
Iya benar, sepertinya kamu tidak yakin?"
"Iya, aku hanya penasaran apa yang hendak dia ceritakan padaku. Jika kamu tahu beritahu sekarang saja. Tidak perlu aku kesana. Terlalu beresiko."
"Aku tidak tahu karena ibuku tidak mengatakan apapun."
"Baiklah, aku akan menemuinya."
Titin meyakinkan Ilham jika dia akan datang memenuhi pesan dari secarik kertas yang di tuliskan ibunya dan kini sudah ada di tangannya, di masukannya ke dalam saku dasternya.
Titin melanjutkan menjemur pakaian, sementara Ilham duduk menatap gedung dari atas atap sambil menghisap rokok yang terselip di jarinya.
Hari mulai beranjak siang ketika Kevin memanggilnya untuk pergi meninggalkan rumah Dahlan.
Ilham memohon pamit pada Titin yang belum selesai menjemur baju-baju dari dalam ember yang di bawanya.
Titin hanya mengangguk memberikan ijin pada Ilham untuk pergi meninggalkan atap yang sedari tadi menemaninya menjemur pakaian.
Kevin yang masih bimbang akan kebenaran dari cincin itu. Berniat untuk menemui Salamah untuk meminta penjelasan yang sebetulnya.
Malam harinya walaupun lelah setelah rapat di perusahaan. Kevin menyempatkan menemui Neneknya di ruang kerjanya. Kevin melihat pintu ruang kerja neneknya tidak menutup dengan benar.
Kevin mengetuk pintu, masuk tanpa menunggu jawaban dari Salamah.
Wanita tua dengan guratan kecantikan yang masih terpancar. Menoleh ke arahnya.
"Ada, apa malam-malam menemuiku?"
"Aku hanya ingin penjelasan dari nenek."
"Penjelasan soal apa? Apa kamu sedang menyelidiki sesuatu? Jika aku tahu akan aku beri tahu."
Salamah menatap Cucunya dan membereskan kertas yang berserakan di atas mejanya. Menumpuk satu demi satu hingga tersusun menjadi rapih.
Kevin masih berdiri dengan raut muka yang sulit untuk di pahami. Pria sedikit bimbang jika pada akhirnya neneknya mengatakan tentang apa yang ingin dia ketahui.
Salamah menghampiri cucunya, menyuruhnya untuk duduk. Kini keduanya duduk berhadapan dengan meja kerja sebagai pemisah.
"Apa nenek yakin jika ayah dan ibuku telah tiada?"
Salamah tersentak kaget menatap wajah Kevin.
"Mengapa kamu bertanya hal yang memang itu kenyatannya. Kamu tidak ingat atau pura-pura lupa?"
__ADS_1
"Aku hanya tidak yakin, karena Royadi berbicara tentang cincin ibu."
"Jika tak yakin mengapa kamu mempercayainya?"
Kebun terdiam sesaat, mencari kata untuk menjawab pertanyaan neneknya.
Terdengar seseorang terbatuk di balik pintu, rupanya ada yang menguping pembicaraan mereka. Keduanya langsung menoleh ke arah pintu.
Tampak di sana Yayah sedang berdiri dan siap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"BERHENTI!"
Seru Salamah pada Yayah, raut wajah Yayah pucat ketakutan. Wanita itu tahu jika Salamah akan bertindak kasar jika dirinya tidak menuruti permintaannya. Dengan terpaksa Yayah memutar tubuhnya berjalan menghampiri Salamah dengan wajah menunduk.
"Apa yang kamu dengar?"
"Tidak ada."
"Bohong, bicara saja jika kau mengetahui sesuatu!"
Wajah Yayah semakin pucat. Wanita itu betul-betul ketakutan.
"Katakan saja, aku pun akan jujur padamu Kevin."
Suara seseorang datang dari arah pintu, di sana berdiri Yuli dengan tangan bertolak pinggang.
"Ada apa sebenarnya? Apa hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Tentang kebenaran yang sebenarnya?"
"Aku yang menyelamatkan nyawa Evi dengan taruhan suamiku dan badanku yang luka." Yuli menarik membuka resleting baju hingga memperlihatkan punggungnya yang penuh dengan bekas luka bakar.
"Dia itu wanita kejam, segala macam cara akan di lakukannya demi untuk menguntungkan dirinya sendiri," tunjuk Yuki pada Salamah dengan jari telunjuknya.
"Tidak sadarkah kamu dengan pernikahan mu yang di manfaatkan olehnya?"
Yuli menatap Kevin dan Salamah bergantian.
