
Hari berganti hari, Steven yang pagi pagi sudah datang ke kantor nya segera menemui kedua sahabat nya di ruangan nya.
"Steve, bagaimana maksud mu waktu malam itu ?", tanya Danny
"Iya kemarin saat aku dan Celine sedang di mall, aku bertemu dengan David, aku rasa saat aku sedang mengobrol dengan David, Celine melihat kami, saat David pergi, Celine segera mengajak ku pergi dari situ dengan alasan sakit perut, karena saat itu Celine sedang ke toilet. Tapi aku rasa Celine mengajak ku pergi bukan karena sakit perut, melainkan David.", jelas Steven
Danny dan Rico pun saling melirik, karena sebenarnya mereka sudah tau kalau David yang Steven cari adalah David klien nya itu.
"Ehm... begini Steve, sebenarnya kami sudah tau.", ucap Danny
"Apa maksud mu???", tanya Steven dengan nada mulai naik
"Begini Steve, biar kami jelaskan dulu.", ucap Rico
"Cepat katakan.", ucap Steven
"Waktu kamu menyuruh kami menyelidiki David yang menjadi klien nya Celine, kami sudah menyelidiki nya, dan kami sudah tau siapa dia. Namun Kita masih mau mencari bukti dulu, hingga kami tau dari Fanny. David yang kamu cari adalah David yang menjadi klien mu saat ini Steve, tuan David dari Singapura.", jelas Rico
"Apa??? Jadi David itu David yang sama dengan klien ku???", ucap Steven
"Iya Steve, dan beberapa hari yang lalu, kami dengar dari Fanny kalau David baru saja menyatakan perasaan nya pada Celine, namun Celine menolak nya dan bilang kalau ia sudah punya tunangan.", ucap Danny
"Tapi apa ia tau kalau aku lah tunangan Celine?", tanya Steven lagi
"Itu yang aku tidak tau, tapi aku rasa ia belum tau, kalau dia tau mungkin ia sudah datang padamu.", ucap Rico
"Lalu bagaimana? Apa aku harus bilang pada nya kalau Celine tunangan ku?", tanya Steven
"Apa tidak lebih baik seperti itu?", tanya Danny
"Coba aku nanti aku bicarakan pada David, mudah mudahan ia mau mengerti dan menjauhi Celine.", ucap Steven
"Yah sudah kalau gitu kita balik ke ruangan kita dulu.", ucap Rico
Steven pun mengangguk, Danny dan Rico segera keluar dari ruangan Steven.
Steven yang sudah mendengar penjelasan dari Danny dan Rico pun menjadi bingung. Di satu sisi ia tau David menyukai seorang perempuan, tapi ia tidak tau apakah David akan terus berjuang pada Celine apa mundur.
Siang itu, Steven berencana untuk janjian makan siang untuk saling mengobrol sekaligus untuk memberi tau David bahwa Celine adalah tunangan nya.
Steven pun sudah menyuruh Rico untuk mereservasi restaurant untuk makan siang nanti. Namun bukan Rico yang menghubungi David, melainkan Steven sendiri yang akan menghubungi, karena ini di luar urusan kantor.
Steven pun mengambil ponsel nya untuk menghubungi David, karena takut David sudah ada janji dengan klien nya atau ada urusan lain.
"Hallo ka David."
"Hallo Steven, ada apa?"
"Nanti siang apa kakak kosong? Karena aku ingin mengajak kakak makan siang."
"Ehmm.... seperti nya sih kosong, cuma nanti aku kabari lagi, aku harus tanya sekertaris ku dulu."
"Oke ka, kabari aku kalau kakak bisa."
"Oke Steve, nanti aku kabari."
"Oke ka."
Steven pun menutup telepon nya dan kembali mengerjakan pekerjaan nya sebelum jam makan siang.
Tepat jam sepuluh pagi, ponsel Steven berbunyi, Steven melihat nama di layar ponsel nya dan tertera nama Celine disana. Dengan segera Steven mengangkat telepon tersebut.
"Hallo sayang."
"Hallo sayang, kamu lagi dimana?"
"Aku di kantor, ada apa?"
"Nanti siang makan di luar yuk, aku lagi ingin makan masakan padang."
"Ehmm... tapi nanti aku ada janji dengan salah satu klien ku untuk makan siang."
"Hemm... yah sudah deh kalau gitu nanti aku ajak Fanny aja."
"Maaf yaa sayang, nanti sore aja aku jemput ya kita makan dimana pun kamu mau.", ucap Steven
"Iya ga apa apa sayang. Yah sudah ya aku mau kerja lagi. Bye."
__ADS_1
"Iya sayang, bye."
Steven pun menutup ponsel nya setelah berbicara dengan Celine dan meletakkan kembali ponsel nya di atas meja.
Namun tak berapa lama ponsel Steven berbunyi kembali, namun ia tidak melihat siapa yang menelepon dan ia langsung mengangkat nya karena masih fokus dengan dokumen yang ia baca.
"Ya sayang, ada apa?"
"Hallo Steve."
Seketika Steven menjauhkan ponsel nya untuk melihat siapa yang menelepon dan ternyata itu adalah David.
"Ehh maaf ka David, aku kira tunangan ku. Maaf ka.", ucap Steven terkekeh
"Kamu habis telfonan dengan tunangan mu ya. haha."
"Iya ka, tadi dia habis menelepon ku, aku pikir dia lagi yang menelepon."
"Oh ya, tawaran makan siang mu masih berlaku?"
"Iya ka, kakak bisa?"
"Iya aku bisa, tadi aku sudah tanya sekertaris ku dan jadwal ku kebetulan hari ini kosong."
