Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Hasil


__ADS_3

Royadi membaca hasil dari tes DNA yang tertera dalam amplop putih. Isinya menyatakan bahwa Kevin memang benar adalah darah dagingnya sendiri.


Pantas saja golongan darahnya sama denganku, ternyata dugaanku benar jika dia memang anakku dari Humaira.


Sementara itu Humaira tinggal di desa terpencil. Sengaja mengasingkan diri untuk  menyembuhkan trauma yang di deritanya.


Humaira tinggal di dalam gubuk sederhana. Jauh dari kata wah.


Sore itu cuaca sangat cerah ketika seseorang datang menemuinya di gubuknya.


Wanita tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Yayah. Pembantu kepala di keluarga Salamah, wanita itu berniat ingin mempertemukan Humaira dengan keluarganya yaitu Adiah --Ibunya Humaira.


Yayah mengetuk pintu rumah tersebut, tidak menunggu lama pintu terbuka.


Yayah di persilahkan masuk kemudian duduk di ruang tengah.


Yayah memberitahu Humaira, jika ibunya masih hidup. Jika Humaira ingin bertemu bisa datang ke alamat yang Yayah berikan.


Yayah menyerahkan sebuah kertas bertuliskan alamat rumah Dahlan.


Humaira sangat berterima kasih pada Yayah karena sudah memberitahu tentang keberadaan ibunya. Humaira sangat merindukan ibunya.


Keesokan harinya Humaira segaja naik taksi untuk pergi menemui ibunya sesuai alamat yang di berikan Yayah ke padanya. Humaira ingin bertemu dengan ibunya walaupun hanya sesaat.


Setelah turun dari taksi Humaira berjalan menyusuri trotoar untuk sampai ke rumah Dahlan. Yang kata Yayah, ibunya sekarang bekerja sebagai kepala rumah tangga di sana. Humaira terus berjalan menundukkan kepala hingga tidak sengaja menabrak seseorang, yang sedang berdiri mematung tidak jauh dari rumah Dahlan. Orang itu adalah Royadi sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya untuk tugas meeting.


Humaira menunduk, berlari menghindar dari tatapan Royadi. Royadi kaget tidak percaya melihat istri pertamanya melintas di depannya, dengan cepat Royadi mengejar wanita berkerudung putih tangannya dengan cepat menyambar pergelangan tangan wanita itu.


Namun, wanita itu menepis tangan Royadi hingga terlepas. Wanita itu pun berlari kembali. Royadi mengejarnya kembali. Kali ini Royadi tidak ingin melepaskannya lagi seandainya tertangkap.


Humaira berlari tidak tentu arah hingga kakinya tidak sengaja terjerembab di lubang dan jatuh.


Royadi menghampiri, mengulurkan tangan. Namun, uluran tangannya tidak mendapatkan sambutan.


Royadi berjongkok, meraih tubuh Humaira dengan maksud ingin memeluknya karena rindu. Namun, Humaira menolak tidak ingin di sentuh olehnya. Royadi paham mengurungkan niatnya.


"Humaira ini, aku Royadi suamimu."


Royadi menjelaskan siapa dirinya. Mungkin wanita di depannya lupa karena sudah lama tidak berjumpa.


Namun, Royadi yakin jika wanita di depannya memang Humaira.


Humaira mengangkat kedua tangan membingkai wajah Royadi.


"Benarkah ini kamu Royadi?"


Royadi meraih tangan Humaira yang masih berada di wajahnya.


"Iya, ini aku sayang, benarkah kamu masih hidup? Ini bukan mimpi kan?"

__ADS_1


Royadi seolah tidak percaya melihat Humaira masih hidup. Seingatnya wanita itu sudah meninggal, kuburannya pun ada.


Royadi membawa Humaira ke rumah Dahlan tujuannya ingin mempertemukan Wanita itu dengan ibunya. Yang bekerja di rumah Dahlan


Ketika sampai Adiah terkejut melihat putrinya berdiri di depannya.


Adiah menghampiri Humaira membingkai wajah wanita itu dengan kedua tangannya.


"Kamu benar putriku? Apakah ini nyata? Ini bukan mimpikan? Anakku masih hidup."


Adiah memeluk putrinya dalam isakan tagis bahagia.


"Aku masih hidup. makanya aku datang menemui mu."


Humaira membalas pelukan ibunya dan terisak. Tiba-tiba tubuhnya terkulai dalam pelukan ibunya. Royadi membawa Humaira ke dalam kamar Kartika untuk beristirahat.


Titin yang tahu ke datangan Humaira, menemuinya di kamar Kartika ketika wanita itu siuman, Titin ingin menyampaikan ketakutannya jika Humaira terus berada di rumah Dahlan.


Titin takut jika Royadi akan kembali pada Humaira. Karena Titin tahu cinta Royadi dulu begitu dalam padanya.


