Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Mengapa bisa seperti ini


__ADS_3

"Mengapa bisa seperti ini?" tanya Yuli yang ingin tahu kejadian sebenarnya. Karena pada saat di telpon Salamah mengatakan bahwa anaknya telah bertindak ceroboh.


"Aku di tusuk oleh wanita itu," sahut Renata tetap berbohong mengarang cerita. Bahwa dirinya di tusuk padahal dia sendiri yang membuat luka itu untuk menarik simpati Kevin.


"Tidak mungkin jujurlah pada ibu, kau pasti berbohong lagi?"


"Harus bagaimana, sudah kulakukan banyak cara. Tetapi, Kevin tetap tidak melirikku. Bahkan saat tubuhku terluka sekali pun.


"Kau harus berusaha lebih keras lagi, anakku."


"Apa, usahaku masih kurang cukup, Bu?"


"Ibu pun tak tahu, mintalah pada Tuhan supaya membalikan hatinya yang tadinya tidak suka menjadi suka atau jika memang sudah tidak kuat menanggungnya lebih baik kamu menyerah melepaskan Kevin dan mencari penggantinya. Rasanya ibu tidak tega melihatmu terus menderita walaupun semuanya tercukupi."


"Ibu, tidak usah hawatir dukung dan terus memberiku semangat sehingga aku bisa melewati rasa sakit ini."


"Ibu selalu meminta yang terbaik pada Allah untuk kehidupanmu. Lekas sembuh ibu akan selalu ada di sampingmu." 


Yuli menggenggam tangan putri semata wayangnya, Renata membalas genggaman dan menggangguk. Ia sangat bersyukur mempunyai ibu yang selalu mendukung dan melindungi dirinya baik senang dan sedih.


Sementara itu Evi yang merasa bosan terus berada di dalam rumah. Menyaksikan drama yang di buat penghuni rumah memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di luar. 


Tanpa seorang pun yang melihatnya keluar dari rumah besar itu. Evi menyusuri jalan di sore hari yang bertabur lembayung senja yang indah.


Sayup terdengar pembicaraan yang membicarakan Salamah..


"Salamah telah mempermalukan seorang wanita dari keluarga Dahlan dengan gaun pengantin di pasar."


Apa, mungkin wanita yang mereka maksud mereka itu Kartika, wanita yang baru saja di nikahi kakaknya. Mengapa Nenek mempermalukannya? Sungguh tindakannya tidak baik.


Evi terus menyusuri jalan sampai di suatu resto dia melihat Renata tengah berbincang dengan seorang lelaki dan seorang wanita dalam satu meja. Namun, Evi tidak memperdulikannya. Wanita itu melanjutkan perjalannya menikmati keramaian hingga malam menjelang, Evi baru sadar tidak tahu arah untuk pulang. Sehingga wanita itu panik tidak sengaja menabrak dua pemuda. Kedua pemuda itu malah menggodanya sehingga wajahnya menjadi pucat.


"Mari temani kami untuk minum, Nona!"


Evi ketakutan berlari dengan kencang  sehingga tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh. Wanita itu terduduk memegangi kakinya yang dirasa sakit.


Sebuah mobil berhenti, seseorang lelaki setengah baya keluar dari mobil menghampiri Evi yang masih duduk di trotoar jalan.


Dari jauh terlihat dua orang pemuda yang mengejarnya, keduanya berhenti ketika melihat Evi di hampiri seseorang yang lebih tua dari mereka. Keduanya berbisik dan membalik tubuhnya berlalu dari hadapan Evi.


"Terima kasih."


"Kamu dari mana dan hendak kemana?" Tanya Dedy yang heran melihat Evi Masih berkeliaran di luar saat hari sudah malam.


"Tadi hanya berjalan-jalan di dekat rumah dan tidak tahu jalan pulang," sahutnya tertunduk malu.

__ADS_1


"Oh, mari aku antar pulang." 


"Tidak usah. Nanti, merepotkan karena aku hanya hafal gang nya saja."


"Tidak apa, aku tidak akan tega membiarkanmu di jalanan malam-malam karena aku pun mempunyai anak perempuan."


Dedy mempersilahkan Evi masuk ke dalam mobil. Evi masuk duduk di sebelahnyanya.


"Coba di ingat-ingat dari sekitar sini harus melaju ke arah mana?"


