
"Tanya saja padanya! Aku mau pulang." Kartika memutar tubuhnya.
"Tidak, tetaplah di sini!" cegah Kevin meraih tangan Kartika.
Kartika menepis tangan Kevin yang memegangnya dengan kasar. Wanita itu berlari ke arah pintu gerbang. Namun, di hadang oleh para pengawal sehingga tidak bisa keluar. Kevin menariknya, membujuk Kartika agar tetap tinggal bersamanya. Namun, Kartika tetap pada pendiriannya, berontak hingga kelelahan, syok dan tidak sadarkan diri.
Kevin kaget menangkap tubuh Kartika yang oleng hingga tidak sampai terjatuh ke lantai.
Kevin menyesal atas tindakannya hingga Kartika harus menderita karena ulahnya.
Pria tampan berjas navy membopong tubuh ramping Kartika. Kakinya melangkah melewati semua mata yang menatap dengan tatapan heran, benci dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pria di hadapannya bisa pula berwajah muram atas satu wanita.
Langkah Kevin berhenti di pintu kamarnya. Tangannya bergerak membuka pintu. Mendorong dengan kakinya hingga pintu terbuka melangkah masuk. Dibaringkan tubuh wanita yang tidak sadarkan diri di atas ranjang.
Kevin duduk di sisi tempat tidur menatap wanita yang membuat hatinya tak karuan. Kevin kasihan harus melibatkan Kartika yang tidak tahu apa-apa tentang balas dendamnya.
Kevin bangkit dan memanggil Yayah orang paling ia percaya di rumahnya. Setelah terlebih dahulu mengunci pintu.
"Yayah, Yayah!"
Tergopoh-gopoh Yayah menghampiri majikan mudanya.
"Ya, Tuan. Ada apa?"
"Aku ada urusan, jika Kartika membutuhkan bantuan tolong layani."
"Baik, Tuan."
"Ini kuncinya, jangan biarkan dia kabur."
"Baik."
Yayah menerima kunci kamar yang di serahkan padanya.
Memasukan ke dalam saku bajunya.
Sementara itu Renata merajuk pada Salamah.
"Lihat, Nenek. Dia membawa wanita itu ke kamarnya."
__ADS_1
Renata menunjuk Kevin yang menggendong tubuh Kartika masuk ke dalam kamar.
Salamah tidak bisa berkata-kata, ia bergegas pergi meninggalkan ibu dan anak yang masih mematung di ruang tamu.
Yuli Menghampiri Renata dia memeluk putri semata wayangnya. Ia tidak menyangka jika rumah tangganya akan menjadi rumit. Yuli pikir setelah pernikahan itu selesai urusan dengan wanita itu juga selesai. Namun, ternyata tidak Kevin sekarang membawa wanita itu kerumahnya. Yuli merasakan bagaimana hati anaknya yang tersayat sembilu, melihat sikap menantu terhadap wanita baru itu.
"Ibu, Aku akan mengusirnya dari sini."
Renata berlari kearah pintu kamar Kevin. Namun, di hadang oleh Salamah.
"Jangan menambah runyam, jika masih ingin tinggal di sini!"
Renata menatap wajah wanita tua yang memegang lengannya.
"Aku ini istri sahnya Kevin, sedangkan dia hanya gundik. Gundik. biarkan aku mengusirnya." tangis Renata pecah tidak kuasa lagi menahan amarahnya dalam dadanya yang meluap-luap hingga terduduk di lantai.
Yuli yang tak tega melihat anaknya menangis. Menghampiri, memapahnya untuk berdiri membawa Renata ke kamarnya.
Keduanya duduk di sisi ranjang.
"Lihat ibu, aku masih saja di kamar ini dan Kevin di kamarnya. Kami masih saja hidup terpisah walaupun satu rumah tidak ada ikatan. Sedangkan wanita itu baru saja mengenalnya tiga hari dan baru kemarin menikah. Tapi lihat sikap Kevin kepadanya sangat manis. Dengan membawa wanita itu masuk ke kamarnya. Hilang sudah harapanku untuk bisa mengambil hatinya, Bu?"
"Kapan ..., kapan ..., jalan mulus akan terbentang di depanku. Jika ada wanita sialan itu!"
Renata bangkit dari duduknya berjalan ke arah meja, tangannya mengambil pisau yang tergeletak di atas piring berisi potong apel.
Renata menempelkan pisau itu di pergelangan tangan tepat pada urat nadinya. Renata akan berbuat nekat. Batinnya betul-betul terpukul dengan kehadiran Kartika yang tiba-tiba di bawa oleh Kevin ke rumahnya.
