
Kartika memberi instruksi untuk singgah ke suatu tempat. Tempat dimana keduanya sering bertemu. Setelah sampai Kartika turun melangkah duduk di kursi bambu. Kartika membuka pita rambut yang mengikat rambut panjangnya.
Sebuah pita biru di ikatkan di kursi menandakan bahwa dirinya baru saja mengunjungi tempat ini.
Sesaat kemudian Kartika memutuskan untuk pergi dengan Halim walaupun hatinya masih memikirkan Kevin.
Halim memperhatikan apa yang di lakukan Kartika. Pria itu tidak ingin bertanya. Cukuplah Kartika ada di sisinya itu sudah lebih dari cukup.
Keduanya memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan keduanya bersi tegang.
"Kak antar aku kembali ke rumah itu, aku ingin memastikan ucapan Renata."
"Untuk apa sudah jelas dia sudah mempunyai istri, kamu pun sudah melihat buktinya foto itu menjadi bukti jika Kevin sudah beristri."
"Tapi aku tidak yakin, karena hatiku berkata Kevin sangat menyayangi ku dan aku pun sama."
"Tika, semua pria memang seperti itu mengumbar janji pada wanita agar membuatnya terpikat."
"Tetapi dia berbeda, aku yakin pada hatiku bahwa ini salah. Aku ingin kembali kerumah itu. Putar balik mobilnya."
"Ini sudah sangat jauh percuma saja jika ingin kembali, dia sudah bersama Renata."
Mendengar ucapan Halim, Kartika hilang akal mengambil kemudi dengan paksa. Namun, Halim berusaha menguasai kemudi. Mobil pun oleng ke kanan dan kiri. Melaju tidak lurus. Pada akhirnya menabrak pohon besar di pinggir trotoar.
Kening Kartika terbentur stir mobil, darah pun membasahi keningnya, tidak berselang lama Kartika jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Melihat kondisi Kartika yang terkulai lemah Halim panik. Karena tidak ingin terjadi hal yang tak di inginkan pria itu pun berteriak meminta pertolongan setelah membuka pintu mobil.
Tidak berapa lama petugas ambulan datang Kartika pun di naikan ke atas blancar di ikuti oleh Halim yang cemas melihat ke adaan Kartika yang tergolek lemah tidak bergerak.
Sebuah panggilan masuk ketika Halim menemani Kartika di dalam ambulan. Namun, Halim tidak menjawabnya ketika tahu Ridwan yang menelpon ke ponsel Kartika.
••••
Pintu kamar terbuka Merry mendengar pembicaraan Ati dengan seseorang di telpon.
__ADS_1
"Kevin dan Kartika ada di kebun anggur, cepatlah pergi kesana dengan Halim."
Karena takut Ati berbuat ulah lagi Wanita paruh baya itu mengambil ponsel dari genggaman sang anak.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan?"
"Sudah cukup jangan berbuat ulah lagi paham."
"Aku tidak melakukan kesalahan, karena kalian semua tidak bisa menemukan Kartika, Aku berhasil menemukan keberadaannya dengan bantuan seseorang."
"Siapa orang itu, katakan!"
"Maaf tidak semudah itu, jika ibu ingin informasi Anda harus membayarnya."
Ati menyatukan jari jempol dan telunjuk yang di silangkan di depan dadanya.
"Dasar anak tidak tahu terimakasih."
Mery keluar dari kamar sang anak dengan wajah masam.
Silahkan marah sesukamu, aku hanya ingin Kartika pun tidak bahagia dengan Kevin. Jadi biarkan dia bersama Kakak dan Ridwan kembali bersama istrinya. Aku sendiri akan tertawa terbahak melihat Kartika menderita iya itu balasan yang pantas Karena telah merebut Kevin dariku.
••••
Di dalam gedung rumah sakit Kevin berpapasan dengan Salamah dan Ilham. Kevin langsung menghadang dan mengatakan ingin berbicara berdua. Salamah paham meninggalkan keduanya menuju ruangan Renata. Salamah ingin melihat keadaan menantunya yang katanya terluka dan sempat tidak sadarkan diri.
