
Seperti yang telah di janjikan Titin akan datang menemui putrinya di rumah sakit. Wanita itu menyiapkan makan yang telah di masak dari rumah untuk di berikan pada Kartika bistik kesukaannya.
Setelah tiba di rumah sakit dan bertanya pada resepsionis yang berada di depan, Titin melangkah menuju ruangan yang di maksud.
Ketika tiba di sana Titin melihat Kartika telah tertidur. Wanita itu mendekati putrinya duduk di samping di sisi ranjang
Titin menggenggam telapak tangan Kartika yang di pergelangan tangannya terpasang selang infus. Titin tidak sengaja terisak menjatuhkan air mata di tangan Kartika.
Kartika yang merasa ada benda hangat jatuh di punggung tangannya membuka mata perlahan, mendapati ibunya telah menangis sambil menggenggam tangannya.
"Ibu ...."
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Tidak apa, ibu. Sekarang aku sudah sehat dan boleh pulang nanti sore."
"Jika seperti itu, pulanglah lagi kerumah biar ibu yang menjagamu."
"Aku pun berpikir begitu, jika bersama ibu aku pasti akan baik-baik saja."
"Oh, ya. Ibu bawakan makanan kesukaanmu." Titin melepas genggaman tangan dan beranjak dari ranjang. Meraih kantong plastik yang berisi rantang makanan di atas meja.
Kemudian mengeluarkan isinya dan menunjukkannya pada Kartika.
Ketika melihat apa yang di bawa ibunya.
"maaf, Bu. aku Sudah tidak menyukai makanan itu."
"Loh kenapa?"
Titin heran mendapat jawaban yang tidak semestinya. Biasanya Kartika sangat suka dengan makanan daging dengan bumbu kecap, jika makan pasti akan nambah nasi berpiring-piring jika di masakan bistik sapi. Ini malah menolak tidak suka katanya
"Gara-gara makanan itu kini aku terbaring di sini, "sahut Kartika menjelaskan sebabnya.
"Kamu tahu siapa yang melakukan itu?"
Kartika meggeleng lemah, "tidak tahu, Bu?" sahutnya.
"Ya, sudah, sia-sia ibu membuat ini untukmu."
"Ibu, ibu jangan marah. Mengertilah aku kali ini saja."
"Walaupun ibu paham, tapi kamu tega berpikir akan melenyapkanmu dengan makanan ini."
__ADS_1
"Baiklah, baiklah ayo suapin aku. Aku percaya sama ibu. Karena hanya ibu yang bisa aku percaya di dunia ini."
Kartika memeluk Titin bermanja-manja padanya seperti anak kecil.
Titin tersenyum membalas pelukan putrinya. Kemudian membelai rambut dan mencium pucuk kepala anaknya.
Titin tidak habis pikir bisa-bisanya Kartika mencurigainya ibunya. Mana mungkin seorang ibu tega mencelakai darah dagingnya sendiri.
Kartika melepaskan pelukan, sementara Kevin melihat ibu dan anak seperti itu merasa hatinya kosong, Kevin tidak pernah merasakan pelukan hangat dari ibu ataupun ayahnya.
Yang Kevin punya hanya Kartika yang bisa menenangkan perasaannya. Jika tidak ada dia hidupnya tidak berarti.
Kevin memberanikan untuk masuk ke dalam ruangan menyapa Titin mertuanya.
Baru saja masuk ibu anak itu salling bertatapan.
Kemudian Titin melayangkan pertanyaan yang menyudutkan Kevin sehingga Kevin harus kehilangan Kartika kembali.
"Mengapa kamu masih berhubungan dengan Ati lihatlah hasilnya. Anakku jadi seperti ini!"
Kevin diam tidak berbicara sepatah kata pun.
Kartika mencoba berdiri di tepi tempat tidur dengan selang infus yang masih menancap di tangannya.
"Maafkan aku, aku tidak pernah berpikiran jelek padanya karena dia saudaramu. Aku tak pernah menduga jika dia akan melakukan hal nekat seperti ini."
Kartika membuang nafas kasar karena kecewa pada Suaminya yang percaya saja pada Ati. Sudah jelas dia menginginkan dirinya tapi dia tetap tidak sadar.