Yuli tercengang dengan tindakan putrinya. wanita itu tidak k menyangka jika putrinya akan berbuat nekat. Yuli bangkit dari duduknya menghampiri anaknya yang telah meletakkan pisau di urat nadinya. Hanya dengan satu goresan saja nyawa putrinya akan lenyap. Ini tidak benar, Aku harus bertindak tapi bagaimana? Ini semua gara-gara Kevin menantunya yang membawa wanita lain ke dalam rumah ini. Sehingga putrinya menjadi kacau.
"Kevin tolong ..., siapa saja tolong aku. Tolong Renata .... Renata ku!"
Kevin yang mendengar teriakan mertuanya berlari menuju kamar Renata. pria itu melihat Renata sedang memegang pisau di tangannya dan berniat bunuh diri.
Kevin kaget buru-buru masuk kedalam kamar istrinya memeluknya dari belakang.
"Jika kau memang mencintaiku jangan kau akhiri hidupmu." Kevin berbisik di telinga Renata.
Wanita dalam dekapan Kevin menjatuhkan pisau, membalas pelukan Kevin. Renata masih menginginkan Kevin walaupun sikapnya tetap dingin padanya. Kata-kata yang barusan menyadarkan dirinya. Bahwa Kevin masih menginginkannya untuk terus hidup.
__ADS_1
Kevin membimbing Renata untuk kembali ke tempat tidur menyelimutinya.
Yuli melihat tindakan Kevin merasa lega. Selama Renata masih patuh pada Kevin, dirinya tidak akan kehilangan putrinya. Hanya saja Yuli menyesali tindakan Kevin yang belum juga bisa membalas cinta putrinya. Padahal putrinya itu cantik tidak kurang apapun dalam dirinya.
Malam kian larut Titin masih memandangi bintang di luar. Setelah menidurkan Mentari. Hatinya gundah karena belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Kartika. Separuh dirinya hilang seolah tidak dapat berpijak dengan benar. Hati wanita paruh baya itu terlalu sedih mengingat pernikahan putrinya dan anaknya yang tidak bisa di rengkuhnya beberapa hari ini. Titin sangat ingin memeluk dan melihat anaknya tetapi satu kabar pun belum datang padanya.
Seseorang lelaki memeluk bahunya mesra. Titin tersentak menoleh. Air mata yang bergantung mulai berjatuhan satu-satu.
"Ayo kita masuk, di sini dingin!"
"Masuklah, Aku masih ingin di sini."
Keduanya saling tatap, Royadi mengambil jemari Titin dan di genggamannya.
"Maafkan aku, jika bukan karena ulahku anak kita pasti ada bersama kita."
"Memang apa yang kau lakukan sehingga kau menjauhkan aku dan Kartika." Titin melepaskan jemari yang ada di dalam genggaman Suaminya.
"Kamu tahu dulu aku menikahi seseorang dari keluarga Salamah kemudian meninggalkan wanita itu dalam keadaan hamil. Hanya untuk meraih sukses yang sekarang."
Titin menatap pria yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia menitikkan air mata di depannya.
Jika Titin tahu perbuatan Suaminya dahulu tidak mungkin mau dinikahi.
Tapi semuanya sudah terjadi, biarlah yang lalu tidak usah di ingat kembali. Yang ia inginkan sekarang, ia bisa secepatnya mendapatkan kabar dan akan melindungi putrinya dari orang jahat sekali pun itu mertuanya sendiri.
Cahaya matahari memasuki celah-celah kaca jendela di dalam kamar yang di tempati Kartika. Wanita berambut ikalĀ membuka matanya perlahan karena silau, kedua tangan menutupi wajahnya.
Perlahan Kartika melepaskan tangan dari wajahnya, menatap sekeliling kamar. kemudian duduk di atas ranjang. Selimut masih menutupi setengah tubuhnya. Kartika menyingkapnya turun dari ranjang menatap seluruh ruangan.
Kamar yang cukup besar dan tertata dengan rapih.
Kartika mengingat kejadian yang membuat dirinya ada di dalam kamar itu. Setelah melihat foto yang berada di atas meja. Kartika baru paham ternyata dirinya ada di kamar suami palsunya.
Kartika melangkah ke arah pintu berniat untuk keluar. Namun, ketika menekan gagang pintu ternyata pintu terkunci dari luar.
"Agh..., rupanya aku di kurung di sini. Kevin keterlaluan. Keluarkan aku ..., keluarkan aku ...," terisak Kartika.
Kartika memukul pintu berkali-kali hingga membuat gaduh di pagi hari yang cerah.
__ADS_1