
Hidup Humaira betul-betul sederhana demi untuk mencukupi kebutuhannya ia harus berjualan rengginang yang ia titipkan di pasar setelah di bungkus plastik rapi.
Kartika dan Kevin terus memperhatikan wanita sedang sibuk membolak-balik rengginang sambil berjongkok itu.
Royadi pun menyapa wanita tersebut, Humaira menampakkan seulas senyum di wajahnya dan kemudian mempersiapkan keduanya duduk di bale-bale kayu. Angin yang bertiup terasa menyejukkan suasana yang sedikit panas di kala matahari mulai meninggi.
"Ada perlu apa Kamu datang kemari?"
"Aku membawa anak kita beserta istrinya," sahut Royadi menunjuk pada Kevin dan Kartika yang duduk bersisian.
Humaira memandang dua orang itu sesaat seolah sedang mengingat sesuatu.
"Bukankah anakku sudah meninggal, itu yang dikatakan Mariam dulu."
Kevin dan Kartika saling bertatapan mendengar penuturan Humaira. Humaira tidak percaya jika Salamah berbohong pada Humaira sehingga wanita itu tidak mempercayai anaknya yang ada di depannya sekarang.
"Sudahlah pergi, jangan lagi mengusikku dengan masa lalu. Aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi."
"Ira, kau masih ingat anak kita mempunyai tahi lalat di tengkuknya kan? Coba kau lihat ini."
Royadi menarik tangan Humaira hingga keduanya berada di belakang tubuh Kevin.
Royadi menunjukan bagian tengkuk Kevin.
"Lihatlah, betulkan seperti ini bentuknya?"
"Tidak. Bukan, anakku sudah meninggal Aku melihat bajunya penuh darah waktu itu."
"Lalu Kevin kemana?"
"Seingat Ku Mariam mengatakan jika dia mati tertabrak truk."
"Apaaaa ...."
Ternyata memang Salamah yang mengadu domba Sku dengan orang-orang terdekatku. Keterlaluan. Dia menjauhkan ku dari orang-orang yang kucintai.
"Iya, Aku tidak salah dengar walaupun tubuhku saat itu sangat lemah, sudah pergilah Aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi!"
__ADS_1
Kevin menghampiri Humaira bermaksud ingin memeluk Ibunya. Namun, wanita berkerudung putih itu menghindar menolak untuk dipeluk.
"Ibu, Aku masih ingat Kamu selalu mengikat rambutmu ketika akan bekerja."
"Tidak Kamu bukan anakku, anakku sudah mati dan dikubur dekat dengan makam. Topan Suaminya Yuli."
"Baiklah Ibu, jika Ibu tidak percaya kita bongkar makamnya apakah ada tengkorak di sana atau kosong karena Aku di sini masih hidup hingga hari ini."
Mendengar perkataan Kevin, wanita itu tertegun sesaat seolah sedang berpikir.
Kevin kecewa mengapa Ibunya tidak mau di peluk padahal sudah jelas Aku ini anaknya. Bukankah tadi Royadi sudah menjelaskannya.
Aku masih hidup belum mati seperti yang dikatakan Nenekku.
Nenek memang keterlaluan mengatakan Aku sudah mati. Dia juga mengatakan padaku jika Ibuku sudah mati. Sebetulnya ada apa?. Aku harus percaya siapa?
Walaupun Aku sudah tahu bahwa Royadi adalah Ayahku tetapi Aku belum mengakuinya untuk memanggilnya dengan sebutan "Ayah"
Aku masih tidak percaya jika orang yang membunuh kedua orang tuaku adalah Dia dan Dia adalah Ayahku yang sebenarnya. Rumit sulit untuk Aku percaya. Kebenaran demi kebenaran yang terungkap membuat kepalaku pusing.
Aku harus menemui Nenek untuk kejelasan ini. Barangkali dia punya bukti yang lebih kuat untuk membuktikan jika Wanita ini memanglah Ibuku yang masih hidup dan Royadi memanglah ayahku
Betul seperti dugaannya ketiga orang tersebut meninggal rumahnya.
