Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Mencari petunjuk


__ADS_3

"Kamu tega berbuat seperti itu, hampir saja ayahku tiada jika tidak ada yang mendonorkan darah."


Evi menunduk tidak bisa berkata, memang benar dirinya salah, tapi itu karena emosi jika tahu Sebelumnya tidak mungkin ia melakukan hal itu.


Royadi yang mendengar pembicaraan di depan pintu langsung masuk, kedua wanita dengan usia yang berbeda menoleh ke arah pintu karena mendengar langkah seseorang masuk.


Keduanya melihat Royadi yang berjalan pelan dengan perban di kepalanya. Melihat hal itu Evi menunduk kepala. Evi merasa malu atas perbuatan yang telah mencelakakan orang baik di hadapannya.


Evi beringsut untuk berdiri, menghampiri pria dengan balutan baju tidur yang di kenakannya.


Iya berlutut di kaki Royadi untuk meminta maaf, Royadi memegang pundak Evi untuk kembali berdiri. Royadi tahu apa yang Evi lakukan salah tetapi dirinya juga sadar tidak baik jika harus mendendam padanya juga


Semua yang terjadi atas kesalahan masa lalu, atas adu domba seseorang. Yang mengakibatkan perselisihan terus berulang.


Royadi memaafkan Evi supaya tidak melakukan hal yang sama kembali, supaya amarahnya bisa di redam Royadi menjelaskan jika keluarganya adalah sekumpulan orang baik tidak seperti yang di ceritakan oleh neneknya.


Evi bangkit dari duduk, Royadi menuntunnya untuk duduk kembali.


Matanya berkaca-kaca seolah akan menangis.


Royadi menempelkan telapak tangan Kartika kepada punggung tangan Evi dan berkata, "sekarang kalian adalah kakak beradik. Berlakulah selayaknya saudara jangan terus berselisih. Berdamailah itu akan lebih baik untuk kita."


Kedua wanita itu menatap Royadi merenungkan perkataan yang baru saja di dengarnya. Memang benar ucapan tersebut. Sangat masuk akal. Tidak baik jika sesama saudara saling bertikai dan berselisih.


Setelah Evi pamit pulang Royadi masuk kembali ke kamar Kartika. Royadi ngin mengetahui siapa yang sudah berbaik hati mendonorkan darah untuk dirinya. Sedangkan istrinya bilang tidak ada seorang pun dari keluarga yang mempunyai darah yang golongannya sama dengan dirinya.


"Anakku siapa yang telah mendonorkan darah padaku. Sehingga aku masih bernafas hari ini?"


Kartika yang berdiri di depan jendela, memperhatikan bunga yang sedang mekar di tepi kolam bergeming. Spontan memutar tubuhnya menghadap Royadi yang berdiri di belakangnya.


"Maaf Ayah, aku tidak bisa memberi tahumu siapa orangnya. Karena dia telah berpesan padaku untuk merahasiakannya, jadi maaf."


"Mengapa kau tidak jujur saja pada Ayah, supaya ayah bisa mengucapkan dan membalas budi baiknya."


"Bukankah ayah selalu memberiku nasihat tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah."


Royadi terdiam mendengar penuturan putrinya.


"Baiklah jika kamu tidak mau memberi tahu ayah."


Royadi keluar dari kamar Kartika melangkah menuju ruang keluarga menghampiri putrinya kecilnya yang sedang bermain rumah-rumahan.


"Ayah ...."

__ADS_1


Sapa mentari senang melihat ayahnya sudah bisa keluar dari kamar dan menghampirinya.


Mentari mendekat dan memeluk kakinya. Royadi membungkukkan tubuhnya, duduk di atas karpet bersama mentari.


Mentari memeluknya hangat, mungkin ia sangat kangen dengan ayahnya yang beberapa hari hanya terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.


"Ayah aku periksa, ya?"


Royadi hanya tersenyum ketika mentari menempelkan stetoskop mainan di jidatnya. Kemudian turun ke dadanya.


"Apakah, di sini sakit?"


"Tidak sayang, ayah sudah sehat sekarang."


"Ihhh ..., ayah minum obat dulu biar tambah sehat."


Putri kecilnya memberinya air dan sebuah mainan kecil berupa kancing baju yang tidak terpakai sebagai obatnya.


