
"Anda di mana Tuan?"
"Jemput aku di Alun-alun kota."
"Baik, Aku segera ke sana."
Kevin menaruh kembali ponselnya di saku jasnya. Pria itu tidak ingin pulang jika tidak ada yang menjemput. Biarlah tertidur di dalam mobil semalaman.
Kevin ingin menenangkan diri dan berpikir kemana perginya Kartika. Jangan sampai Halim yang menemukan Kartika lagi. Jika itu terjadi dirinya tidak akan bisa lagi menemuinya.
Hancur hatinya jika Kartika bertemu dengan Halim. Apalagi sampai menikah. Kevin tidak ingin Kartika pergi ke lain hati. Cukup hanya dirinya yang di harapkan Kartika bukan orang lain.
Sementara itu Kartika terpaksa memberanikan diri menelpon ibunya Karena tak ada pilihan lain. Kartika berharap ibunya mau menerima dirinya kembali. Wanita itu pun mencari telpon umum untuk menelpon ibunya. Setelah menemukan Kartika segera masuk ke dalam dan memasukan beberapa koin. Tidak harus menunggu lama sambungan telpon pun terhubung.
[Ibu, tolong aku!]
[Kamu kenapa, Nak? Sedang berada dimana?]
[Aku melarikan diri dari Halim dan Kevin, sekarang aku berada di persimpangan jalan Dago. Aku bingung harus kemana?]
[Tunggu di situ, ibu akan menjemputmu]
[Baik Bu, jangan lama-lama aku takut, ini sudah larut malam]
[Iya, sayang ibu akan mengajak ayahmu. Pokoknya tunggu di situ!]
Sambungan telpon terputus karena memang koinnya sudah habis. Kartika tidak bisa terus melanjutkan pembicaraan. Wanita itu keluar dari gardu telpon, duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat tadi dirinya menelpon.
Jalanan mulai sepi hanya satu dua mobil yang melintas di jalan raya. Kartika menatap langit yang berkelap kelip di penuhi dengan bintang yang tampak indah. Namun hatinya hampa tidak seindah cahaya bintang di atas sana.
Sementara itu Titin membangunkan Royadi yang sedang tertidur dengan pulas nya.
"Suamiku tolong bangun!"
Titin mengguncangkan bahu Suaminya yang sedang tertidur pulas.
"Hem...."
******* keluar dari mulut Royadi kemudian tertidur kembali.
"Tolong bangun! Tika, sedang berada diluar sendirian dan sedang bingung. Bisakah kita menolongnya?"
Buru-buru Royadi menyingkirkan selimut dan duduk di tempat tidur.
"Apa, Kartika di mana?"
"Iya, dia menunggu ku untuk menjemputnya. Kartika tidak punya tempat untuk pulang, bisakah kau membawanya kemari."
"Tentu, Kartika adalah bagian dari hidupku tidak akan ku biarkan dia menderita sendirian."
Royadi bangkit dari tempat tidur, menyambar jaket dan kunci mobil yang berada di meja.
"Dia menunggu dimana?"
"Di jalan Dago dekat telpon umum."
"Baiklah aku berangkat dulu."
"Iya, hati-hati. Aku akan menunggumu."
Titin mengantar Suaminya hingga pintu pagar.
__ADS_1
Royadi mengemudikan mobilnya dengan cepat, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. Walaupun Kartika bukan putri kandung tapi Dia baginya sudah seperti darah dagingnya sendiri. Jika dia terluka dirinya pun akan sakit."
Royadi mengemudikan mobilnya dengan lambat ketika sampai di persimpangan Dago. Pria itu mencari keberadaan putrinya yang katanya menunggu tidak jauh dari tempat itu.
Royadi mencari putrinya dengan menengok ke kanan dan ke kiri. Hingga tiba di dekat telpon umum kedua matanya melihat seorang wanita muda telah duduk menatap bintang.
Dari kejauhan Royadi hapal dengan bentuk rambut dan tubuhnya. Pria itu terus melajukan mobilnya Hingga tiba di pinggiran trotoar. klakson Royadi di bunyikan untuk memanggil sang putri. Kartika yang mendengar bunyi klakson terkaget menoleh arah suara.
Dilihatnya Ayahnya telah duduk di belakang kemudi.
Kartika bangkit, mengambil tas yang dibawanya kemudian menghampiri mobil.
"Masuklah, diluar dingin."
"Maaf, Ayah aku jadi merepotkan mu."
Wajah Kartika tertunduk malu.
"Tidak, apa. Ayah senang kau mengabari ibumu tidak bertindak gegabah."
Kartika merasa senang setelah berhari-hari jauh dari ayah, ibu dan mentari sang adik yang menyayanginya. Kini bisa bersua kembali.
Kartika sigap membantu ibunya di dapur untuk menyiapkan sarapan, menjemur pakaian dan banyak lagi pekerjaan rumah yang di lakukannya.
