
Namun, Kevin tahan itu pasti akan membuat Kartika meninggalkannya dirinya lagi. Kevin menarik wajahnya, menatap wajah wanita di depannya, tangannya beralih menyentuh pipi mulus Kartika. Di sentuh perlahan dengan jari telunjuknya. Karena dirasa ada yang hangat menyentuh wajahnya Kartika terbangun. Kaget melihat Kevin ada di didepannya.
"Jangan dekat-dekat."
Kartika menggeser duduknya menjauhkan dirinya dari Kevin.
"Tinggallah bersamaku lagi."
"Itu tak mungkin."
"Hanya aku yang bisa melindungi mu."
Kartika menatap mata Kevin mencari ke sungguhan dari ucapannya. Memang tak di pungkiri dia aman jika bersamanya. Tapi Kartika tidak ingin bersama orang yang selalu berbohong terus. Kartika juga tidak ingin Kevin berpikir jika dirinya terlalu mudah untuk di taklukan.
Kartika berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya. Namun, tidak juga lepas.
"lepaskan aku."
"Tidak akan. kecuali ...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali jika kamu mau kembali kepadaku."
"Itu tidak akan kulakukan!"
__ADS_1
Kevin mengambil gelas berisi teh yang sudah hampir dingin menyesapnya beberapa teguk. kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
Kevin mengambil gelas untuk Kartika dan menyodorkannya pada mulut wanita itu.
Kartika menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Minumlah supaya terasa lebih fresh."
"Daripada meminumnya dari tanganmu, lebih baik aku mati karena kehausan."
Kevin meletakkan telunjuknya di bibir Kartika. Wanita itu menggigit jari Kevin hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Baiklah, jika aku buka ikatannya, apakah kamu tetap akan lari dariku?"
"Tentu saja."
Kartika terdiam, semudah itukah meminta maaf. Apa dia tidak memikirkan akibatnya atas semua yang telah di lakukannya padanya. hidupnya kini dalam taruhan antara hidup dan mati. Tidak ada maaf untuknya. Aku membencinya. Aku akan membalas atas apa yang dia sudah lakukan padaku.
"Aku akan memaafkan mu jika kamu melepaskan ikatan tanganku."
"Benarkah kamu akan memaafkan ku?" tanya Kevin dengan wajah berbinar karena senang.
"iya."
"berikan tanganmu."
__ADS_1
Tanpa rasa ragu Kevin melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Kartika.
Kedua mata Kartika menatap pistol yang ada di meja.
Kartika berapi-api mengambil gelas teh kemudian menyesapnya beberapa teguk untuk membuat Kevin lengah. Wanita itu meletakkan gelas kemudian mengambil pistol yang berada di atas meja dengan cepat. Tanpa Kevin sadari Kartika sudah menodongkan pistol kepadanya. Hanya dengan satu kali tarikan sudah di pastikan Kevin akan terluka.
Kevin terkejut dengan apa yang di lakukan Kartika, tetapi pria itu tetap bersikap tenang menatap Kartika.
"Kartika jika memang dengan membunuhku dapat mengembalikan senyum di wajahmu. Tak apa lakukanlah."
Kevin yakin sekali Jika Kartika tidak mungkin bisa melukainya karena dia tahu wanita di hadapannya begitu mencintainya.
Dengan tangan gemetar yang masih menodongkan pistol ke arah Kevin, Kartika memutar tubuhnya dan tetap waspada. Kevin tidak melakukan perlawanan. Pria itu hanya memohon supaya Kartika tidak meninggalkan dirinya.
Kevin tidak hentinya berkata jika ia sangat menderita jauh dari Kartika. Namun, Kartika tidak menggubris ucapannya. Ia hanya ingin lari dari tempat itu yang membuat dadanya sesak jika berada di dekat Kevin. Tidak di pungkiri ia masih sangat menyayanginya walaupun apa yang di lakukan padanya palsu termasuk pernikahan yang baru satu hari di gelar dan kemudian meninggalkan dirinya begitu saja. Kartika tahu ia tak bisa hidup tanpanya tapi jika teringat hatinya sungguh sakit. Ia akan mencoba mengubur semuanya. memulai hidup tanpa ada ******* napasnya lagi.
Kartika memejamkan kedua mata untuk menarik pelatuk. Terdengar bunyi tembakan di malam yang sunyi.
Door ....!
Satu buah peluru meluncur menembus dada kanan Kevin. Lelaki tampan itu terjatuh bersimbah darah. Kevin memegangi dada kanannya menatap Kartika yang membuang senjata di lantai begitu saja. Wanita itu menatapnya. Hatinya lega sudah menembak pria yang membuatnya menderita dan terbuang dari keluarganya.
Kartika memutar tubuhnya membuka pintu yang terkunci. Wanita itu membalikkan tubuhnya sesaat menatap Kevin yang terduduk di lantai. Tangannya memegangi dadanya. Kartika tidak peduli dengan Kevin yang terluka oleh tindakannya. Kartika melangkah mendekati pintu, membukanya dan keluar berjalan menjauh dari rumah itu.
Akan kah Kevin tertolong?
__ADS_1
Yuk baca kelanjutannya