
Hari yang di tunggu tunggu pun telah tiba. Ka Axel sudah kembali dari Bali sejak hari kamis malam. Ka Axel rasa nya masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang, apalagi sebentar lagi ia akan bertunangan dengan seorang gadis. Entah gadis dari mana ka Axel masih belum tau. Hati nya semakin tak menentu menjelang hari pertemuan nya dengan calon tunangan nya.
Hari sabtu pagi, mama Gladys dan Celine sudah sangat sibuk mengurus rencana nya itu.
Saat sarapan pagi, mama Gladys sudah mengingatkan ka Axel untuk bertemu dengan calon tunangan nya.
"Axel, jangan lupa nanti siang kamu harus bertemu dengan calon tunangan pilihan mama.", ucap mama Gladys
"Iya ma.", jawab ka Axel
"Nanti kalian akan bertemu di sebuah restaurant yang ada di mall A. Gadis itu memakai atasa putih, mengenakan blazer dan rok span hitam.", ucap mama Gladys
"Iya maa. Jam berapa nanti aku harus pergi?", tanya Ka Axel
"Jam sebelas siang nanti.", ucap mama Gladys
"Oke ma.", ucap Ka Axel
"Axel ingat, jangan terlalu dingin dengan wanita biar kamu tuh bisa cepat menikah.", ucap papa Thomas
"Iya pa. Tapi kan papa tau sendiri aku tuh ga bisa dekat dengan wanita dalam waktu dekat. Apalagi yang tidak cocok dengan yang apa aku harapkan.", ucap Ka Axel
"Iya papa tau, tapi nama nya menikah itu adalah menyatukan dua pribadi yang memiliki dua kepribadian yang berbeda. Manusia yang berpasangan di ciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Sama hal nya dengan mama dan papa. Kami memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda. Tapi bagaimana cara kita menyikapi dan menerima nya agar hubungan mama dan papa tetap baik demi anak anak.", ucap papa Thomas
"Dan satu lagi nak, kita sebagai laki laki, harus berpikir dengan sebaik mungkin, karena kita sebagai pria akan berpikir menggunakan logika. Berbeda hal nya dengan wanita yang akan lebih mengutamakan perasaan nya. Maka dari itu kamu juga harus bisa mengerti apa yang istri kamu mau kelak supaya tidak terjadi kesalahpahaman.", tambah papa Thomas
"Iya pa, terima kasih atas nasihat papa. Aku berharap calon tunangan ku satu visi dan misi dengan ku agar kelak nanti tidak terjadi percekcokkan.", ucap Ka Axel
"Axel, percekcokkan dan masalah dalam pernikahan itu pasti ada, tidak mungkin masalah tidak pernah hadir dalam sebuah pernikahan, justru itu adalah bumbu dalam pernikahan itu sendiri, agar pernikahan kalian juga tidak membosankan. Tapi dengan adanya masalah itu, kita jadi bisa melihat bagaimana cara kita mengatasi masalah tersebut dan Hal itu juga bisa mendewasakan kepribadian kita Axel.", ucap mama Gladys
"Iya ma, aku harap pernikahan ku nanti akan seperti mama dan papa yang selalu awet dan bisa menghadapi masalah dengan baik.", ucap Ka Axel
"Nah gitu dong, baru anak papa.", ucap papa Thomas sambil menepuk pundak ka Axel
"Semua yang mama maupun papa bicarakan saat ini juga berlaku untuk kamu Celine. Kelak kamu akan menjadi ibu, jadi lah teladan yang baik untuk anak anak mu. Jadilah istri yang selalu setia berada di samping suami mu dan di belakang untuk mendoakan suamimu.", ucap mama Gladys
"Iya ma. Aku harus belajar banyak dari mama dan papa.", ucap Celine .
