
Keesokan hari nya, pagi pagi sekali Davina dan kedua sahabat nya sudah berada di sekolah.
Mereka memutuskan untuk mengulang kembali apa yang mereka pelajari semalaman.
Kebetulan ulangan pun diadakan di jam pertama, sehingga mereka tidak punya waktu banyak untuk belajar lagi.
Saat guru sudah masuk ke dalam ruang kelas, mereka langsung duduk di kursi mereka masing masing.
Setelah berdoa pagi hari, tak berselang lama, guru pun menyuruh semua murid nya untuk meletakkan buku dan tempat pensil mereka dalam tas dan hanya menyisakan 1 pulpen, 1 pensil, 1 penghapus dan correction pen. Setelah itu bu guru pun menyuruh mereka semua meletakkan tas mereka ke depan kelas. Tepat nya di bawah white board.
Seketika Davina menjadi panik, karena ia sama sekali tidak bisa konsen belajar sejak semalam.
Ketika semua murid sudah duduk kembali di kursi masing masing, bu guru pun membagikan soal ulangan yang akan mereka hadapi.
Karena memang Davina adalah anak yang pintar dan selalu fokus saat belajar di kelas, sehingga tidak begitu sulit untuk ia mengerjakan soal soal tersebut, walaupun ada beberapa soal yang ia tidak yakin bahwa jawaban nya benar.
Davina hampir selalu mendapatkan nilai 100 pada setiap mata pelajaran, sangat tidak mungkin ia mendapatkan nilai 80.
Tapi kali ini ia tidak yakin kalau ia bisa mendapat nilai 100, karena ada beberapa nomor yang ia tidak yakin jawaban nya. Selama ulangan, bu guru selalu berkeliling untuk memantau para murid nya, karena takut ada yang menyontek atau curang.
Setelah satu jam, bu guru menyuruh mereka untuk mengumpulkan lembar jawaban beserta soal nya ke depan meja guru. Namun bila ada yang belum selesai mereka masih boleh melanjutkan ulangan mereka. Sedangkan yang sudah selesai ulangan, mereka boleh pergi ke perpustakaan.
Kala itu, Davina belum menyelesaikan ulangan nya karena belum yakin dengan soal soal yang ia tidak yakin jawaban nya. Sedangkan Jean dan Lily sudah keluar kelas dan menuju perpustakaan.
Bu guru yang melihat masih ada Davina di dalam kelas pun merasa heran, karena tidak biasa nya Davina lama dalam mengerjakan ulangan nya. Bahkan ia lebih sering mengumpulkan ulangan lebih dulu.
Tiga puluh menit berlalu, jam pelajaran itu pun habis, mau tak mau Davina harus mengumpulkan ulangan nya.
Saat ia hendak mengumpulkan ulangan nya ke meja guru, bu guru pun sempat bertanya pada Davina .
"Davina, tumben kamu baru selesai?", tanya bu guru
"I..Iya bu, tadi ada beberapa nomor yang saya ga yakin bu jawaban nya.", ucap Davina yang tidak pandai berbohong
"Memang nya kamu tidak belajar?", tanya bu guru
"Belajar bu, hanya saja kemarin saat saya belajar, saya sedang tidak fokus bu.", ucap Davina .
"Memang nya apa yang membuat fokus belajar mu hilang Vina?", tanya bu guru
"Ehm.... ti..tidak ada bu.", ucap Davina
"Davina, kamu anak yang cantik, pintar dan sayang nya kamu tidak pandai berbohong Davina.", ucap bu guru
Davina diam dan hanya menunduk.
"Maaf kalau ibu ikut campur, tapi kamu tau sendiri kalau nilai mu hampir selalu mendapat nilai 100. Tapi kalau nilai mu sampai turun, pasti orang tua mu dan kakak mu, David, pasti akan bertanya pada sekolah Davina.", ucap bu guru lagi
"Ibu harap, kedepan nya kamu bisa lebih serius lagi ya Davina.", tambah bu guru
"Iya bu, maafkan saya bu.", ucap Davina menunduk
"Yah sudah kalau begitu ibu keluar dulu ya.", ucap bu guru
Davina pun mengangguk dan kembali ke kursi nya sambil menunggu kedua sahabat nya datang. Karena sebentar lagi mata pelajaran selanjutnya akan di mulai, sehingga ia lebih menunggu di kelas saja.
Tak berapa lama, semua siswa pun kembali ke dalam kelas karena akan ada mata pelajaran selanjutnya. Begitu pun dengan Jean dan Lily.
"Vin, kok kamu ga ke perpustakaan?", tanya Lily sambil duduk di kursi nya
__ADS_1
"Iya Vin, padahal kita nungguin kamu loh. Dan kamu tau ga???? Kita berdua tadi ngeliat laki laki yang kemarin lagi pas keluar kelas tadi.", ucap Jean
Seketika Davina mengingat kembali wajah laki laki yang sempat menabrak nya kemarin.
"Kalian melihat nya dimana?", tanya Davina
"Tadi kita melihat nya saat ia sedang masuk ke ruang administrasi seperti kemarin.", ucap Jean
"Lagian kamu kenapa lama amat sih?", tanya Lily
"I...iyaaa.. Tadi ada beberapa nomor yang aku ga yakin jawaban nya. Maka nya aku lama.", ucap Davina
"Semua soal tadi sudah kita pelajari semalam Vin. Masa kamu ga ingat?", tanya Jean
"Iya. Aku semalam agak tidak konsen saat belajar, maka nya aku jadi ga yakin jawaban nya tadi.", ucap Davina
Tak berapa lama guru mata pelajaran selanjutnya masuk. Mereka pun langsung terdiam dan kembali duduk di posisi masing masing.
