
Di ruangan Steven
Steven yang suasana hati nya sedang kacau pun sudah tidak bisa menahan nya lagi. Ia mengambil salah satu berkas di meja nya dan melempar nya kesembarang arah dengan berteriak namun tidak terlalu keras.
"Aaahhh!!!!", teriak Steven sambil melempar berkas nya
Kemudian ia mendudukan tubuh nya di kursi kebesaran nya dengan rasa kesal nya.
"Apa yang harus aku lakukan??? Sekarang aku sudah tau kalau ka David tidak akan menyerah atau mundur untuk mendekati Celine, berarti hanya tinggal aku dan Celine lah yang harus kuat. Terutama Celine. Jangan sampai ia tergoda dengan ka David. Aku ga bisa kehilangan kamu Celine.", gumam Steven sambil menarik rambut nya seperti orang frustasi.
"Aaahhh!!!!", teriak Steven dan menggebrak meja nya.
Rico yang saat itu ingin ke ruangan Steven pun mendengar suara teriakan dan gebrakan meja Steven.
Tak pakai lama Rico pun masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dan segera menutup pintu kembali.
"Steve, ada apa??", tanya Rico panik melihat berkas yang sudah di lemparkan tadi dan berceceran di lantai.
"Aku ga bisa Co, aku ga bisa kehilangan Celine . Aku bingung harus apa.", ucap Steven
"Apa yang terjadi? Apa yang kalian bicarakan tadi di restaurant?", tanya Rico lagi
"Tadi aku sudah bicara pada ka David, ia memang tidak tau siapa tunangan nya Celine. Namun ia bertekad akan terus berjuang untuk Celine dan tidak akan menyerah walaupun ia tau itu salah.", ucap Steven
Rico pun menghembuskan napas nya kasar.
seperti nya aku harus bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Steven
"Aku harus bagaimana Co? Apa aku harus berterus terang pada David?", tanya Steven
"Seharus nya seperti itu, tapi tadi kenapa kamu tidak terus terang saja?", tanya Rico
"Karena aku tadi ingin mendengar apa yang ia rasakan dan apa tindakan dia selanjutnya. Dan sekarang aku sudah tau apa jawaban dia. Dia tidak akan pernah menyerah.", ucap Steven
"Yah sudah sekarang kamu tenang kan dirimu dulu. Kita tunggu waktu yang tepat saja nanti untuk bicara lagi pada nya.", ucap Rico
"Baiklah, aku mau pergi dulu, kamu urus kantor.", ucap Steven sambil berdiri dan mengambil tas kerja nya beserta ponsel nya.
"Iya kamu tenang saja kalau urusan kantor. Aku dan Danny yang akan mengurus nya.", ucap Rico.
Steven pun mengangguk dan segera pergi keluar dari ruangan nya di susul dengan Rico yang kembali ke ruangan nya.
Steven menuju lobby dan mengambil mobil nya.
Ia mengemudikan mobil nya tanpa arah dengan kecepatan sedang.
Baru kali ini Steven merasakan hal seperti ini, biasa nya semua masalah bisa ia atasi dengan baik, namun tidak kalau urusan nya dengan hati dan ada pihak orang ketiga.
Dulu memang pernah sahabat Celine menyukai Celine, namun karena Jacob sadar akan apa yang ia lakukan adalah salah, ia memutuskan untuk mundur.
Tapi apa yang terjadi sekarang adalah beda, David tidak akan menyerah. Apalagi ia punya kekuasaan yang besar di negara nya. Bahkan ia tidak pernah bermain main dengan ucapan nya.
Steven mengendarai mobil nya tanpa arah namun ia menuju sebuah tempat terpencil, jauh dari keramaian ibu kota.
Ia pergi ke arah yang cukup tinggi nan sejuk. Sembari menyejukkan hati dan pikiran nya.
Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai disana. Salah satu villa milik nya yang ia beli belum lama ini.
Steven memasuki villa tersebut karena kunci villa itu selalu ia bawa di dalam mobil nya. Namun villa itu juga memiliki seorang penjaga laki laki yang sudah cukup berumur sekitar 50an bernama pak Udin.
Penjaga villa itu tinggal di belakang villa, agar bisa terus memantau keberadaan villa dari jarak dekat.
__ADS_1
Pak Udin memiliki seorang istri bernama ibu Nani sebagai pembantu di villa itu dan seorang anak laki laki bernama Umar yang masih sekolah di tingkat sekolah dasar.
Steven sengaja memperkerjakan pak Udin di villa nya agar Umar bisa tetap sekolah, karena sebelum bekerja dengan Steven, Umar tidak bersekolah.
Maka dari itu pak Udin sangat menghormati Steven sebagai pemilik villa, begitu juga dengan bu Nani dan Umar.
Saat Steven memasuki halaman villa, pak Udin yang sedang di rumah belakang pun mendengar nya dan segera keluar dan melihat siapa yang datang, yang ternyata adalah Steven sang pemilik villa.
Dengan segera pak Udin menyapa Steven saat sudah turun dari mobil.
"Selamat sore tuan Steven.", ucap pak Udin
"Sore pak Udin.", ucap Steven
"Tumben tuan Steven kesini tidak telepon bapak dulu, biar bapak persiapkan villa dulu.", ucap pak Udin
"Tidak apa pak, lagi pula aku tidak menginap, aku hanya mau mengunjungi villa saja, kan sudah lama saya tidak kesini.", ucap Steven
"Baik tuan, silahkan masuk tuan, biar saya siapkan kopi untuk tuan.", ucap pak Udin
"Terima kasih pak.", ucap Steven
Steven pun masuk ke dalam villa dan melihat kondisi villa yang ia beli itu, masih tertata dengan rapi dan bersih, karena memang pak Udin dan bu Nani membersihkan nya setiap hari.
