Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Bisa saja Nenekmu berbohong


__ADS_3

"Jika kakakmu melihatmu seperti ini, ia akan sedih dan tak mau bermain denganmu."


"Betul juga, aku harus sehat. Beri aku makanan yang banyak. Aku mau makan!"


Titin dan Royadi bertatapan, keduanya tidak menyangka jika ucapannya membangkitkan semangat Mentari untuk makan, biasanya putri kecil mereka akan menolak jika di ambilkan makanan.


Titin membuka bekal yang di bawanya dari rumah rendang daging kesukaan mentari. 


Titin menyendok nasi dan lauk di bawanya ke hadapan Mentari.


"Mentari duduk ya?"


Titin menaruh piring di atas meja. Membantu Mentari duduk dengan meninggikan tempat tidur di bagian kepala.


Titin mengambil piring meletakkannya di atas pangkuannya.


Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk kemudian di sodorkan ke mulut mungil putrinya.


"Tidak mau di suapi, Tari ingin makan sendiri."


Titin menatap ke arah Royadi mengangguk tanda mengiakan.


Titin meletakkan piring di atas pangkuan Mentari. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya hingga nasi dan lauk yang berada di dalam piring tandas tidak bersisa.


Titin merasa bahagia melihat putri kecilnya sepertinya telah pulih. 


"Ibu, jika aku makan banyak kakak pasti akan datang 'kan?"


"Iya, sayang."


"Tambah!"


Mentari mengangkat piring yang telah bersih isinya.


"Sudah, ya. Sayang ini sudah cukup."


"Aku masih mau makan!" rengek Mentari dengan wajah yang menggemaskan.


"Sayang turuti saja." ujar Royadi pada sang istri.


Titin menatap Suaminya, "Ini sudah banyak aku takut dia memuntahkan isinya lagi."


"Tidak, dia memang lapar beberapa hari makannya tidak benar. Sudah berikan lagi!"


Titin menuruti ucapan Suaminya untuk mengambilkan lagi sepiring nasi. Terlihat Mentari makan dengan lahapnya. Setelah selesai Mentari mengusap perutnya. Kekenyangan. Royadi berpamitan setelah mencium kening istri dan anaknya, meninggalkan mereka di rumah sakit.



Kevin sedang berada di kantor, sibuk dengan berkas yang memerlukan tanda tangannya. Seseorang mengetuk pintu, Kevin menyuruhnya masuk.


"Ati sudah datang."

__ADS_1


"Suruh dia masuk."


Ilham keluar untuk membawa Ati masuk menemui Kevin.


Setelah duduk di kursi Ati menyampaikan rasa gundahnya yang jauh dari saudaranya Kartika.


"Kevin, tidakkah kau membawa Kartika, aku ingin sekali bertemu dengannya."


"Untuk apa?"


"Aku ingin melihatnya, apakah dia baik-baik saja?"


"Tentu dia baik-baik saja."


"Adiknya sedang sakit, kabarnya nanti malam sudah bisa kembali ke rumah."


"Lalu apa hubungannya dengan Kartika?"


"Adiknya tidak mau makan. Jika terus seperti itu dia bisa kehilangan nyawanya. Dia mau makan jika sudah melihat kakaknya. Tega kah kau melihat anak kecil kehilangan nyawa dan itu di sebabkan olehmu?"


"Baiklah, baiklah demi perikemanusiaan. Akan ku lakukan membawa Kartika ke rumah kakeknya. Jam berapa aku harus datang?"


"Hem, sebaiknya tengah malam di saat orang rumah tertidur, sehingga tidak ada yang menyadari jika Kartika datang untuk melihat adiknya."


"Baiklah, hubungi aku jika sudah tepat waktunya. Aku akan datang membawa Kartika."


Karena urusan keduanya telah selesai Ati berpamitan, meninggal ruangan Kevin. Ilham mengiringi langkah Ati, wanita berambut panjang itu tersenyum puas ke arah Ilham.


"Terima kasih, kau sudah mempertemukan kami."


"Baiklah."


Lihat saja kali ini aku akan menyingkirkan Kartika. Tidak peduli dia harus kehilangan nyawa. Jika Kevin tidak bisa ku miliki dia pun tidak seharusnya bersamanya.


Sepulang bekerja Kevin tanpa berganti  langsung menuju kamar Kartika, berniat memberikan kabar gembira jika dirinya akan membawa Kartika menemui adiknya yang sangat ingin di temui Kartika.


Kevin sampai di pintu kamar, mengetuk pintu. Membuka daun pintu masuk ke dalam kamar melihat Kartika sedang duduk di sisi ranjang.


Gantilah bajumu, aku akan mengajakmu menemui seseorang.


Kevin berdiri di dekat Kartika. Wajah wanita itu sembab karena terus saja menangis.


