
Tidak butuh waktu lama, Anton sudah menemukan informasi tentang gadis dalam foto itu. Menurut hasil yang dia dapatkan, gadis itu bernama Saraswati Dewi, kepala Divisi Marketing yang berada di lantai 5.
Anton berpikir, haruskah dia memberitahu Bintang ataukah tidak perihal ini.
Dia ingin sedikit bermain-main agar Bintang tidak langsung bertemu dengan gadis yang telah menyita perhatian dan membuat semua jadwal kerja Bintang berantakan.
Namun mengingat Bintang yang begitu frustasi saat berusaha mencari gadis itu, Anton tidak tega untuk mengerjainya. Apalagi ayah Bintang pun memperingatkan dirinya untuk lebih menyemangati Bintang agar kinerjanya lebih baik lagi. Dia tidak mau gajinya dipotong kalau tidak becus membuat Bintang menjadi CEO yang patut diperhitungkan keberadaannya di perusahaan itu.
Setelah mendapatkan semua informasi tentang Saras, Anton langsung mencetak data dari komputernya lalu keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan Bintang. Dia langsung masuk setelah terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan itu dan mendapat ijin dari Bintang.
“Bagaimana, apakah kamu mendapatkan hasil?” tanya Bintang tanpa basa basi saat Anton memasuki ruangannya.
“Sudah. Ternyata dia karyawan di perusahaan ini, sesuai dugaanku” jawab Anton langsung.
“Benarkah? Siapa namanya, ada di bagian mana? Apakah kamu sudah mendapatkan alamat nya lengkap?” tak sabar Bintang mencecar Anton dengan berbagai pertanyaan yang sudah membuatnya makin penasaran dengan gadis yang telah menjungkirbalikkan kehidupannya beberapa hari ini.
Anton terdiam melihat tingkah Bintang yang mulai memperlihatkan rasa ingin tahunya yang besar. Tanpa menjawab Anton langsung menyerahkan satu lembar kertas yang sejak tadi dipegangnya.
Bintang diam sejenak membaca profil tentang Saras. Seulas senyuman terbit dari wajahnya yang selalu murung beberapa hari ini. Setelah dirasa cukup mendapatkan informasi tentang gadis itu, Bintang langsung beranjak dari tempat duduknya dan hendak keluar dari ruangannya.
“Mau kemana kamu?” tanya Anton berusaha mencegah langkah Bintang.
“Aku akan menemui nya” jawab Bintang spontan.
“Apa kamu sudah tidak waras? Apa yang nanti akan kamu katakan kalau kamu tiba-tiba menemuinya di kantor begini? Apakah kamu akan mengatakan bahwa kamu adalah pria yang sudah menidurinya kemarin?” cecar Anton yang sanggup menghentikan langkah Bintang sehingga dia kembali menutup pintu dan duduk di sofa yang terletak di ruangan itu. Semangatnya yang tadi berkobar seketika menghilang mendengar pertanyaan Anton yang cukup masuk akal itu.
“Lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar ingin menemuinya Ton” jawab Bintang yang merasa frustasi karena tetap tidak bisa menemui gadis yang sudah merebut perhatiannya.
__ADS_1
“Sabar, semua ada jalannya. Kalau kamu terburu-buru begini, aku takut dia akan menjauh atau malah kabur darimu” pinta Anton.
“Lalu apa rencanamu sekarang?” lirih Bintang.
Anton nampak diam berpikir. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa bosnya yang lulusan Universitas ternama di luar negeri dan merupakan pewaris tunggal puluhan perusahaan di seantero Nusantara itu tiba-tiba menjadi orang bodoh tatkala berurusan dengan gadis yang belum jelas asal-usulnya itu.
“Aku tahu bagaimana caranya agar dia bisa dekat denganmu” akhirnya Anton membuka mulut.
Di tempat lain, Saras yang sejak tadi kembali dari kantin terlebih dahulu, nampak mengerjakan laporan penjualan yang belum dia selesaikan tadi pagi. Beberapa menit kemudian keempat temannya memasuki ruangan itu.
“Kamu tadi tidak makan siang, Ras?” akhirnya Dika yang sejak tadi pagi diam, mulai buka suara. Pandangannya tidak lepas dari Saras sejak dia masuk ke dalam ruangan itu.