Setelah melihat beberapa sudug ruangan di villa tersebut, ia memilih melangkah ke halaman belakang dengan banyak nya tumbuhan yang tertata rapi disana dan menambah kesejukkan di villa tersebut.
Steven menghembuskan napas nya dalam dalam, udara yang begitu sejuk masuk begitu saja ke dalam lubang hidung nya.
Sedikit terpancar senyuman kecil di wajah tampan nya itu.
"Betapa sejuk nya udara disini.", gumam Steven
"Permisi tuan, ini kopi nya tuan.", ucap pak Udin sambil meletakkan segelas kopi di atas meja di halaman belakang tersebut.
"Iya sama sama tuan, kalau butuh apa apa, panggil bapak saja ya tuan.", ucap pak Udin
Steven pun mengangguk.
Setelah pak Udin pergi, Steven melangkah ke kursi panjang di depan meja. Ia mengambil segelas kopi itu dan menyeruput nya perlahan karena masih panas. Namun kali ini rasa nya sangat nikmat karena meminum kopi panas di cuaca yang cukup dingin.
Cukup lama Steven melamun di halaman belakang, hingga langit pun sudah berganti gelap.
Steven tersadar ketika ponsel nya berbunyi.
triiiingggg......
Steven mengambil ponsel nya yang ada di saku celana nya dan melihat siapa yang menelepon.
"Astaga sudah jam enam sore.", ucap Steven
Ia pun langsung mengangkat ponsel nya setelah melihat nama Celine di layar ponsel nya.
"Hallo sayang, kamu dimana? Kamu gajadi jemput aku?"
"Hallo sayang, maaf aku ga bisa jemput kamu sekarang karena aku masih ada urusan." ~ ucap Steven berbohong
"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ya sama papa."
"Iya sayang hati hati ya."
"Iya, bye."
__ADS_1
"Bye."
Steven pun menutup ponsel nya dan meletakkan kembali ke dalam saku celana nya dan berdiri dari posisi duduk nya.
Ia melangkah ke dalam villa untuk menemui pak Udin dan bu Nani.
"Pak Udin, bu Nani, saya pulang dulu ya. Saya titip villa ya pak, bu.", ucap Steven
"Apa tidak mau makan malam dulu tuan?", tanya bu Nani
"Tidak usah bu, nanti saya makan di jalan saja.", ucap Steven
"Baiklah kalau begitu tuan. Hati hati di jalan.", ucap pak Udin dan bu Nani.
Steven pun mengangguk dan tersenyum. Setelah nya Steven keluar dari villa dan masuk ke dalam mobil nya.
Pak Udin memarkirkan mobil Steven yang hendak keluar dari halaman villa nya.
Setelah tidak melihat mobil Steven lagi, pak Udin dan bu Nani segera masuk ke dalam villa dan mengunci pintu utama villa tersebut.
Setelah nya bu Nani dan pak Udin kembali ke rumah nya yang letak nya di belakang villa Steven
"Pak, tumben sekali tuan Steven datang kesini sore hari.", ucap bu Nani
"Iya, bapak juga bingung, maka nya tadi bapak juga kaget waktu tuan Steven kesini.", ucap pak Udin
"Iya, tidak biasa nya. Biasa nya kan kalau sabtu atau minggu baru tuan Steven kesini.", ucap bu Nani
"Iya mungkin sedang mau menenangkan pikiran bu, tuan Steven kan boss di perusahaan nya, keluarga Natawira itu kan sangat banyak usaha bisnis nya. Pasti pekerjaan nya juga sangat banyak bu.", ucap pak Udin
"Iya benar juga ya pak, semakin tinggi jabatan pasti semakin besar juga tanggung jawab nya pak.", ucap bu Nani
"Iya lah bu, kita juga harus berterima kasih dan bersyukur pada pak Steven, kalau tidak mungkin Umar tidak bisa sekolah bu.", ucap pak Udin
"Iya benar pak, ibu juga sangat bersyukur. Tuan Steven juga orang nya sangat baik.", ucap bu Nani
"Iya bu. Maka nya kita harus benar benar menjaga dan mengurus villa nya dengan baik.", ucap pak Udin
"Iya pak.", ucap bu Nani
Setelah nya Pak Udin dan bu Nani kembali ke aktivitas nya masing masing. Bu Nani memasak untuk makan malam, pak Udin menjaga villa.
Sedangkan di sisi lain, Steven yang sudah kembali dari villa pun menempuh waktu hampir 3 jam, karena bertepatan dengan banyak nya orang pulang kerja di Jakarta, sehingga ia sampai rumah pun sudah pukul setengah sepuluh malam. Karena sebelum nya ia mampir di salah satu tempat makan di pinggir jalan sehabis dari villa tadi.
Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke dalam kamar nya dan segera membersihkan tubuh nya yang seharian sudah berkeringat dan lengket.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika ia selesai mandi, dan tak pakai lama ia pun langsung tidur karena ia sangat lelah setelah menempuh jarak yang cukup jauh.
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya yaa. Thankyou and happy reading 😁😁😁
.
.
__ADS_1
.