Cinta Yang Hilang & Kembali Season 2

Cinta Yang Hilang & Kembali Season 2
Eps 32. Emosi


__ADS_3

Hari senin pagi, keluarga Celine sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Celine akan pergi bersama papa Thomas. Sedangkan mama Gladys di rumah. Berbeda dengan ka Axel yang sudah seminggu ini berada di Bali.


Sebelum pergi ke kantor, mereka pun sarapan terlebih dahulu. Saat sarapan, terdengar lah beberapa obrolan ringan.


"Ma, pa, kok ka Axel lama sekali di Bali nya?", tanya Celine


"Iya sayang, habis yang mengurus disana dan Surabaya kan kakak kamu.", ucap papa Thomas


"Iya sih pa. Tapi lama sekali. Kasian Fanny.", ucap Celine sambil makan


"Fanny? Kasian kenapa sayang?", tanya mama Gladys


"Iya lah ma. Kasian sekali Fanny. Dia hampir setiap hari menunggu ka Axel memberi kabar untuk nya. Ya walaupun mereka tidak berpacaran, tapi Fanny sangat menyukai ka Axel.", ucap Celine


"Iya, mama juga bingung kenapa Axel itu susah sekali untuk dekat wanita. Padahal ada wanita cantik yang menunggu nya.", ucap mama Gladys


"Iya, apa karena dia terlalu sibuk kerja ya jadi tidak memperhatikan perasaan nya.", ucap papa Thomas


"Mungkin juga pa. Kan papa tau sendiri kalau ia sudah bekerja bahkan sampai tak ingat waktu.", ucap mama Gladys


"Iya ma. Nanti coba papa atur supaya ia tidak terlalu sibuk di perusahaan yang ada di Bali dan Surabaya.", ucap papa Thomas


"Iya pa, biar dia juga bisa memikirkan masa depan nya. Masa depan untuk hidup nya bekeluarga nanti.", ucap mama Gladys


"Iya tuh ma. Apa kita jodohin aja Fanny sama ka Axel ma, pa?", tanya Celine


"Tapi kalau Axel gamau gimana?", tanya papa Thomas


"Yah kita coba aja dulu pa, lagian kan ka Axel selalu menurut apa kata mama dan papa.", ucap Celine


"Iya juga. Coba nanti kalau ia ada waktu luang, Kita ajak bicara.", ucap papa Thomas


Celine dan mama Gladys pun mengangguk, mereka pun melanjutkan sarapan mereka. Setelah selesai, papa Thomas dan Celine pun pergi ke kantor setelah berpamitan dengan mama Gladys.


Di sepanjang perjalanan, papa Thomas maupun Celine masih saling mengobrol, namun kali ini membahas masalah hubungan Celine dan Steven.


"Bagaimana hubungan mu dengan Steven, nak?", tanya papa Thomas


"Baik pa. Hubungan ku baik.", ucap Celine


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kalian?", tanya papa Thomas lagi


"Maksud papa?", tanya Celine mengahadap papa Thomas


"Iya, maksud papa, kapan kalian akan menikah?", tanya papa Thomas


"Kalian kan sudah bertunangan, dan itu juga sudah lumayan lama. Apa kalian tidak ada omongan lagi untuk menikah?", tambah papa Thomas


"Ehm... untuk soal itu aku belum tau pa, Steven juga belum bicara sampai situ. Lagipula kita masih sama sama muda pa. Kita masih harus lebih mengenal lagi satu sama lain. Mungkin setahun atau dua tahun lagi pa.", ucap Celine


"Iya sih, memang kalian masih sangat muda. Papa juga takut kalau kalian menikah dengan umur yang masih sangat muda, nanti ego kalian masih tinggi dan tidak jarang pernikahan baru punya banyak masalah. Karena masih sama sama untuk mengerti dan memahami satu sama lain. Pernikahan bukan lah untuk lima atau sepuluh tahun. Tapi untuk selamanya.", jelas papa Thomas


"Iya pa aku mengerti, maka dari itu kami juga masih berusaha untuk saling mengerti satu sama lain. Karena kami tidak mau sampai ada kata perpisahan nanti nya. Aku mau seperti mama dan papa yang bisa terus bersama sampai tua nanti.", ucap Celine


"Iya benar sayang. Kehidupan setelah berumah tangga sangat lah berbeda dengan masih berpacaran. Maka dari itu harus ada saling keterbukaan, kejujuran, kepercayaan dan kesetiaan di dalam sebuah hubungan.", jelas papa Thomas


"Iya pa. Aku mengerti. Terima kasih ya pa atas nasihat papa.", ucap Celine memeluk sebelah lengan papa nya.


Tak berapa lama, mobil yang di kendarai oleh papa Thomas pun sampai di perusahaan.


Mereka berdua pun turun dari mobil setelah memarkirkan mobil nya di depan lobby.