“Mm, tadi aku hanya minum jus jeruk Dik, masih kenyang, jadi aku tidak makan” jawab Saras sambil menunjukkan deretan giginya yang putih.
“Mbak Saras tadi ke kantin? Kog gak gabung sama kita?” Eka menimpali.
"Syukurlah mereka tidak menyadari kehadiranku di kantin tadi, jadi tidak ada salahnya jika sedikit berbohong" batin Saras.
“Tadi ada menu baru di kantin mbak, Soto ayam Lamongan, enak banget. Mbak Saras musti coba” Hera tak kalah heboh memperkenalkan menu baru yang dijual di kantin perusahaannya itu.
“Baiklah, besok pas makan siang kita coba ya?” balas Saras.
“Saya udah nyobain tadi mbak, tapi kayaknya bakal jadi menu andalan saya saat makan siang di kantin, sebab rasanya seperti Soto ayam Lamongan langganan saya yang biasanya lewat depan rumah” balas Hera yang selalu antusias jika membahas makanan.
Saras dan Eka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala menanggapi sifat Hera yang masih agak kekanakan itu.
Dika yang mengetahui kalau tadi Saras sempat menikmati minumannya di salah satu sudut kantin sendiri, hanya diam saja menatap Saras.
__ADS_1
Dia yakin Saras sedang menjauhinya, oleh karena itu dia membiarkan Saras membuat alasan tadi kepada temannya yang lain.
Tiba-tiba ponsel Saras bergetar. Setelah Saras membuka kunci layar ponselnya, nampak ada satu pesan masuk dari Wulan.
“Kamu sudah makan siang, Ras?” ~Wulan
“Aku belum lapar, Lan. Tadi aku hanya minum jus jeruk saja. Aku benar-benar tidak selera makan. Nanti saja sepulang dari kantor kita mampir ke warung mie ayam langganan kita” ~Saras
“Tadi setelah rapat aku hanya memesan makanan lewat online, dan sekarang masih mengerjakan laporan hasil rapat tadi. Aku belum sempat membaca hasil laporan penjualan yang kamu berikan lewat anak buahmu kemarin juga. Sepertinya hari ini aku harus lembur. Maaf jika aku tidak bisa menemanimu makan mie ayam sepulang kerja nanti ya?” ~Wulan
“Oke kalau gitu nanti aku langsung pulang saja. Malas jika harus makan mie ayam sendirian” ~Saras
Setelah membalas pesan dari Wulan, Saras langsung mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda agar dia bisa segera pulang tepat waktu.
Dika yang sejak tadi mencuri pandang pada Saras, memperhatikan sikapnya yang tidak seperti biasanya. Seperti sedang memikirkan sesuatu hal, dan wajahnya yang tidak ceria seperti biasa membuat Dika yakin kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.
“Apakah dia sudah mengetahui perselingkuhan Andi?” batin Dika.
Dika masih tahu batasannya, dan dia tidak akan bertanya apapun pada Saras, dia hanya bisa mengamati dari kejauhan saja. Meski sebenarnya dia sangat berharap kalau Saras mau membuka hati untuknya.
Dika sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Saras sejak mereka baru sjaa diterima bekerja di perusahaan itu. Apalagi mereka ditempatkan di Divisi Marketing yang sama, membuat Dika berharap bisa mengambil hati gadis itu.
Namun sebulan kemudian Dika baru mengetahui bahwa Saras sudah memiliki seorang kekasih, yaitu Andi.
Dika mengenalnya, karena pada jaman kuliah dulu Andi terkenal sebagai seorang playboy yang suka gonta-ganti pasangan dan mengeruk keuntungan dari wanita yang dipacarinya.
Dika merasa tidak enak jika harus membuka aib Andi, karena dilihatnya Saras merasa bahagia dengan hubungan itu, bahkan hubungan itu bertahan hingga 5 tahun lamanya.
__ADS_1
Hingga sekarang Dika masih belum bisa membuka hati untuk wanita lain, karena jauh di dalam lubuk hatinya, Dika masih berharap jika suatu hari Andi akan memutuskan hubungannya dengan Saras, dan disitulah dia berharap bahwa dia akan mendapatkan kesempatan untuk mendekati Saras. Dan dia yakin, sepertinya kesempatan itu akan datang sekarang...