
"Kartika, jangan pergi!" rintih Kevin di sela kesakitannya. Namun, sepertinya niat untuk mencegah Kartika gagal. Wanita itu tetap melangkahkan kakinya tanpa ragu. Tinggallah kini dirinya sendiri. Peluru yang bersarang di dadanya meninggalkan rasa sakit mungkin menembus lobus pernapasannya. Kevin pasrah ingin menelpon. Tetapi ponsel berada di atas meja. Dirinya tidak sanggup untuk mengambilnya. Tenaga nya seolah terkuras habis tak bersisa oleh rasa sakit.
Kartika berjalan menyusuri trotoar akan kembali ke rumahnya. Walaupun tak tahu caranya harus bagaimana. Uang! Sepeser pun ia tidak membawanya. Lantas bagaimana caranya ia pulang? Kartika terus terus berpikir. Jika tetap berjalan akankah bisa sampai di rumah? Walaupun tidak tahu jalan akan ia lakukan. Dia akan bertanya sambil terus berjalan. Walaupun akan memerlukan waktu yang beberapa hari untuk sampai di rumah tidak apa akan Kartika lakukan.
Kartika terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Dalam hati sebetulnya dirinya tidak tega meninggalkan Kevin yang terluka oleh tindakannya. Tetapi dirinya juga ingin pulang. Nasibnya menjadi seperti ini pun karena ulah Kevin jadi dia pantas mendapatkan luka itu.
Air mata terus mengalir dari sudut mata Kartika. Bagaimana jika Kevin meninggal puas kah hatinya?
Sementara di lubuk hati terdalamnya masih menyimpan cinta. Tidak aku tak boleh kasihan. Dia juga melakukan semuanya padaku tanpa rasa kasihan.
Dia pantas menerima itu!
Berbagai pertanyaan dan pemikiran yang bertolak belakang antara hati baik dan hati jahat silih berganti menempati hati Kartika.
Wajah Kevin yang kesakitan dan ambruk terus membayangi pikirannya.
__ADS_1
Seketika Kartika menghentikan langkah kakinya, memutar tubuhnya berlari kembali menuju rumah yang baru saja ditinggalkannya.
Air mata tak henti terus mengalir dari kedua bola mata indahnya. Hingga tiba didepan pintu yang terbuka Kartika melihat Kevin yang masih terkulai di lantai dengan tangan masih memegang dada yang terkena tembakan. Darah segar terus mengalir membasahi kemeja putih Kevin hingga berwarna merah sebagian.
Kartika melangkah masuk menghampiri Kevin. Wajah pria yang terbaring tersenyum pada Kartika.
"Kamu kembali!"
"Diam lah jangan banyak bicara."
"Jangan menghubungi rumah sakit nanti kita tertangkap banyak pengawal di luar sana yang sedang mencari kita," ucap Kevin mengingatkan.
Kartika urung menekan tombol darurat. Wanita itu menatap Kevin.
"Lalu aku harus apa? Membiarkanmu mati di sini dan aku masuk penjara?"
__ADS_1
"Bukankah itu yang kau inginkan!"
Kali ini Kartika yang terdiam. Memang betul ucapan Kevin tapi itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Wanita itu terus terisak tidak tega melihat ke adaan Kevin yang semakin lemah karena mengeluarkan banyak darah.
Kartika mengambil tubuh Kevin membaringkan Pria itu dalam pangkuannya. Mencoba memaksa Kevin untuk tetap membuka matanya dengan menepuk-nepuk wajahnya berkali-kali.
"Aku harus apa? bagaimana caranya agar kamu selamat?"
Wajah Kartika terlihat panik, wanita itu betul-betul menghawatirkan pria yang berada dalam pangkuannya.
"Kamu harus membedah ku untuk mengeluarkan peluru itu dari dalam tubuhku."
"Akuuu, apa aku bisa?"
Kartika menatap Kevin seolah tak percaya dengan ucapannya. Bagaimana mungkin dirinya tega membedah Kevin yang sedang kesakitan.
__ADS_1
Tapi, jika tidak dilakukan itu akan membahayakan nyawanya karena ada benda asing di dalam tubuhnya. Dia sendiri bukan seorang petugas kesehatan bagaimana cara melakukan itu