika dirinya tidak ada janji dengan Kartika. Kevin ke sini hanya untuk sekedar mampir."


"Baiklah, aku akan kesana sekarang barang kali aku masih bisa bertamu Kartika dan mencegahnya pergi."


Titin melepas kepergian suaminya di depan pintu berdoa dalam hati.


"Semoga putrinya bisa di selamatkan dari penculikan. Jika bukan Kevin lalu siapa yang berbuat itu?"


Sementara itu Kartika berdiri menatap hijaunya pohon teh, udara masih segar sehingga menghirup udara sebanyak-banyaknya, membuang nafas perlahan.


Sebuah sedan putih berhenti tepat di samping Kartika. Kartika menoleh sekilas dan mengalihkan tatapannya.


Seorang lelaki dengan kaca mata hitam turun dari mobil menghampiri Kartika.


"Apakah ini dengan Nina Kartika?"

__ADS_1


"iya, betul."


"Mari ikut saya, Tuan Kevin sudah menunggu Anda."


Tanpa curiga sedikitpun Kartika melangkah naik ke dalam mobil yang sudah terbuka duduk di belakang sang Supir.


Kartika diam tidak banyak bertanya. Pun Supir yang memegang kemudi fokus menatap jalan di depannya.


Tiba di sebuah rumah mobil berhenti, Kartika di persilahkan untuk turun dan masuk ke dalam rumah. Sementara Pak Supir dengan kaca mata hitam berjalan di belakangnya.


Kartika berjalan menatap kagum pada pemandangan yang terbentang di depannya. Terlihat sebuah rumah mungil minimalis dengan taman bunga-bunga yang berwarna-warni. Sebuah ayunan tampak ada di tengah-tengah taman itu.


Kartika terkesima menatap rumah itu. Itu persis seperti rumah yang di idam-idamkannya setelah menikah. Bagaimana Kevin bisa tahu tentang ini?


"Masuklah ke dalam, Tuan sudah menunggu."


Pria berkaca mata memberikan perintah, supaya Kartika lekas masuk ke dalam rumah. Perlahan Kartika melangkahkan kakinya, membuka gagang pintu kemudian melangkah masuk. Baru saja beberapa langkah terdengar pintu di tutup dari luar. Kartika spontan memutar tubuhnya berlari ke arah pintu yang sudah tertutup. Memegang gagang pintu untuk membukanya. Namun, rupanya pintu itu sudah terkunci dari luar. Kartika berteriak meminta tolong.


"Tolong ..., buka pintunya! Siapa kamu? Mengurungku di sini?"


Hening. Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara deru mesin mobil yang pergi menjauh dari halaman. 


Kartika berhenti berteriak. Wanita itu berjalan dalam ruangan, melihat seisi ruangan. Tidak ada foto keluarga yang tergantung. Kartika mendekati lemari yang menyatu dengan meja kecil di bukanya laci tersebut, barang kali bisa menemukan petunjuk. Tetapi, nihil laci tersebut kosong. Kartika menutupnya lagi dengan kasar. Kemudian melangkah menatap ke luar jendela.


Siapa orang yang sudah menculik ku?


Baru saja aku pulang kerumah, belum pula hati ini tenang. Aku sudah terjebak lagi dalam urusan lain.


Kenapa Tuhan tidak memberiku ketenangan untuk sesaat, salahku apa?


Kartika menangis membiarkan buliran bening membanjiri pipinya.


Sementara itu Kevin baru saja sampai di kebun teh, Namun, pria itu tidak menemukan Kartika di sana. Kevin turun dari mobil memperhatikan keadaan sekitar barang kali bisa menemukan petunjuk. Tapi, tidak ada apapun di sana. Kevin berdiri mematung bingung harus kemana untuk mencari Kartika sedangkan petunjuk saja tidak ada. Kevin kembali kehilangan Kartika orang yang paling ingin ia miliki untuk di jadikan istri. Kenapa Tuhan terus menjauhkannya lagi di saat dirinya baru saja mengucapkan ikrar akan menikahinya.


Sebuah mobil berhenti di belakang mobil Kevin, seorang lelaki paruh baya turun dari mobil Royadi baru saja sampai. Melihat Kevin masih ada di tempat itu.


"Bagaimana, apa kamu menemukan Kartika?"


"Maaf, Paman aku tidak menemukannya. Sepertinya orang yang menculik Kevin tiba lebih dulu dari pada kita."


"SIAL! siapa yang coba-coba menculik putriku dan untuk apa?"


"Kita harus segera menemukan Kartika bagaimanapun caranya."


"Aku akan membantu mari kita bekerja sama."


Kevin mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, di jabat oleh Royadi. Royadi sadar jika hanya sendirian mencari Kartika prosesnya akan lama.


"Baiklah kita berpisah di sini, jika ada sesuatu hubungi saya."


Keduanya berpisah dan menaiki mobil masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2