Dari bawah tampak Halim sedang memperhatikan dirinya, Kartika pura-pura tidak melihat. Rupanya sejak Kartika meninggalkan rumah sewaan Halim. Pria itu pun kembali ke rumah Dahlan.
Halim senang bisa melihat wanita yang di cintai walaupun tidak bisa memilikinya.
"Tika, tolong ke pasar belikan ibu sayuran untuk di masak. Ini daftar belanjaannya."
"Baik."
Titin setengah berteriak mengingatkan putrinya yang langsung pergi setelah mengambil daftar belanjaan beserta uang yang di letakkan di atas meja.
Titin hanya bisa menggelengkan kepala.
Anaknya betul-betul penuh energik hari ini. Tapi ia senang melihat perubahan dalam diri Kartika.
Halim yang mendengar Kartika akan pergi keluar, segera menunggunya di pintu gerbang dengan bersandar pada tembok.
Saat Kartika keluar melewatinya, Halim menangkap pergelangan tangan Kartika.
Kartika berbalik, melihat Halim yang sedang memegang tangannya.
"Boleh aku mengantarmu?"
Karena tak enak jika menolak akhirnya Kartika menerima tawaran Halim
Halim membukakan pintu bagian depan, sehingga mau tak mau Kartika harus duduk di samping kemudi bersamanya.
Sesekali Halim melirik Kartika, mencuri-curi pandang ke arahnya. Selagi Suci fokus menatap ke depan.
Halim memarkirkan mobil ketika tiba di sebuah pasar.
Keduanya turun untuk berbelanja, Kartika membuka catatan yang di berikan Ibunya. Kartika pun mulai mencari pedagang yang di maksud ibunya untuk membeli daftar sayuran dan keperluan yang di butuhkan sang ibu.
Tangan penuh dengan kantong plastik, Halim yang berada di sampingnya tidak tega melihat Kartika kesusahan membawa kantong belanjaan.
Halim pun menawarkan bantuan pada Kartika untuk membawa kantong belanjaan. Kartika cukup berada di sampingnya saja.
Wajah Kartika memerah merasa malu dengan ucapan Halim.
__ADS_1
Kartika memberanikan diri menggenggam jari- jemari Halim yang kosong. Halim terkejut dan tersenyum. Halim senang Kartika sudah tidak canggung lagi dengan dirinya.
Keduanya berjalan beriringan, Kartika melihat deretan penjual gelang dan anting. Wanita itu berhenti sejenak memperhatikan benda-benda yang aga di depannya.
"Kamu menginginkannya?"
"Ee ..., tidak jadi."
"Kenapa, pilih saja mana yang kamu sukai."
"Benarkah?"
Wajah Kartika berseri melihat-lihat benda yang tadi sangat mengganggunya.
Sebuah cincin mainan dengan huruf bertuliskan "R"
"Boleh saya coba yang ini"
Si Penjual mengambilkan dan menyerahkannya pada Kartika.
Kartika memperhatikan huruf yang tertera di atas cincin tersebut. Wanita itu memakaikan cincin itu di jarinya. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangannya hingga cincin itu jatuh ke tanah.
"Tunggu sebentar aku belum selesai Halim."
Karena Halim tidak menjawab, Kartika pun tersadar mengalihkan tatapannya terkejut ketika yang di lihat adalah Kevin.
"Halim, tidak. Tolong aku?"
Kevin membekap mulut Kartika sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.
Halim yang dari tadi tidak memperhatikan Kartika bergeming ketika mendengar teriakan Kartika sesaat memanggil namanya. Halim baru sadar ternyata Kartika sudah tidak ada di depan penjual cincin.
Halim segera mencari Kartika. Namun, terlambat. Pria itu melihat Kartika bersama Kevin. Namun, jarak keduanya sangatlah jauh Halim tidak bisa berlari untuk mengejarnya dengan cepat.
"Sialan ...! gerutu Halim. Kenapa dia mesti muncul lagi untuk menculik Kartika.
Halim murka segera berlari ke arah mobil yang di parkiran meletakkan belanjaan yang di bawanya.
Tujuannya hanya satu rumah Salamah. Pasti Kevin membawa Kartika kesana.
Sampai di tempat yang di tuju, Halim langsung menerobos masuk sambil menodongkan senjata di tangannya.
"Dimana Kartika ...?"
"Dia tidak disini."
Halim mencengkeram tangan Renata yang sedang duduk bersama Yuli. Menariknya hingga tubuh Renata ada dalam sandra an Halim.
"Jika tidak ada, biarkan dia ikut bersamaku."
Renata yang mendengar ucapan Halim merasa takut sehingga meminta tolong pada ibunya untuk melepaskannya.
"Ibu, tolong aku!"
"Lepaskan putriku dia tidak ada hubungannya dengan Kartika."
Halim tidak mendengar permohonan Yuli terus membawa paksa Renata untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Jika ingin selamat diam lah."
Halim menodongkan pistol ke arah Renata yang berwajah pucat karena takut.
__ADS_1