Para karyawan yang sudah sampai pun memberi hormat kepada pemimpin maupun pemilik perusahaan tersebut.


Celine dan papa Thomas masuk ke dalam lift khusus CEO untuk menuju ruangan nya.


Setelah sampai di lantai dimana ruangan mereka berada, mereka berdua pun langsung berpisah. Celine menuju ruangan nya dan papa Thomas menuju ruangan nya.

__ADS_1


Saat Celine hendak masuk ke ruangan nya, ia melewati meja kerja Fanny yang ada di depan ruangan nya. Ia melihat Fanny pagi itu dengan tampang tak bersemangat nya.


Celine pun akhir nya bertanya pada Fanny


"Fan, pagi pagi wajah mu sudah seperti kanebo kering saja? Ada apa?", tanya Celine sambil duduk di kursi depan meja Fanny


"Ahh tidak apa apa kok Cel. Hehe.", ucap Fanny sambil tersenyum kikuk.


"Kamu masih menunggu kabar ka Axel ya?? Kamu merindukan ka Axel ya?", tanya Celine


"Tidak tidak. Kamu ngomong apa sih Cel. Sudah aku mau kembali kerja. Nanti kita ada meeting loh.", ucap Fanny


"Kalau kamu memang mencintai kakak ku, maka perjuangkan lah cintamu itu.", ucap Celine memegang tangan Fanny


"Tapi bagaimana bisa Cel? Bahkan ka Axel saja seperti tidak menganggapku ada. Dia memang baik, tapi hanya sebatas itu tidak lebih.", ucap Fanny


"Kamu tidak boleh menyerah, kamu harus terus berusaha. Karena segala usaha kita tidak mungkin mengkhianati hasil. Pasti akan ada hal indah setelah nya.", ucap Celine


"Terima kasih ya Cel. Kamu sangat baik pada ku.", ucap Fanny


"Hei... kamu itu sahabat ku. Sudah seharusnya kita saling mendukung.", ucap Celine


Fanny pun tersenyum


"Oh ya, nanti kita ada meeting apa?", tanya Celine


"Biasa, pengagum kamu.", ucap Fanny


"Pengagum ku? siapa?", tanya Celine lagi


"Yah sudah jelas lah pak David. Siapa lagi memang pengagum kamu?", ucap Fanny


"Astaga, meeting apa lagi dengan nya? Perasaan aku dalam sebulan bisa 3 sampai 4 kali kita meeting sama dia.", ucap Celine kesal.


"Mana ku tau, dia seperti terus membuat kita ada urusan dengan perusahaan nya. Padahal setau ku juga tidak seperti ini. Paling dalam sebulan hanya 1 sampai 2 kali hanya untuk mengontrol kerjasama.", ucap Fanny


"Haduh... membuat mood ku pagi pagi sudah tidak baik saja.", ucap Celine .


"Terima kasih sayangku. You're the best!", ucap Celine


Celine pun masuk ke dalam ruangan nya. Ia mendudukan tubuh nya di kursi nya dan meletakkan tas nya di atas meja.


Celine mengambil kopi di atas meja yang tadi di belikan oleh Fanny. Fanny sudah seperti tau apa yang harus ia lakukan agar mood bos nya itu tidak semakin buruk. Apalagi akan meeting dengan laki laki yang selalu mengejar nya.


Celine membuka laptop kerja nya membuka beberapa berkas yang ada di meja nya sambil meminum kopi yang di belikan Fanny tadi.


Jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Meeting akan diadakan pukul sepuluh nanti. Namun rasa nya ia sangat malas bila bertemu dengan David. Tapi kalau ia tidak bertemu dengan David rasa nya sangat tidak professional dalam bekerja.


Ia tiba tiba kepikiran dengan apa yang papa nya tadi bilang. Rencana kedepan nya dengan Steven.


Sambil menunggu jam sepuluh, Celine pun memilih untuk menelepon Steven.


"Hallo sayang."


"Hallo sayang, ada apa?"


"Tidak apa apa. Aku hanya sedang mau menelepon mu."


"Ohh, aku kira kenapa. Nanti siang mau makan di luar?"


"Ehmm... boleh juga."


"Oke nanti aku jemput jam dua belas ya sayang."


"Iya sayang. Oh yaa.. jam sepuluh nanti aku ada meeting dengan David. Rasa nya aku sudah sangat malas melihat wajah nya."


"Kamu ada meeting dengan nya??"

__ADS_1


"Iya sayang. Maka nya aku sangat kesal."


"Yah sudah tidak apa apa sayang. Bersikap lah professional. Anggap dia sebagai klien seperti klien yang lain."


"Iya sayang. Yah sudah sampai ketemu nanti."


"Oke sayang. Bye."


"Bye sayang."


Setelah nya Celine pun menutup telepon nya dan segera fokus pada pekerjaan nya lagi. Nanti siang ia akan di jemput oleh Steven untuk makan malam di luar, sekaligus Celine juga ingin menanyakan tentang hubungan mereka berdua kedepan nya.