Sampai di ruangan Renata, Salamah langsung masuk, melihat menantunya terpasang selang infus dan tampak lemas. Wanita tua itu pun berucap, "jangan bertindak gegabah nanti kau akan menyesal."
Salamah berkata seperti itu karena paham dengan sifatnya. Salamah sadar jika Kartika tidak mungkin melukai orang lain. Sikapnya yang lembut mampu meluluhkan hati cucunya.
Salamah merogoh tasnya mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Cepatlah ke sini. anakmu terluka oleh ulahnya sendiri!"
Salamah memberi tahu Yuli selaku ibunya, ia tidak ingin repot merawat menantunya. Biar ibunya sendiri yang mendampinginya.
__ADS_1
Renata heran pada mertunya mengapa dia bisa tahu jika dia melukai dirinya sendiri. Tindakannya memang salah tapi saat itu hanya cara ini yang terpikir olehku saat itu. Terbayang kembali saat tiba di rumah anggur. Dirinya memberi tahu Kartika jika dirinya adalah istri sah Kevin. Renata pun memberikan Kartika pada Halim yang ikut bersamanya.
Setelah mengingatkan Renata atas tindakannya Salamah keluar dari ruangan Itu.
••••
Kevin merasa marah sekaligus kesal pada Ilham sehingga menarik baju Ilham. Kevin beranggapan jika ia memberi tahu keberadaan Kartika pada Halim.
"Kamu memberi tahu keberadaan Kartika pada Halim saat bersamaku, bukan?"
"Tidak, mana berani aku memberi tahu tanpa izin darimu terlebih dulu. Mungkin dia lelah dan ingin hidup bebas sehingga pergi bersama Halim."
Kevin melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Ilham.
"Itu tidak mungkin sesaat lalu Kartika sangat gembira jika akan tinggal di rumah anggur bersamaku. Dia sendiri menyuruhku untuk belanja keperluan kami.
"Biarkan dia bebas, bukankah kamu kasihan padanya?"
Kevin meninju tembok rumah sakit merasa kesal. Dadanya terasa sakit di tinggalkan oleh Kartika sehingga tangan kiri meremas dada kanannya.
"Walaupun Kartika membenciku tapi dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tahu hatinya hanya ingin bersamaku. Pasti ada yang tidak beres."
Wajah Kevin menjadi merah padam kedua tangannya terkepal. Keadaan dirinya lebih buruk dari pada di tinggal mati oleh Kartika.
Ilham termenung mengingatkan kembali pertemuannya dengan Ati. Apakah karena dia? Pertama ia mengabari ingin mempertemukan adiknya dan pada akhirnya Kartika tertangkap oleh Dahlan.
Kemarin juga Ati menanyakan kabar Kartika aku pun memberi tahunya jika dia baik-baik saja bersama Kevin di rumah anggur.
Ah sebaiknya aku harus lebih berhati-hati, jika terbongkar aku yang memberi tahu habislah aku.
Walaupun aku mulai menyukainya tapi tidak berarti semua hal Ati harus tahu. Ada hal-hal tertentu yang harus ku rahasiakan tentang majikanku sendiri terlebih Kevin dan Salamah menganggap ku sebagai saudara dan cucunya. Aku tidak boleh lemah di hadapannya.
Ilham melangkah menyusul langkah Kevin yang telah keluar dari rumah sakit dan mendapati majikannya di luar.
Sementara itu ada ambulan yang berhenti dan membawa blancar berisi pasien yang tidak lain adalah Kartika. Namun, Kevin dan Ilham tidak memperhatikan karena posisinya membelakangi ambulance itu.
__ADS_1
Yuli tiba di depan pintu kamar Renata langsung masuk ke dalam kamar. Didapati anaknya telah tergolek di ranjang rumah sakit dengan tangan kanannya terpasang selang infus. Renata menatap sang ibu yang baru sampai dan duduk di kursi tak jauh dari tempat ia terbaring.
"Mengapa bisa seperti ini?"