
Kartika tidak ikut turun ia menunggunya di dalam mobil. Sesaat kemudian Kevin menghampirinya.
"Mobilnya rusak, mungkin kita harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah."
"APA! Kamu gila aku harus berjalan kaki dengan gaun seperti ini!"
Kartika sungguh tak percaya dengan ucapan Kevin padanya
Dia pikir gampang berjalan dengan gaun pengantin kurung seperti ini.
Kartika membuang nafas kasar mengejar Kevin yang sudah pergi berjalan meninggalkannya lebih dulu.
Sebetulnya dalam hati Kartika bertanya-tanya mengapa sikap Kevin berubah dari biasanya. Ada apa sebenarnya? Ingin bertanya namun urung Kartika takut Kevin tersinggung dan marah karena ucapannya.
Kartika berlari dengan mengangkat gaunnya supaya tidak menginjak gaunnya sendiri.
"Tunggu! tunggu!" terisak Kartika sambil berlari mengejar Kevin yang terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya. Napasnya tersengal-sengal capek.
__ADS_1
Kevin menghentikan langkah kakinya. Menunggu Kartika menyusulnya.
Ia tak tega melihat wanita di belakangnya ke habisan nafas. Kevin lantas mengajaknya untuk duduk sesaat di rerumputan. Malam kian dingin melihat Kartika memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. Kevin melepas jas yang di pakainya memakaikannya di tubuh Kartika. wanita itu tersanjung dengan perlakuan yang di berikan Kevin ke padanya. Wajahnya bersemu merah menatap Kevin dengan malu-malu.
"Kenapa, kau berbuat demikian, aku tak apa-apa! Nanti kamu kedinginan."
"Tidak apa, aku ini laki-laki dan kuat."
Kevin membantu Kartika untuk berdiri dan mengajaknya untuk berjalan kembali.
Kartika hanya bisa menurut. Ada rasa hangat yang menjalar dari tangan lelaki tampan disampingnya yang menggenggam tangannya. wanita itu tersenyum ia benar-benar bahagia. Namun, Kartika tak mengerti mau di ajak ke mana? Sehingga Kartika bertanya kembali.
"Hem."
Hanya jawaban singkat yang diterima Kartika.
"Aku, capek sudah tak sanggup untuk berjalan lagi," keluh Kartika yang kakinya lecet oleh sepatunya.
__ADS_1
Kevin memandang sekeliling mengedarkan pandangannya yang kesemuanya adalah kebun teh. Matanya terhenti pada sebuah rumah di tengah-tengah kebun teh. Kevin menunjukkannya pada Kartika dengan telunjuknya.
"Kita beristirahat di gubuk itu saja?"
"Aku, terlalu capek tidak sanggup untuk berjalan lagi," rigis Kartika dengan wajah yang memerah menahan sakit di bagian kakinya.
Tanpa ragu Kevin membopong tubuh Kartika dan membawanya berjalan menuju gubuk yang di maksud. Kali ini Kartika tidak menolak dan memukuli dada Kevin seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Setelah tiba di depan gubuk Kevin menurunkan Kartika. Lelaki tampan itu mengetuk pintu berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban. Mereka berdua memberanikan diri untuk mendorong pintu. Ternyata tidak di kunci. Keduanya bertatapan melangkah masuk ke dalam rumah.
Kevin melepas dasi dan kemeja putih yang di pakai nya karena basah oleh keringat.
"Bukalah bajumu yang basah dengan keringat, nanti masuk angin."
"Baiklah."
Kartika melirik ke kanan dan ke kiri mencari kamar untuk membuka mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Kartika masuk ke dalam salah satu kamar yang tidak ada pintunya hanya terhalang oleh gorden. Sehingga ketika Kartika sedang berada di dalam berganti pakaian. Tanpa sengaja Kevin melihat lekuk tubuh Kartika dan menelan ludah. Ia terpesona dengan lekuk tubuh Kartika yang kini hanya terbalut pakaian tidur yang tipis. yang Kartika ambil dari dalam lemari rumah itu. Entah rumah siapa dan punya siapa. Yang pasti keduanya merasa tertolong dengan keberadaan rumah itu.