
Rumah Dina tidak lah besar, hanya terdapat satu kamar, dapur bergabung dengan meja makan dan ruang tamu kecil, dan toilet seadanya. Hanya rumah itu yang bisa ia beli dari hasil kerja keras nya, karena John meninggalkan nya dan tak memberi nya uang sedikit pun.
Hal ini sudah sering kali John lakukan pada Dina dan Anna. Sering kali pergi dan meninggalkan mereka untuk mencari wanita kaya yang bisa ia dekati untuk mendapat kekayaan mereka.
Sudah berulang kali juga Dina memaafkan John ketika ia meminta maaf. Sungguh memang Dina terlalu bodoh yang selalu memberi kesempatan kepada John.
Hingga hal ini pun berulang kembali. Pernikahan mereka sudah berjalan sembilan tahun. Itu juga yang ia alami ketika John berselingkuh dengan gadis belia, yaitu Celine.
Beruntung Celine bisa cepat lepas dari John, kalau tidak mungkin hidup nya akan hancur sekarang.
Dina mengenal Celine, karena Dina pernah melihat John jalan berdua bersama dengan Celine di sebuah mall.
Namun Dina tidak berani apa apa karena rasa cinta nya pada John yang begitu besar dan juga karena ada Anna, anak mereka.
Kali ini John sudah pergi dengan kekasih kaya baru nya dan sudah tak pulang selama satu bulan. Bahkan ia sama sekali tidak menanyakan kabar anak nya.
Setelah selesai menggantikan baju Anna, mereka pun langsung keluar dari rumah dan segera menuju mobil Danny yang berada di luar gang.
Ketika melihat Dina keluar dari ujung gang bersama seorang anak, Danny pun langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk mereka.
Setelah Dina dan Anna masuk ke dalam mobil, Danny langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit yang tak jauh dari lokasi rumah Dina.
Setelah lima belas menit, mobil pun sampai di salah satu rumah sakit yang ada di daerah itu.
Dina segera keluar dari mobil dan segera membuka pintu mobil belakang dimana Anna berada.
Danny pun menemani Dina untuk membawa Anna berobat.
Sesampainya di rumah sakit, Dina langsung mendaftar kan Anna untuk ke dokter anak dan setelah mendapat nomor antrean mereka langsung menuju lantai dimana dokter anak berada.
Selama menunggu mereka duduk di depan ruangan praktek dokter.
"Anna, tadi kamu sudah makan belum di rumah ibu Nur?", tanya Dina sambil menatap anak nya
"Sudah ma, tadi sudah makan siang. Tapi belum makan malam.", ucap Anna
"Yah sudah nanti kalau kita sudah di rumah mama buatkan makanan kesukaan kamu ya sayang.", ucap Dina tersenyum sambil mengelus kepala Anna
"Iya ma.", ucap Anna
Danny yang melihat kasih sayang Dina pada Anna pun merasa tersentuh. Apalagi ia tau bahwa suami Dina adalah laki laki yang tidak baik, ia semakin kasihan kepada Anna yang di telantarkan oleh ayah nya sendiri.
"Oh ya Anna, perkenalkan ini om Danny, teman kerja mama.", ucap Dina pada Anna sambil menunjuk ke arah Danny
"Hallo om, aku Anna.", ucap Anna sambil mengulurkan tangan nya
"Hallo Anna, nama om Danny. Senang bertemu anak cantik seperti kamu.", ucap Danny tersenyum menerima salam dari Anna
"Anna umur berapa sekarang?", tanya Danny
"Anna umur delapan tahun om.", ucap Anna
"Ohh sudah besar ya sudah kelas tiga SD ya?", ucap Danny
"Iya om.", jawab Anna
Tak berapa lama, nama Anna pun di panggil oleh suster yang keluar dari ruangan praktek dokter anak.
"Nona Anna.", panggil suster
"Nak, Ayo nak. Nama kamu sudah di panggil.", ucap Dina
Anna pun mengikuti Dina untuk masuk ke dalam ruangan dokter. Namun tidak dengan Danny yang menunggu di depan ruangan karena Danny merasa tidak pantas untuk ikut ke dalam karena memang bukan siapa siapa mereka.
Setelah menunggu cukup lama, akhir nya Dina dan Anna keluar dari ruang praktek dokter anak dan mereka langsung menghampiri dimana Danny duduk.