"Aku pun menyaksikan jika ibumu di lecehkan di kantornya oleh anaknya, tapi apa nenekmu ini diam saja tidak berusaha untuk menolong menantunya."
Wajah Kevin berubah dari yang tadinya tenang kini wajahnya tampak merah dan mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Belum lagi Yayah yang menyela pembicaraan.
"Karena ibumu tidak tahan dia menuliskan surat dan menyuruh Suaminya untuk menyelamatkan dirinya. Namun, terlambat. Ibumu sudah tewas tertembak untuk melindungi harga dirinya."
"Sudah cukup!"
__ADS_1
Kevin menangis membayangkan betapa ibunya dulu sangat menderita. Kevin sama sekali tidak mengetahuinya.
Kevin hanya percaya pada neneknya yang mengatakan jika ibunya mati di tembak oleh penjahat karena melindunginya. Tapi apa kenyataannya jauh berbanding terbalik.
Karena tidak tahan terus mendengar pengakuan demi pengakuan yang mengguncang dirinya. Kevin pergi meninggalkan ke tiga wanita yang masih berdebat, mengungkapkan kebenaran yang pernah di lihatnya beberapa tahun lalu. Di kala dirinya masih sangat kecil dan tak tahu apa-apa.
Kevin meninggalkan rumah dengan menaiki mobil pribadinya tanpa supir. Pria itu menyetir sendiri ingin menenangkan perasaannya.
Kevin sampai di tempat favoritnya bersama Kartika. Kevin turun dari mobil melangkah mendekati saung naik kemudian duduk menetap indahnya malam dari ketinggian.
Menatap bintang yang berkelap-kelip bertaburan di langit. Namun, hatinya kosong.
Kevin bingung mendapati kenyataan yang sungguh membuat dirinya terluka semakin dalam.
Sementara itu Salamah bertanya pada kedua wanita di depannya.
"Mengapa kalian berdua membongkar rahasia yang ku tutup selama bertahun-tahun?"
"Cukup, aku tak ingin terjadi pertumpahan darah lagi seperti dahulu."
"Ya, benar aku ingin hidup dalam ketenangan bukan ketegangan."
Salamah terdiam, niatnya untuk membalaskan dendam belum terlaksana dengan sempurna haruskah. Dirinya menghentikan semua kerja kerasnya selama ini. Sementara hatinya masih sakit. Luka hatinya masih menganga, sangat perih hingga hari ini.
Jika dua orang di depannya masih berusaha keras untuk menghentikannya. Terpaksa Salamah harus menyingkirkan keduanya satu persatu.
Biar nanti ku pikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Yuli terlebih dahulu.
Sementara Titin teringat pada surat yang di berikan Ilham. Titin memberanikan diri untuk keluar malam setelah pekerjaannya selesai dan telah menidurkan putri kecilnya Mentari.
Turun menyelinap keluar dengan hati-hati meninggalkan rumah Dahlan. Wanita itu harus bergegas kemudian segera kembali sebelum Suaminya pulang kerja.
Titin berjalan cepat menyusuri gang sempit sebagai jalan pintas hingga tiba di jalan yang lebih besar, terus berjalan menyusuri trotoar dan sampailah di pintu gerbang rumah Salamah yang luas.
Wanita itu menghampiri penjaga yang sedang berjaga di pintu gerbang. Dua penjaga tersebut menghadang dirinya supaya tidak masuk.
"Maaf aku sudah ada janji sebelumnya jadi biarkan aku masuk!"
"Dengan siapa Anda ingin bertemu, biar ku sampaikan terlebih dahulu, jika tidak kamu akan dalam bahaya masuk tanpa ijin ke dalam."
"Baik, aku sudah ada janji dengan Yayah. Kepala pengurus rumah tangga di sini."
"Baiklah tunggu di sini dulu, biar saya panggilkan."
__ADS_1
Kedua penjaga tersebut bersikap ramah terhadap Titin, mereka tidak se kasar wajahnya. Keduanya bertutur kata dengan sopan, mungkin jika mereka bersikap kasar itu memang atas perintah majikannya. Namanya juga menjalankan tugas. Ya tugas apapun baik itu baik atau buruk tetap harus dilakukan. Karena memang itu pekerjaannya.
Titin mematung membelakangi pintu gerbang, menunggu Yayah datang menemuinya. Lama ia menunggu kira-kira 10 menitan tapi yang di tunggu belum juga muncul sedangkan penjaga sudah kembali dari 5 menit lalu, apakah dia sangat sibuk sehingga tidak buru-buru menemuiku.