Titin mengetuk pintu masuk dengan membawa teh manis hangat untuk di berikan pada Humaira. Mungkin Humaira butuh teh manis hangat untuk menyegarkan tubuhnya yang kelelahan.


Titin mulai berbincang dengan Humaira. Titin mengungkit tentang kesalahannya dan meminta maaf.


"Maafkan aku telah berbohong padamu yang mengatakan ibumu telah tiada."


Titin melanjutkan ucapannya kembali, " tolong jangan beri tahu Royadi jika aku berbohong padamu."


Humaira menatap Titin yang sedari tadi bicara.


"Sekarang aku istrinya."


Humaira semakin sedih mendengar penuturan Titin, lelaki yang dulu sangat mencintainya kini sudah memiliki keluarga baru.


Humaira kembali dalam waktu yang tidak tepat, kini ia harus merelakan Suaminya menjadi milik wanita lain.


Titin memberikan sebuah album foto ke dalam pangkuan Humaira.


Humaira mulai membuka lembar demi lembar tampak di sana foto keluarga Royadi yang baru dengan mimik wajah yang bahagia memiliki dua orang putri yang cantik.


Mata Humaira berembun sehingga gambar yang di lihatnya menjadi buram. Satu tetes air mata jatuh di susul dengan tetesan lain membasahi album keluarga Titin.


Humaira menghapus air mata dengan punggung tangannya.


Titin menggenggam tangan Humaira memohon, "tolong jauhi Royadi aku tak ingin rumah tanggaku berantakan karena hadirnya dirimu di rumah ini."


"Aku kembali ke sini karena ingin bertemu dengan ibuku bukan untuk kembali pada Royadi. Aku paham aku hanya bagian dari masa lalunya. Sekarang dia hidup di masa sekarang dan kamulah istrinya saat ini. Jadi Jangan khawatirkan tentang aku."


Humaira terisak sangat mengerti dengan permintaan Titin, setelah meneguk teh manis yang di bawakan Titin, Humaira berpamitan untuk kembali ke rumahnya yang jauh di desa.

__ADS_1


Titin mengiakan dengan anggukan dan kemudian memeluk Humaira.


Royadi yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan dua wanita tersebut di balik pintu. berjalan menuju pintu gerbang. Menunggu Humaira keluar.


Ketika Humaira keluar sendirian Royadi menghampiri, ingin mengantarkannya pulang.


Rupanya Humaira tinggal di sebuah desa terpencil, wanita itu sengaja mengasingkan diri karena ingin lepas dari traumanya.


Royadi menatap lekat wanita di depannya. Riyadi tidak percaya jika Humaira masih hidup setelah di kabarkan meninggal dunia.


"Masuklah."


Humaira menyuruh Royadi untuk masuk ke dalam rumahnya yang kecil.


"Benarkah ini kamu Humaira." Royadi langsung bertanya lagi seolah tidak percaya dengan pertemuan kali ini.


"Kamu masih tidak percaya, jika Aku masih hidup."


"Bukan seperti itu, aku sanggat senang jika ini benar ini adalah dirimu!"


Royadi menghampiri dan membingkai wajah Humaira dengan tangannya.


"Bagaimana bisa?"


"Kamu Royadi kan?"


"Iya, ini aku Humaira."


"Anak kita Kevin sudah meninggal."


Raut wajah Humaira berubah saat mengatakannya.


Royadi menyanggah ucapan Humaira, "tidak Humaira, Kevin masih hidup.  Namun ---." Royadi tidak melanjutkan perkataannya.


Sementara Kevin belum mengetahui jika ibunya masih hidup. Kevin mempercayai jika Royadilah yang membunuh ibunya.


Padahal kenyataannya Royadi hanya di fitnah oleh Salamah untuk menghancurkan keluarga Dahlan yang ia benci atas perbuatan Dahlan dahulu.


Untuk membuktikan jika Royadi tidak bersalah Kevin berinisiatif untuk mempertemukan Kevin dengan Humaira di gubuk Humaira di desa.


Royadi menelpon Kevin untuk mengajaknya ke suatu tempat, Kartika yang mendengar pembicaraan di telpon merengek meminta ikut pada Ayahnya.


Royadi pun tidak bisa menolak ke inginkan Kartika yang ingin mendampingi Suaminya, untuk bertemu dengan ibunya. Karena Kartika pun ingin bertemu dengan ibunya juga yang di kabarkan telah meninggal. Padahal kenyataannya masih hidup dan sehat tidak kurang apapun.


Keesokan harinya Kevin menemui Kartika di kediaman Dahlan, mereka bertiga berangkat dengan mengendarai mobil untuk menemui Humaira di rumahnya. Royadi dan Kartika ingin memberikan kejutan pada Kevin jika ibunya masih hidup belum meninggal seperti yang dikatakan oleh Neneknya.


Sementara Kevin belum mengetahui jika dirinya akan dipertemukan dengan ibunya.


 

__ADS_1


__ADS_2