"Maaf ya tuan menunggu lama.", ucap Dina
"Iya tidak apa apa, oh ya kalau di luar kantor kamu bisa memanggil nama ku saja. Tidak usah terlalu formal.", ucap Danny
"Iya Danny.", ucap Dina
"Oh ya bagaimana keadaan Anna?", tanya Danny
"Anna hanya demam dan sedikit pilek, tadi sudah di kasih resep obat, habis ini aku akan menebus nya terlebih dahulu.", ucap Dina
"Yah sudah kamu tebus obat dulu saja, biar Anna sama aku.", ucap Danny
"Terima kasih ya Danny.", ucap Dina
__ADS_1
Dina pun berjongkok menghadap Anna yang sedang duduk.
"Anna, mama tebus obat nya dulu ya. Anna tunggu disini sama om Danny ya.", ucap Dina
"Iya ma.", ucap Anna
Dina pun segera pergi menuju loket pembelian dan penebusan obat. Sedangkan Anna dan Danny terlihat ada sedikit obrolan.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, Dina pun kembali dengan membawa satu kantong yang berisi obat obat sesuai resep yang di berikan dokter.
Setelah selesai semua urusan di rumah sakit, mereka pun kembali pulang.
Namun sebelum mengantarkan Dina dan Anna pulang, Danny mengajak mereka untuk makan malam terlebih dahulu karena jam juga sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Dina kita makan dulu ya di restaurant depan sana.", ucap Danny
"Tidak usah Danny, nanti aku masak di rumah saja. Nanti tambah merepotkan mu dan juga kamu pulang akan semakin malam.", ucap Dina
"Tidak apa apa, sekalian aku juga makan malam dulu.", ucap Danny
"Baiklah.", ucap Dina mengangguk.
Tak berapa lama mobil pun sampai di depan sebuah restaurant sederhana.
Danny pun mengajak Dina dan Anna untuk makan malam terlebih dahulu.
"Kamu dan Anna mau makan apa?", tanya Danny
"Aku makan nasi goreng saja.", ucap Dina
"Anna mau makan apa?", tanya Dina pada Anna
"Ehmm... Anna mau makan ayam goreng ma.", ucap Anna
"Anna ga boleh makan makanan yang mengandung minyak banyak dulu ya sayang. Bagaimana kalau makan soto ayam? Biar badan Anna jadi hangat.", ucap Dina .
"Yah sudah ma boleh.", ucap Anna
"Aku pesan nasi goreng, Anna pesan soto ayam saja. Minum nya air mineral aja.", ucap Dina.
"Yah sudah aku pesan kan dulu, kalian berdua duduk saja.", ucap Danny
Danny pun segera memesan makanan untuk mereka bertiga dan membayar semua tagihan nya, setelah nya ia menuju meja dimana Dina dan Anna berada.
Setelah makan malam, Danny pun mengantarkan Dina dan Anna pulang ke rumah mereka. Tak lupa Dina dan Anna mengucapkan terima kasih kepada Danny yang sudah mau repot repot mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Setelah itu Danny pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya, jarak nya lumayan jauh, menempuh waktu kurang lebih selama satu jam.
Selama perjalanan, ia terbayang bayang dengan Dina dan Anna, entah mengapa ia merasa begitu kasihan dengan kehidupan mereka berdua. Tinggal di tempat seperti itu jauh dari kantor, Dina juga harus menitipkan anak nya ke tetangga. Sungguh tragis memang.
********
Di sisi lain, Fanny yang sedang di kampus pun sudah mulai kelas nya jam satu siang.
Tepat jam tiga siang, mata kuliah nya pun selesai, ia segera keluar dari ruang kelas nya menuju luar kampus.
Namun ia teringat dengan janji nya dengan ka Axel bahwa ia menyuruh Fanny untuk datang ke kantor nya. Tidak lupa juga Fanny membawa tugas skripsi nya karena ka Axel meminta nya untuk membawa tugas skripsi nya itu.
Ketika ia keluar dari kampus, ada seorang laki laki paruh baya menghampiri nya.
