
Besok akan ku nikahkan kamu dengan seorang laki-laki. Supaya tidak membuat malu." Dahlan menunjuk Kartika dengan telunjuknya.
Wanita bergaun pengantin menunduk mendengar perkataan Kakeknya. Air matanya terus berjatuhan. Ternyata perkataan kakek tua yang menolongnya tidak benar. Ia merasa kini hatinya semakin sakit mendapat perlakuan kasar dari kakeknya sendiri. Bukan merangkul dan membawanya masuk tetapi malah menusuk dengan pisau yang lain. Kartika hanya bisa menangis sesenggukan.
Titin membawa Kartika masuk ke dalam rumah. Mengapa nasib anakku jadi seperti ini. Ya Allah apa dosaku hingga anak gadisku menderita seperti ini?"
Titin memeluk bahu anaknya dan mendudukkannya di atas bibir ranjang.
"Ceritakan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?"
Titin membelai rambut putrinya. Membujuk Kartika supaya mau bercerita.
Kartika hanya terisak menatap Titin, tangan Titin mengusap air mata yang terus saja berjatuhan dari mata indah putrinya.
"Kevin meninggalkanku, Bu. Sekarang hidupku hancur orang yang ku percaya akan memberiku bahagia kini tak ada lagi."
__ADS_1
Sore hari di ruang tamu telah berkumpul untuk berunding. Kakek menginginkan Kartika untuk di nikahkan kembali dengan seorang lelaki baik dari keluarga Yusuf. Tetangga keluarga Dahlan. Pemuda berkulit hitam manis yang di ketahui bernama Sidik akan di menjadi suami Kartika. Walaupun penampilannya yang tak menarik Kartika hanya bisa pasrah. Ia terpaksa harus tunduk pada kakeknya jika masih mau tinggal di rumah yang sekarang ia tempati.
Keluarga Sidik datang dan di sambut hangat oleh Kakek Dahlan. Setelah di persilahkan duduk. Lelaki tua itu memanggil cucunya. Kartika dan Titin yang berada di kamar segera berjalan menghampiri ruang tamu.
"Ini cucuku Kartika, mari kita mulai akad nikahnya. Pak penghulu."
"Maaf, pak Dahlan. Bukankah dia ini wanita yang ada di pasar kemarin dengan pakaian pengantin?" tanya pemuda hitam manis pada kakeknya.
"Iya. Apakah masalah?"
Air mata tak terasa menetes dari kedua mata Kartika. Lagi-lagi ia di permalukan di depan banyak orang. Tapi sedikitnya Kartika bersyukur bisa terlepas dari tindakan kakek yang hendak menikahkannya kembali.
Dahlan kaget dengan tindakan Sidik yang pergi meninggalkan rumahnya. Dadanya tiba-tiba sakit sehingga tangannya memegangi dada, terduduk di lantai menahan sakit ketika akan menghadang Sidik.
Royadi dan Dedy yang melihat ayahnya kesakitan segera menghampiri, memapah Dahlan untuk duduk kembali di kursi, mengambilkan obat yang biasa di minum.
__ADS_1
"Gara-gara wanita ini sakit jantung Ayah jadi kambuh," umpet Merry kesal.
Merry menyalahkan Kartika yang kembali lagi ke rumah setelah kemarin menikah dan pulang dengan membawa masalah.
Esok harinya setelah selesai makan malam Dahlan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar Pria tua itu mondar mandir seolah bingung apa yang harus dilakukan dengan cucunya Kartika, yang telah mencoreng namanya dengan pernikahannya.
Tangannya merogoh sesuatu dari saku jasnya. Sebuah benda pipih kini ada ditangannya. jemarinya mulai mencari nama yang ingin dihubungi nya.
Setelah menekan nama yang tertera di layar ponsel, Dahlan menempelkan ponsel ke telinga.
Tidak berapa lama ponsel langsung tersambung.
"Datanglah ke kamar, ada yang ingin ku bicarakan!"
Dahlan menutup telpon, memasukan ponsel ke dalam saku jasnya kembali.
__ADS_1