"Kalian itu masa depan mama dan papa, apa yang sudah mama dan papa berikan pada kalian, kelak nanti kalian juga akan lakukan Hal yang sama untuk anak anak kalian.", ucap papa Thomas
"Sebagai suami kamu harus bisa menjadi kepala di keluarga mu, harus bisa melindungi, menjaga dan memberi kasih sayang kepada keluarga mu. Dan sebagai istri kalian harus mendukung suami mu dan juga mendidik anak anak mu.", tambah mama Gladys
"Iya ma, pa.", ucap Celine dan ka Axel bersamaan.
Mereka pun tersenyum bersama. Sarapan di pagi hari itu sangat penuh dengan nasihat untuk masuk ke jenjang pernikahan, karena masa berpacaran dan ketika masuk ke pernikahan sangat lah berbeda. Banyak Hal yang harus di setarakan, yang harus saling di terima satu sama lain. Harus saling mengisi.
**************
Di sisi lain, berhubung hari itu hari sabtu, mama Nita berniat untuk mengajak Fanny pergi ke sebuah mall. Karena itu memang rencana mereka untuk mempertemukan Fanny dan juga ka Axel.
Mama Nita maupun fanny saat itu sedang berada di ruang tamu untuk menonton tv bersama setelah selesai sarapan.
"Fan, nanti siang kita makan siang di luar yuk. Kebetulan mama mau ketemu temen mama. Temenin mama ya.", ucap mama Nita
__ADS_1
"Apa aku harus ikut ma? Aku sangat tidak mood sekarang.", ucap Fanny lesu
"Ayo lah sayang, masa kamu gamau nemenin mama? Kan sekalian kita bisa jalan jalan, kamu juga bisa liat liat cowo tampan nanti.", ucap mama Nita
"Tapi ma, aku sangat malas.", ucap Fanny
"Ayo lah sayang, temani mama. Setidak nya untuk bertemu teman mama. Karena teman mama juga bawa anak nya. Siapa tau kalian bisa berkenalan.", ucap mama Nita
"Tapi maaa......", ucap Fanny
"Sudah tidak ada tapi tapi an. Pokok nya kamu ikut mama nanti siang ya.", ucap mama Nita
Mama Nita langsung pergi dan masuk ke kamar nya karena tidak mau sampai Fanny banyak alasan yang akhirnya tidak jadi ikut pergi.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, mama Nita yang dari kamar pun segera keluar dan memberi tau Fanny untuk segera bersiap.
"Fan, ayo fan. Cepat ganti baju. Mama sudah pilihkan baju untuk mu. Di pakai ya.", ucap mama Nita
"Iya maa.", ucap Fanny malas
Fanny pun melangkah ke kamar nya dan segera berganti pakaian sesuai dengan yang di pilihkan oleh mama Nita tadi. Selesai siap siap, Fanny pun keluar kamar tanpa berias.
"Ayo ma, aku sudah siap.", ucap Fanny
"Astaga Fanny, masa kamu ga dandan sama sekali sih? Pakailah sedikit bedak dan juga lipstick agar wajah mu itu tidak pucat.", ucap mama Nita
"Gausa lah ma. Lagian buat apa sih?? Aku tuh ke mall cuma mau nemenin mama, bukan mencari cowok.", ucap Fanny
Sedangkan Fanny hanya diam saja di ruang tamu sambil menonton tv.
Tak berapa lama mama Nita pun keluar dengan membawa alat rias nya dan dengan segera mama Nita langsung merias wajah anak nya itu. Fanny yang sudah sangat malas pun hanya diam dan menerima apa yang mama nya perlakukan pada nya tanpa komplain.
Setelah selesai, tepat pukul sebelas, Fanny dan mama Nita pun berangkat menuju mall yang di tuju, mama Nita mengendarai mobil nya, karena Fanny tidak bisa menyetir mobil.
Sekitar tiga puluh menit akhir nya mereka sampai di mall tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam mall tersebut dan menuju restaurant yang sudah mama Gladys reservasi.
Mama Nita mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya dan berpura Pura untuk menelepon teman nya.
"Hallo jeng, aku sudah sampai nih."