"Permisi Nona, apa nona bernama Fanny?", tanya pria paru baya
"I..Iya pak benar, ada apa ya pak?", tanya Fanny
"Saya Sofian supir nya tuan muda Axel Nona.", ucap pak Sofian
"Ohh Iya pak.", ucap Fanny
"Saya kesini karena di suruh tuan muda Axel untuk menjemput Nona ke kantor Nona.", ucap pak Sofian
"Oh iya pak.", ucap Fanny
"Mari ikut saya Nona.", ucap pak Sofian
Fanny mengikuti oak Sofian menuju mobil nya dan membukakan pintu belakang untuk Fanny
"Tidak perlu pak, saya bisa membuka pintu mobil sendiri.", ucap Fanny
"Ini sudah tugas saya Nona.", ucap pak Sofian
__ADS_1
"Iya pak terima kasih.", ucap Fanny
Pak Sofian pun segera mengemudikan mobil nya menuju perusahaan Axel.
Sesampainya di depan lobby, pak Sofian pun segera membukakan pintu untuk Fanny
"Terima kasih ya pak Sofian.", ucap Fanny tersenyum
Fanny pun hendak masuk ke dalam perusahaan, namun ia bingung harus bicara dengan siapa.
Saat sampai resepsionis Fanny pun bertanya dengan karyawan yang ada disana.
"Permisi mbak, saya mau bertemu dengan ka Axel.", ucap Fanny
"Apa anda sudah ada janji dengan tuan Axel Nona?", tanya karyawan wanita bernama Jeni
"Ehm... kemarin ka Axel yang menyuruh ku kesini.", ucap Fanny
Jeni pun melihat Fanny dari ujung kaki sampai ujung rambut, kebetulan hari itu Fanny hanya memakai kaos tie dye dan celana panjang. Memang terlihat sungguh santai, tidak seperti untuk ke kantor yang harus berpakaian rapi.
Jeni melihat Fanny dengan tatapan yang kurang ramah.
"Nona bisa tunggu dulu di kursi sebelah sana, saya akan menghubungi sekertaris tuan Axel terlebih dahulu.", ucap Jeni
Fanny pun mengangguk dan segera duduk di salah satu kursi yang kosong sembari menunggu.
Sebenarnya bisa saja Fanny menghubungi ka Axel, namun ia tidak mau mengganggu ka Axel, takut nya ia sedang ada urusan atau pekerjaan penting. Jadi ia lebih baik menunggu di lobby.
Sudah hampir lima belas menit Fanny menunggu, namun karyawan tadi tidak juga menghampiri nya.
Saat sudah mulai bosan menunggu, ia pun hendak menghampiri resepsionis itu lagi.
"Mbak, bagaimana?", tanya Fanny
"Tunggu sebentar ya Nona.", ucap Jeni yang tak begitu menanggapi Fanny
Namun seseorang memanggil nya.
"Fanny.", ucap seorang laki laki yang tak lain adalah papa Thomas
Fanny pun menengok ke arah sumber suara.
"Eh... om Thomas. Hallo om.", ucap Fanny sambil memberi salam dan tersenyum
"Kok kamu disini?", tanya papa Thomas
"Iya om, kemarin ka Axel menyuruh ku untuk datang kemari. Jadi aku kesini. Aku tadi sudah bertanya pada mbak ini, tapi aku di suruh menunggu kabar dari ka Axel. Tapi dari tadi aku belum di kasih tau maka nya aku tanya lagi om.", ucap Fanny menjelaskan
Papa Thomas langsung menengok ke arah Jeni yang sedari tadi sudah berdiri di belakang Fanny sambil menunduk.
Karena ia mendengar percakapan tersebut dari tadi. Ia tau kali ini ia pasti akan mendapat masalah, apalagi membuat tamu Axel menunggu lama.
"Hei, siapa nama mu?", tanya papa Thomas
"Sa...saya Jeni tuan.", ucap Jeni sambil menunduk
"Kenapa kamu tidak memberi nya masuk untuk bertemu Axel?", tanya papa Thomas lagi dengan nada datar nya, berbeda saat tadi berbicara dengan Fanny
"Sa...saya kira hanya orang iseng yang mau bertemu tuan Axel tuan. Maaf kan aku tuan.", ucap Jeni
Tak berapa lama ada suara laki laki lain disana.
"Apa kamu bilang? Orang iseng????", tanya Axel yang sudah muncul disana dengan nada intimidasi nya
Yaa... Axel memutuskan untuk turun ke lobby karena ia sudah menunggu Fanny sedari tadi namun tak kunjung datang. Ia pun tadi nya ingin menjemput Fanny ke kampus. Tapi karena sudah melihat Fanny dan papa nya di lobby pun akhir nya ia urungkan niat nya.
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & vote nya ya. Thankyou and happy reading 😁😁😁
.
.
__ADS_1
.