Kartika menoleh mendengar ucapan Kevin. Kartika penasaran siapa yang mengajaknya bertemu ibunya kah? Ya ia sangat ingin bertemu dengan Titin.


"Kamu menahanku di sini karena dendammu pada seseorang. Siapakah itu? Beritahu aku! Kenapa aku yang tidak ada sangkut pautnya harus terlibat dengan kalian dan kalian membuat hidupku hancur?"


Kevin tertunduk memegang kalung yang tergantung di lehernya, sebuah cincin usang bahkan biji batunya telah hilang.


"Kau ingin tahu?"


"Jelas saja aku ingin tahu!"

__ADS_1


"Baiklah, akan ku ceritakan. Kala itu usiaku masih sangat kecil. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Ayahmu Royadi menembak mati ibu dan ayahku serta ayahnya Renata. Jasad mereka tergeletak di halaman saat aku datang. Nenek bilang Ayahmu yang melenyapkan ketiganya."


Kedua mata Kevin basah oleh air mata ketika bercerita. Kartika membulatkan mulutnya kaget mendengar penuturan Pria tampan di depannya..


Kartika menutup mulutnya yang terbuka lebar. Kartika tidak percaya dengan ucapan Kevin. Bagaimana mungkin ayahnya yang sangat tenang tega melenyapkan nyawa seseorang. Itu tidak mungkin.


"Jangan memfitnah Ayahku, dia tidak seperti itu. Beliau sangat penyayang bagaimana mungkin bisa melenyapkan nyawa orang lain."


"Di depanmu dan keluargamu bisa saja ia menjadi pria yang baik seperti itu, tetapi tidak tahu jika di luar sana. Bisa saja Ia berbuat yang bisa menyakiti orang. Bahkan sampai tega melenyapkan nyawa seseorang."


"Jaga mulutmu! Itu bukan perbuatan ayahku. Saat itu kamu masih kecil, bisa saja Nenekmu membohongimu," sanggah Kartika.


Kevin tertegun mendengar ucapan Kartika.


Apa mungkin Nenek berbohong! Tapi Setega itukah dia padaku?


Kartika menangis tidak sanggup mendengar perkataan Kevin yang mengoyak hatinya. Wanita itu membenamkan wajahnya di bantal. Ia sangat mempercayai ayahnya. Mana mungkin pria penyayang yang menjadi panutannya selama ini tega menghilangkan nyawa seseorang.


"Aku datang menemui mu ingin mengajak kamu bertemu dengan adikmu yang sedang sakit, jika kamu mau. Namun, jika tidak aku akan membatalkannya detik ini juga."


"Aku mau kapan itu?"


Kartika menoleh dengan wajah yang sembab.


"Nanti malam. Bersiaplah, kenakan pakaian hangat karena malam hari itu dingin."


"Terima kasih, kamu sudah mau mengabulkan ke keinginanku untuk bertemu dengan adikku."


Titin merapihkan pakaian yang berada di laci ruang perawatan. Malam ini Mentari akan di pulangkan tetapi harus menunggu dokter jaga kontrol kondisi terakhir anak bungsunya terlebih dahulu.


Royadi pun belum tampak padahal hari sudah malam. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 20.00.


Titin duduk di dekat tempat tidur Mentari. Tangannya membelai rambut yang jatuh di keningnya.


"Cepat sehat, Nak. Hati ibu sedih melihatmu seperti ini. Jika bisa ditukar, biar aku saja yang sakit Ya Allah."


Bulir bening menetes di wajah yang mulai menampakkan kerut di wajahnya.


Titin tidak menyangka terus saja di timpa masalah, anak pertamanya Kartika belum di temukan. Titin tidak tahu keadaannya seperti apa? dengan siapa dia tinggal? Walaupun sempat menerima telpon dari putrinya yang memberi tahunya bahwa dia baik-baik saja. Tapi hati seorang ibu tidak bisa di bohongi tetap saja cemas jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri.


Semoga Allah tetap melindungi mu, dari segala mara bahaya. Ibu hanya bisa berdoa semoga Allah mengabulkan segala doa ku.


Sebuah ketukan pintu membuatnya tersentak, Titin buru-buru menghapus buliran dengan telapak tangannya sehingga menyisakan sembab di wajahnya.


Royadi masuk ke dalam,Titin berhamburan ke dalam pelukannya menumpahkan segala sesak yang menghimpit dadanya.


Royadi mengusap punggung istrinya, dirinya pun sama sedih. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah kau kemasi barangnya?"


"Sudah, kita akan pulang kemana? Sudahkah kau mendapatkan rumah baru untuk kita?"

__ADS_1


"Pengacara sedang mengurusnya, satu dua hari baru kita bisa meninggalkan rumah Kakek."


"Tapi bagaimana dengan Kartika? aku ingin membawanya juga. Sudahkah kau menemukan anak kita?"


__ADS_2