Humaira menatap Punggung ketiga orang itu yang masuk satu persatu ke dalam mobil.
Kevin yang masih tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja di dapatkannya. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Salamah. Ingin menanyakan perihal Ibunya.
Kartika berusaha melarang karena tahu Kevin pasti akan bertindak gegabah. Sikapnya yang gampang naik darah. Pria itu beralih pada mobilnya sendiri meninggalkan Kartika yang masih berdiri mematung melepas kepergiannya.
Royadi menepuk bahu Kartika, seolah berkata tenang Dia pasti akan baik-baik saja. Kartika menyentuh tepukan sang ayah di bahunya dan memaksakan senyumnya terkembang sempurna. Padahal di dalam hatinya wanita itu sangat cemas. Entah apa yang akan dilakukan Suaminya di sana jika berhasil mendapatkan kebenaran dari perkataan Salamah.
Kevin Sampai di rumah Salamah. Pria itu langsung menemui Neneknya di ruang kerja. Kevin masuk tanpa mengetuk pintu sehingga Salamah yang sedang menandatangani dokumen kaget. Kemudian melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Salamah menatap wajah Kevin yang merah tangan yang terkepal menahan marah dan dada yang naik turun tidak beraturan.
Kevin balik menatapnya seolah menantang Neneknya untuk berkelahi.
__ADS_1
"Ada apa, duduklah dulu."
Salamah berusaha bersikap lembut walaupun tahu dari sikap Kevin yang sedang menahan marah.
Kevin tidak mengindahkan ucapan Salamah. Pria itu bertanya pada pokok masalah yang ingin diketahui kebenarannya.
"Sebetulnya Ibuku itu masih hidup atau sudah tiada?"
"Ibumu sebenarnya masih hidup."
"Mengapa Nenek berbohong padaku jika Ibu dan ayahku telah tiada?"
"Maafkan Nenek."
"Kamu bukan Nenekku. Kamu merampas masa kecilku, kamu merampas orang yang kukasihi, Kau merampas Ibu dan Ayahku, Kamu merampas keluargaku. Teganya Kamu melakukan itu semua padaku yang Kamu anggap cucumu!"
Salamah terdiam, sebetulnya tujuannya mengambil Kevin dari Humaira adalah untuk menghilangkan penerus dari keturunan Royadi.
Karena Salamah tahu suami Humaira adalah Royadi dan Royadi adalah anak dari pernikahannya dengan Dahlan. Otomatis Kevin adalah calon penerus keluarga di kemudian hari untuk menggantikan Royadi.
"Kamu tidak paham akan strategi."
"Strategi apa, ini hidupku bukan untuk permainan, Nek."
"Aku paham. Apa Kamu akan terus membenciku setelah kebenaran yang kamu dapatkan?"
"Aku akan membunuhmu, untuk membayar semuanya."
Kevin mengeluarkan pistol dari saku jasnya. Menodongkannya ke arah Salamah yang sedang berdiri di hadapannya. Tangan Kevin bergetar sehingga tidak bisa fokus.
"Lakukanlah jika itu membuat hatimu lega. Tanganmu saja gemetar. Bagaimana Kamu akan membunuhku?"
Kevin tidak mempedulikan ucapannya, tangannya masih diarahkan pada Salamah, tepat mengarah pada jantungnya.
"Kamu tega membunuhku setelah Ku urus dan kubesarkan selama bertahun-tahun. Hingga sekarang Kamu menempati posisi penting di perusahaan. Mana balas budimu?"
Salamah mengungkit apa yang telah diberikan pada Kevin selama ini.
__ADS_1
Kevin seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Salamah. Pria itu bersiap menekan pelatuk pada pistol tersebut. Hanya dengan satu tarikan peluru akan melesat bersarang di dada Salamah.