Evi berpikir sejenak kemudian menunjuk sebuah gang, Dedy terus melaju, tiba di sebuah gang ke dua Evi meminta Dedy menghentikan mobilnya. 


Evi keluar dan mengucapkan terima kasih.


Wanita itu bersyukur di pertemukan dengan orang yang baik. Dedy keluar sebentar untuk meyakinkan ucapan Evi yang terlihat mengetuk pintu. Sebuah rumah yang cukup besar hilang di balik pintu.


Dedy baru sadar ketika menatap rumah yang ada l depannya. bukankah ini rumah Bu Salamah, lalu wanita muda itu siapa? 


Baru saja tersadar Dedy di kejutkan dengan kehadiran Royadi yang baru saja keluar dari rumah di depannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


"Aku mencari Kartika. Namun, tidak menemukan keduanya di sini.


"Oh, ayo kita pulang."


Sementara itu Salamah masuk ke dalam rumah Dahlan dengan kedua tangan di pinggangnya


"Dahlan, Dahlan .... Dimana cucuku kau sembunyikan? Jika tidak aku akan mengacukan rumahmu!"


Dahlan yang merasa terganggu dengan kebisingan. Keluar dari kamarnya melangkah menuju halaman. di sana Dahlan melihat seorang wanita tua sedang berkacak pinggang.


"Ada apa-apa membuat rumah ku gaduh. Dan lagi siapa nama cucumu? Sejak tadi rumah ku hening tidak gaduh seperti ini sebelum kamu datang."


"Jangan berbohong, geledah semuanya temukan cucuku sekarang juga."


Melihat pengawal Salamah masuk menggeledah ruangan dengan menodongkan pistol.


Adin, tidak diam saja. Pria itu segera menghubungi Royadi yang sedang berada di luar dan memberi tahu jika di kediamannya di datangi Salamah yang marah-marah mencari cucunya.


Adin, mengeluarkan pistol di tujukan pada Salamah untuk berjaga-jaga jika dia berlaku kasar pada Dahlan majikannya.


"Disini kau sudah hilang kekuasaan. Beraninya kamu menginjakan kakimu setelah sekian lama." 


"Oh, jadi aku sudah hilang hak di tanah ini?"

__ADS_1


"Iya itu benar semenjak kau pergi meninggalkan rumah ini."


Ketika semua ruangan telah di geledah namun ia tak mendapatksn cucunya. Djaja berserta pengawal leluar dari rumah Ardan.


Ia sangat mencemaskan Evi yang entah berada di mana saat ini. Hari sudah mulai larut, sedangkan cucunya belum ia temukan.


Ponsel di dalam tas berdering, Salamah mengangkat ponsel yang menunjukkan nomor rumahnya.


[Ya, Hallo]


[Nyonya, Evi sudah ada di rumah dengan selamat]


[Ia sudah, aku akan segera tiba. Jangan memarahinya dulu. Biar aku saja yang menegurnya. Suruh istirahat saja di kamarnya]


[Baik, Nyonya]


[Lekas kembali, Evi sudah di rumah]


Mendengar perintah Dari Salamah, Ilham segera memutar balik mobilnya.


Sampai di rumah Salamah langsung melangkah menuju ke kamar Evi.


Evi yang tahu Neneknya datang langsung berusaha duduk, melipat selimut yang menyelimuti dirinya.


"Syukurlah kau tidak apa-apa?"


Evi menatap wajah khawatir Neneknya sesaat. Terlihat jelas sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Dari mana saja, bukankah kau bisa menyuruh supir untuk mengantarmu pergi?"


"Aku hanya ingin menghirup udara segar sesaat. Tidak di sangka aku tersesat, tidak tahu arah pulang. Namun, ada seorang lelaki baik hati yang menolongku hingga aku tiba di rumah."


"Siapa lelaki itu?" 


"Aku lupa tidak menanyakan namanya, tapi yang pasti dia lelaki baik yang menghormati wanita."


"Apa kau memberi tahu identitas dan namamu?"


"Tidak, karena dia tidak bertanya."


"Syukurlah." 


Kecemasan di hati Salamah sedikit terobati, karena Evi tidak menyebutkan siapa dirinya.


"Istirahatlah, pasti kau lelah setelah seharian di luar."

__ADS_1


Evi membaringkan tubuhnya, Salamah menyelimuti, mencium kening cucunya. Mematikan lampu dan menutup pintu.


Hatinya lega, mendengar penuturan dari bibir Evi yang jujur.


__ADS_2