"Ohh gitu, yah sudah aku langsung masuk ke dalam resto nya ya."
"Oh ya, nomor berapa jeng meja nya?"
"Oh Oke, aku juga bawa anak aku kok. Yah sudah aku kesana ya."
Mama Nita pun menutup telepon nya dan menaruh nya kembali ke dalam tas.
"Ayo fan, kita masuk ke resto itu.", ucap mama Nita sambil menggandeng Fanny
Fanny hanya menurut tanpa memberontak. Rasa nya ia sudah sangat malas dan sudah tidak berselera untuk bertemu siapapun.
Saat sudah mau masuk ke dalam restaurant pun mama Nita beralasan ingin pergi ke toilet dan menyuruh Fanny untuk masuk terlebih dahulu ke dalam restaurant itu dan menemui teman mama nya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu masuk dulu ya, perut mama tiba tiba sakit nih. Temui teman mama dulu, bilang sama teman mama kalau mama sakit perut harus ke toilet dulu.", ucap mama Nita
"Ihh mama, aku nungguin mama aja di toilet ya. Aku kan ga kenal sama temen mama.", ucap Fanny
"Jangan gitu dong nak. Temen mama sudah nunggu dari tadi. Ayo masuk duluan. Teman mama ada di meja 9. Nanti mama akan menyusul. Mama udah ga tahan nih mau ke toilet. Cepat kamu masuk dulu.", ucap mama Nita dan langsung berlari meninggalkan Fanny
Fanny yang di tinggal pun bingung harus bagaimana, apa harus menunggu mama nya di depan restaurant tersebut, atau harus masuk duluan.
Fanny pun memutuskan untuk menunggu di depan restaurant, namun setelah sepuluh menit, mama Nita belum juga kembali. Karena tidak enak dengan teman mama nya, akhir nya Fanny mau tidak mau masuk ke dalam restaurant tersebut dan menemui teman mama nya.
Fanny masuk ke dalam restaurant dan menanyakan kepada pelayan dimana letak meja nomor 9.
"Permisi mbak", ucap Fanny
"Oh iya Nona. Untuk berapa orang? Biar saya siapkan meja.", ucap pelayan
"Ehm saya sudah janjian. Dimana meja nomor 9 ya mbak?", tanya Fanny
"Oh sudah janjian. Oke baik Nona mari saya antar.", ucap pelayan
Pelayan tersebut pun mengantarkan Fanny untuk menuju meja bernomor 9.
Namun saat melihat orang yang duduk di meja bernomor 9 itu pun Fanny sangat terkejut dan langsung menanyakan pada pelayan.
"Mbak, apa ga salah mbak? Seharusnya teman mama saya yang ada disini. Tadi dia bilang di nomor 9.", ucap Fanny
"Iya Nona, ini meja nomor 9.", ucap pelayan
"Mari Nona, saya permisi dulu.", ucap pelayan dan segera pergi dari sana.
Pandangan Fanny terkunci dengan seorang pria yang sedang duduk di meja bernomor 9 itu yang tak lain adalah ka Axel.
Ka Axel pun sama terkejut nya melihat Fanny yang datang menghampiri nya dan memakai baju sesuai dengan kriteria yang di ucapkan mama nya itu.
Mereka berdua hanya saling menatap tanpa ada yang bersuara. Hanya mata mereka yang saling berbicara. Entah apa yang harus mereka katakan, mereka berdua terlihat sangat bingung.
Tak jauh dari mereka, ada Celine yang sedang duduk di sudut ruangan tersebut, tanpa terlihat oleh Fanny maupun ka Axel. Begitu juga dengan mama Nita yang sudah ikut masuk ke dalam restaurant tapi bersembunyi di balik toilet.
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya yaa. Dukung author terus supaya author rajin up nya, kalau ga super author males otak nya. Jangan lupa juga di follow ig author di @cathleen_josephine & @scenndle.co . Thankyou and happy reading 😊😊😊
.
.
.
__ADS_1