Tiba lah pukul sepuluh pagi. Fanny sudah bersiap siap untuk meeting, berbeda dengan Celine yang sudah sangat malas untuk meeting tersebut. Namun ia tetap harus melakukan tugas nya. Ia tidak mau kalau sampai papa nya tau kalau David, klien nya itu sudah mengganggu nya.


Fanny dan Celine berjalan beriringan menuju ruang meeting. Disana sudah ada David yang menunggu dengan sangat manis, di temani dengan sekertaris setia nya, Reven.


Setelah pintu di buka, dengan penuh semangat David berdiri dan hendak menyami Celine yang baru masuk setelah Fanny.


"Maaf tuan David dan tuan Reven sudah menunggu.", ucap Celine


"Tidak apa apa Nona Celine. Tiga jam sekalipun akan ku tunggu.", ucap David tersenyum


Sedangkan Celine sudah memasang wajah datar nya.


"Oke kita mulai saja meeting nya ya tuan David biar tidak berlama lama.", ucap Celine sambil membuka berkas nya dan memulai meeting tersebut.


Rasa nya ingin sekali Celine mempercepat meeting nya agar bisa membuat David pergi lebih cepat.


Tanpa berlama lama, Celine sudah menyelesaikan meeting nya hanya dalam waktu tiga puluh menit. Waktu yang begitu cepat bagi David. Karena kalau untuk David, ia ingin berlama lama melihat wajah cantik Celine. Namun tidak untuk sebaliknya.


"Oke saya rasa meeting kita cukup sampai disini saja. Mungkin untuk kedepan nya bila tuan David ini mengontrol kerjasama kami bisa kita lakukan dua minggu sekali, atau bisa juga melalui zoom meeting. Karena saya juga tau kalau tuan David ini adalah orang yang sangat sibuk pasti nya. Maka dari itu saya rasa kita bisa melakukan zoom meeting saja, atau mungkin kita akan memberikan laporan kerjasama kita setiap minggu nya. Bisa Fanny?", tanya Celine pada Fanny


Celine bebricara seperti itu supaya David juga sadar kalau ia terlalu sering mengadakan meeting dengan Celine hanya karena ingin mendengar laporan kerjasama nya. Padahal laporan tersebut bisa di kirim lewat email setiap minggu atau bahkan bisa melakukan zoom meeting dimana pun berada.


"I..Iya bisa Nona Celine.", ucap Fanny yang terkagum dengan keberanian Celine


"Oke Nona Celine, kalau begitu kita akhiri meeting kita hari ini. Saya harap kedepan nya kita bisa lebih sering berkomunikasi.", ucap David tanpa malu nya


Sedangkan Reven sekertaris nya hanya diam saja melihat kelakuan dari bos nya tersebut.


"Maksud tuan David apa ya?", tanya Celine


"Ah tidak apa apa Nona Celine. Siapa tau kita bisa lebih dekat kedepan nya mungkin?", kata David to the point di depan Fanny maupun Reven.


Karena waktu ia menyatakan perasaan nya pada Celine hanya mereka berdua saja yang tau. Namun Fanny dan Reven tidak tau. Ya walaupun Celine langsung bercerita pada Fanny


Celine yang mendengar ucapan David seketika sudah tidak menahan emosi nya lagi.


"Tuan David yang terhormat, saya minta maaf atas ketidaknyaman nya. Tapi saya juga sudah pernah bicara pada tuan David bahwa saya ini sudah bertunangan. Saya rasa tuan David juga tidak mungkin lupa akan hal itu. Saya sudah mempunyai seorang laki laki idaman saya yang kelak akan menjadi suami saya dan menjadi ayah dari anak anak saya. Jadi saya harap tuan David bisa lebih professional lagi dalam bekerja dan tidak mencampurkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Terima kasih.", ucap Celine dengan tegas nya karena sudah sangat tidak nyaman dengan ucapan David.


Celine pun langsung pergi dari ruang meeting tanpa memperdulikan ketiga orang yang masih ada disana.


Fanny hanya bisa membuka mulut nya mendengar ucapan Celine yang begitu tegas kepada David, karena selama ini ia tidak pernah melihat Celine berbicara seperti itu. Apalagi kepada klien nya.


Sedangkan Reven dan David memilih untuk segera pergi dari ruangan itu dengan wajah nya yang sudah sangat kesal mendengar ucapan Celine tadi. Ia merasa di permalukan di depan Fanny maupun Reven sekertaris nya.


🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩


.


.


.


Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya yaa. Di tunggu next eps nya tiap hari yaa. Namun sorry kalau saat ini author tidak bisa terlalu fokus karena lagi ngurusin anak anak ujian. Thankyou para readers setia ku and happy reading 😁😁😁


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2