"Oke ka, nanti aku akan mengirimkan nama restaurant nya yang sudah aku reservasi."
"Oke, kabari aku saja."
"Oke ka."
Setelah itu Steven memutuskan sambungan telepon nya dan meletakkan kembali menatap dokumen nya yang sedang ia baca tadi.
tok...tok...tok...
"Masuk.", ucap Steven
Pintu terbuka.
"Steve.", panggil Rico
Steven pun menengok
"Apa kamu jadi makan siang dengan David?", tanya Rico yang duduk di kursi depan meja nya.
"Iya jadi, barusan ka David mengabari ku.", ucap Steven
"Oke, aku juga sudah mereservasi tempat untuk kalian makan siang.", ucap Rico
"Oke kamu atur saja semua Co.", ucap Steven
"Oh ya Steve, apa kamu yakin ingin memberi tau David tentang hubungan mu dan Celine?", tanya Rico lagi
mendengar pertanyaan Rico, Steven kembali menengok ke arah nya.
"Sebenarnya aku bingung bagaimana menjelaskan nya pada ka David.", ucap Steven.
"Apa kamu mau supaya ku atur agar kalian bertemu bertiga?", tanya Rico
"Apa? bertiga?", tanya Steven
"Iya, biar kalian bisa saling berbicara agar tidak ada kesalahpahaman lagi.", ucap Rico
"Tapi seperti nya tidak untuk sekarang, aku tidak ingin nanti Celine malah menjadi tidak nyaman, apalagi David adalah klien di perusahaan nya.", ucap Steven
"Baiklah kalau begitu, aku yakin kamu bisa mengatasi nya dengan baik.", ucap Rico
"Iya aku harap begitu. Thankyou Rico.", ucap Steven
Rico pun mengangguk dan segera keluar dari ruangan Steven.
Saat Rico sudah keluar dari ruangan nya, Steven semakin bingung, apa yang ia lakukan benar atau tidak.
Di satu sisi ia sangat takut untuk kehilangan tunangan yang sangat ia cintai itu kalau ia tidak bilang pada David.
Tapi ia juga takut kalau David tidak bisa menerima nya dan malah membatalkan kerjasama nya yang akan merugikan perusahaan nya. Dan justru malah terus mengejar Celine dan menghancurkan hubungan nya.
Tapi kalau ia tidak berterus terang pada David, ia akan terus dikelilingi rasa tidak tenang.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, sebentar lagi waktu nya jam makan siang. Steven yang saat itu sudah menyelesaikan pekerjaan nya pun segera pergi menuju restaurant dimana ia janjian dengan David.
Steven beranjak dari duduk nya dan segera keluar dari ruangan nya untuk menuju lobby.
Sesampainya di lobby ia segera masuk ke dalam mobil nya dan mengemudikan mobil nya menuju restaurant.
Saat sampai disana, ia belum melihat David disana, jadi ia memutuskan untuk menunggu nya di ruangan yang sudah di siapkan oleh Rico sebelumnya.
Saat Steven sudah duduk, seorang pelayan datang menghampiri nya dan memberikan buku menu pada nya.
"Aku pesan ice cafe latte satu, makanan nya nanti saja.", ucap Steven
"Baik tuan, di tunggu sebentar.", ucap pelayan
Steven mengambil ponsel nya yang ada di saku celana nya dan melihat beberapa notifikasi yang muncul di ponsel nya.
Saat ia mengecek ponsel nya, minuman yang ia pesan tadi pun datang, pelayan segera menaruh minuman itu di atas meja.
"Ini minuman nya tuan.", ucap pelayan
"Terima kasih.", ucap Steven
Pelayan pun segera keluar dari ruangan tersebut karena memang ruangan tersebut adalah ruangan VIP.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhir nya orang yang ia tunggu pun datang.
"Steven.", sapa David
"Oh hai ka David. Ayo silahkan duduk.", ucap Steven
"Maaf ya Steve aku datang terlambat karena tadi aku ada urusan sedikit. Kamu jadi menunggu lama.", ucap David
"Tidak masalah ka, oh ya kakak mau pesan apa? Ayo kita pesan makan dulu.", ucap Steven
"Iya baiklah.", ucap David
Steven pun memanggil pelayan yang ada di luar pintu dengan mengangkat tangan nya dan pelayan itu pun sudah mengerti dan segera menghampiri mereka.
Setelah memesan beberapa menu makanan, pelayan pun segera menyingkir dari ruangan tersebut.
Sambil menunggu makanan mereka datang, mereka berdua pun terlihat mengobrol obrolan ringan.
"Oh ya Steven, bagaimana hubungan mu dengan tunangan mu?", tanya David
"Baik ka, hubungan ku baik. Kalau kakak bagaimana?", tanya Steven balik .
huftt....
David terlihat membuang napas nya kasar.
"Ada apa ka? Apa kakak ada masalah?", tanya Steven lagi
"Wanita yang ku sukai sudah memiliki tunangan.", ucap David lesu
"Apa kakak tau siapa tunangan nya?", tanya Steven
"Aku belum tau siapa tunangan nya itu, tapi rasa nya aku belum bisa untuk merelakan nya. Aku sudah terlanjur jatuh hati pada nya.", ucap David lagi
Mendengar ucapan David, seketika Steven ragu untuk melanjutkan pembicaraan nya itu, karena ia sudah tau kalau David tidak akan menyerah begitu saja.
"Apa kakak akan terus berjuang untuk mendapatkan nya walaupun ia sudah mempunyai tunangan?", tanya Steven ragu
David terlihat diam sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan Steven yang mungkin akan merubah semua nya.
"Aku.....", ucap David
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya yaa. Thankyou and happy reading 😊😊😊
.
__ADS_1
.
.