Di serahkan obat mainan tersebut ke tangan Royadi, menyuruhnya untuk meminumnya.


Royadi pun mendekatkan gelas kecil mainan ke dekat bibirnya dan pura-pura meminumnya. Mentari tertawa gembira melihat ayahnya melakukan interaksinya dengan baik.


Royadi pun tersenyum melihat putri kecilnya tubuh dengan baik dan sekarang sangat bawel.


Royadi mencubit pipi cabi mentari dan berkata, "Ayah tinggal dulu, lanjutkan mainnya."


Titin memang membebaskan putrinya bermain sesukanya dengan aturan harus membereskan semua benda yang di mainkannya kembali ke tempat semula.


Karena jika pekerjaan itu di limpahkan padanya tentu ia kecapean harus terus mengurus rumah dengan hal sepele sementara putrinya bisa membereskannya sendiri.


Selain itu Titin ingin menerapkan hidup rapi, melatih kemandirian dan tanggung jawab dalam diri anaknya.


Royadi yang masih penasaran akan siapa yang mendonor darah pada dirinya. Akhirnya kembali ke rumah sakit untuk bertanya tentang siapa yang menolongnya.


Riyadi mendatangi Dokter yang merawatnya waktu itu, dokter Devan yang sekarang sedang ada di ruang kerjanya.


Royadi mengeruk pintu kerja Dokter Devan, seorang perawat keluar dan mempersilahkannya masuk.


Tampak di sana Dokter Devan duduk di belakang meja kerjanya, mempersilahkan Royadi masuk.


Setelah bersalaman Royadi duduk dan langsung bertanya pada pokok pembicaraan yang ingin di tanyakan.


"Dok, apakah dokter masih ingat tentang seseorang yang mendonorkan darahnya  pada saya?"

__ADS_1


"Aku tidak ingat tapi bisa di lihat pada prosedur rumah sakit barang kali di sana masih ada."


"Saya perlu itu Dok, bagaimana cara mengetahuinya?"


"Anda bisa menghubungi petugas di bidang itu saat penandatanganan operasi."


"Berarti saya harus ke ruang operasi untuk mengetahui hal ini."


"Ya, anda bisa bertanya di sana."


"Baiklah terima kasih."


Royadi pun pamit dari ruang dokter berniat untuk bertanya di ruang operasi.


Ketika seseorang lewat dengan pakaian operasi Royadi menahannya dan bertanya.


"Maaf bisa bicara sebentar?"


"Maaf, ini ruang Steril mari bicara di luar ruangan ini."


Orang dengan pakaian operasi memberi tahu Royadi tidak seharusnya ia berada di sana. Royadi mengerti dan membuntutinya dari belakang.


Tiba di ruangan orang tersebut masuk dan duduk di kursi yang berderet hanya ada beberapa kursi saja. Mungkin ini ruang ganti untuk pegawai.


"Ada apa sebenarnya?"


"Begini saya kemarin di operasi dan memerlukan donor darah, tapi saya tidak di beri tahu siapa yang mendonorkan darah pada saya. Padahal saya hanya  ingin tahu siapa orang tersebut. Hal ini sangat mengganggu saya karena menyangkut masa depan seseorang."


"Baiklah saya coba cari berkasnya dahulu. Anda tunggu di sini saja."


"Baik, saya akan menunggu."


Pegawai tadi mendatangi maf pasien yang berderet untuk mencari rekam medis Royadi.


Setelah ketemu petugas itu menghampiri Royadi menyerahkan berkas yang baru saja di ambilnya. Royadi membolak-balik berkas yang dibacanya. Di sana tertera nama Kevin yang telah mendonorkan darah.


Riyadi kaget dengan huruf yang baru saja di bacanya.


"Kevin ," gumamnya pelan.


Mengapa darahnya bisa cocok padaku!


"Baiklah terima kasih sudah membantu saya."

__ADS_1


"Sama-sama."


Royadi yang merasa ada hal aneh meminta seseorang untuk mendapatkan sampel dari Kevin yaitu helai rambut atau apapun itu yang bisa di jadikan alat untuk tes DNA dan menyamakannya dengan  DNA dirinya.


__ADS_2