Walaupun Ati saudara tapi tetapi Ati tidak pernah menganggapnya seperti saudaranya malah sebaliknya. Ati ingin Kartika di singkirkan dari rumah hanya ada dia yang menjadi cucu kebanggaan Dahlan.
Kakek selalu membanggakan dirinya aku sama sekali tidak pernah di puji atas pekerjaan yang ku lakukan. Walaupun begitu aku tetap tidak mau ambil pusing.
Aku masih punya ayah, ibu dan mentari yang menyayangiku dengan tulus tanpa pamrih. Itu yang menjadi semangat untuk terus menjalani hidup ini. Yang mana sekarang semakin hari semakin rumit. Masalah demi masalah silih berganti mendatangiku.
"Tapi aku sudah memenjarakan Ati, supaya dia tidak berulah lagi, "pungkasnya.
"Baguslah teryata kau punya inisiatif, juga."
"Memang yang ibu tahu juga Merry tadi pagi memohon maaf sama ibu. Namun tidak ibu maafkan. Ibu sudah muak dengan ucapan kata maaf dari keduanya. Namun, apa sikap keduanya tidak berubah malah semakin menjadi."
"Semua yang kulakukan hanya untuk kebaikan kita."
Sore harinya seperti yang di janjikan dokter, Titin berkemas untuk membawa putrinya pulang kembali ke rumahnya. Kartika akan tinggal bersama dengannya lagi. Itu karena Titin mengkhawatirkan kondisi Kartika yang sedang berbadan dua. Apa lagi ketika tahu Kartika memakan makanan yang di berikan Kevin ternyata mengandung racun.
__ADS_1
Mulai sekarang Titin harus mencicipinya dulu ketika menerima makan dari luar. Takutnya ada orang yang berniat jahat pada putrinya.
Setelah selesai berkemas Kevin mengantarkan Kartika untuk tinggal di rumah Dahlan kembali sementara Kevin kembali ke rumah Salamah.
Berselisih jalan rupanya Evi juga di rumah Dahlan untuk bertemu Kartika seperti yang sudah di katakannya kemarin-kemarin.
Evi lansung menerobos pintu penjaga dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah ia berpapasan dengan Titin yang sedang membawa lipatan baju untuk di bawa masuk ke dalam.
"Kamu .... Wanita yang kemarin mencari putriku kan?"
"Iya, aku dengar Kartika baru saja kembali. dimana dia aku ingin segera bertemu?"
"Masuklah dia ada di dalam kamarnya. Sedang beristirahat.
Evi melangkah masuk walaupun sedikit canggung, karena Evi belum begitu mengenal Kartika Walaupun Kartika sempat tinggal di rumahnya tetapi Evi tidak pernah bertegur sapa. Evi hanya tahu jika Kakaknya Kevin begitu mencintainya hingga rela mati untuknya.
Evi mematung di ambang pintu yang sedikit terbuka, Evi melihat Kartika sedang termenung seseorang diri di dalam kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Tangannya memeluk guling.
Evi memberanikan diri mengetuk pintu kamar. Kartika terperanjat kaget, spontan melirik ke arah pintu. Dilihatnya Evi tengah berjalan masuk menghampiri dirinya. Kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa kamu datang ke sini?"
Kartika mencoba untuk duduk dan menyingkir guling yang di peluknya.
"Aku ingin mengatakan sebuah kebenaran."
"Kebenaran apa yang kau maksud?"
Dahi Kartika mengkerut merasa tidak paham dengan perkataan Evi.
Evi melanjutkan perkataannya, "orang yang mendorong Royadi dari tebing adalah aku."
"Apa ..., kamu yang mendorong ayah."
Kartika merasa tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, Kartika menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Evi mengangguk mengiyakan. Berarti apa yang dikatakan Kevin ternyata benar. Kevin memang tidak melakukannya tapi aku tidak mempercayainya. Bodohnya aku telah menuduhnya. Tapi memang di saat kejadian itu hanya ada Kevin di sana tidak ada orang lain lagi yang terlihat.
"Kenapa, kamu tega melakukan itu?"
"Aku hanya ingin menuntaskan balas dendam Kevin yang katanya ayahmulah yang melenyapkannya padahal ternyata bukan ayahmu yang melakukan.
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf, atas kesalahanku padanya. Sudikah kamu untuk mempertemukan ku dengan Ayahmu?