Seharian itu Davina semakin tidak fokus dalam belajar, namun ia berusaha sekuat mungkin untuk melupakan laki laki yang kemarin menabrak nya. Namun itu sangat lah sulit.
Hingga pukul 3 sore, semua aktivitas sekolah pun selesai. Davina pulang bersama Jean dan Lily.
Sesampainya di rumah pun, Davina nampak tidak seperti biasa nya. Ia lebih banyak diam dan melamun. Bahkan Jean dan Lily yang melihat nya pun sampai kebingungan.
"Vin, kamu sebenarnya ada apa? Kok seharian ini kamu diam saja?", kata Jean
"Aku tidak apa apa kok Jean.", ucap Davina
"Tapi wajah mu itu tidak menampakkan kalau kamu itu sedang tidak ada apa apa Vin.", ucap Jean
"Benar aku tidak apa apa Jean. Aku hanya.....", ucap Davina terputus
"A.... aku hanya... aku hanya kepikiran dengan laki laki kemarin.", ucap Davina gugup
"Apa kamu menyukai nya?", tanya Jean
"Ah... tidak tidak. Mana mungkin aku menyukai nya. Aku hanya baru pertama kali sedekat itu dengan seorang pria.", ucap Davina
"Tapi kamu juga sebenarnya sudah pantas untuk berpacaran.", ucap Lily
"Iya, tapi tidak dengan keluarga ku. Mereka sangat menentangku untuk berpacaran.", ucap Davina
"Kamu berdoa saja. Kalau memang dia jodoh mu. Pasti dia akan dipertemukan lagi dengan mu suatu saat nanti.", ucap Jean
"Iya, terima kasih ya Jean, lily.", ucap Davina
Mereka bertiga pun saling berpelukan.
*********
POV Rico
Pagi itu, ia sengaja datang ke sekolah Davina seperti kemarin. Ia berencana ingin mendaftarkan saudara nya di sekolah itu juga. Namun itu hanya lah rencana Rico. Ia tidak benar benar mendaftarkan saudara nya. Ia hanya mendaftarkan salah seorang anak dari anak buah nya untuk memata matai Davina di sekolah itu. Namun Rico mengakui sebagai saudara sepupu nya.
Rico datang pagi itu dengan kemeja lengan panjang yang di gulung sesiku dan celana panjang nya, tak lupa ia memakai kacamata hitam nya.
Ia memang tau kalau Davina sudah berada di sekolah, namun ia tidak tau kalau Davina sedang ada ulangan.
Saat ia hendak masuk ke ruang administrasi, dari kejauhan ia melihat Jean dan Lily keluar dari kelas mereka, namun ia tidak melihat Davina. Namun Rico berpura pura tidak melihat mereka dan terus berjalan menuju ruang administrasi.
__ADS_1
Sedangkan Rico sendiri tau, kalau kedua gadis itu melihat nya terus menerus. Namun tidak berapa lama, karena Jean dan Lily sudah menghilang.
Setelah selesai mengurus urusan administrasi, Rico pun keluar dari sekolah menuju mobil nya dan kembali ke apartment nya.
Rico menyuruh anak buah nya beserta anak nya, yang akan di sekolah kan di sekolah yang sama dengan Davina untuk datang ke apartment nya.
Tak berapa lama anak buah nya beserta anak nya sudah tiba di apartment Rico.
"Selamat siang tuan Rico.", ucap Jim anak buah Rico
"Siang, ayo masuk.", ucap Rico
"Perkenalkan tuan, ini Mary anak saya.", ucap Jim
"Selamat siang tuan Rico." ucap Mary
Rico pun mengangguk.
"Kalian sudah tau kan rencanaku? Biar ku perjelas. Mary kamu saya sekolahkan di sekolah A. Kamu akan 1 kelas dengan seorang gadis bernama Davina. Tugas mu adalah memata matai nya. Berikan info nya kepada papa kamu. Jadilah teman Davina.", ucap Rico
"Baik tuan Rico.", ucap Mary
"Mulai besok kamu sudah masuk sekolah. Semua nya sudah aku persiapkan untuk mu.", ucap Rico
"Terima kasih tuan Rico.", ucap Mary
"Jim, nanti ambil semua keperluan nya di kamar yang ada disana.", ucap Rico sambil menunjuk kamar
"Baik tuan Rico. Terima kasih banyak tuan.", ucap Jim
"Lakukan tugas kalian dengan baik kalau mau hidup kalian terjamin.", ucap Rico
Mary dan Jim pun mengangguk mengerti. Setelah itu Jim dan Mary menuju kamar yang di tunjuk Rico tadi dan segera mengambil semua keperluan untuk Mary.
Segala keperluan Mary dalam urusan sekolah akan di tanggung oleh Rico, karena memang Jim tidak bisa menyekolahkan Mary sampai tingkat SMA karena tidak ada biaya. Maka dari itu Rico menyuruh nya untuk bersekolah disana sembari memata matai Davina.
Mary termasuk anak yang baik dan penurut, mungkin ia tidak begitu pintar, namun ia sangat giat belajar dan membantu orang tua nya.
Sebelum nya Jim juga hanya menjadi satpam dan bisa menjadi orang suruhan juga. Sedangkan istri nya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Setelah selesai dengan Rico, Jim dan Mary pun bergegas pulang ke rumah kecil nya dan mempersiapkan Mary untuk mulai bersekolah kembali besok.
Rico memilih untuk beristirahat di apartment nya, karena besok ia akan kembali ke Jakarta. Tapi nanti nya ia akan sebulan sekali ke Singapura untuk mengontrol kerja anak buah nya itu.
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya ya guys. Author usahakan untuk up new eps tiap malam ya. Thankyou and happy reading guys 😁😁😁
.
.
.
__ADS_1