
Sepulang nya Danny dan Rico dari rumah nya. Steven pun memutuskan untuk menyampaikan niat nya untuk menikah dengan Celine secepatnya.
"Ma, pa, ada yang ingin aku bicarakan.", ucap Steven setelah mengantar kedua sahabat nya keluar rumah tadi.
"Apa yang mau kamu bicarakan nak?", tanya papa Andrew
"Iya, tumben sekali kamu ingin bicara serius begini dengan mama dan papa.", ucap mama Karin
"Apa ini tentang perusahaan?", tanya papa Andrew
"Bukan pa.", ucap Steven
"Lalu tentang apa? Tentang hubungan mu dengan Celine?", tanya mama Karin
"Iya ma, pa.", ucap Steven
"Ada apa dengan hubungan mu dengan Celine? Hubungan kalian baik baik saja kan?", tanya mama Karin
"Hubungan kami berdua baik ma. Hanya saja.....", ucap Steven terputus
"Hanya apa?", tanya papa Andrew
"Papa sudah tau kan tentang David? Pengusaha yang dari Singapura?", tanya Steven pada papa Andrew
"Iya papa tau dia. Kalau tidak salah dia bekerja sama dengan perusahaan mu kan beberapa waktu lalu. Tapi papa dengar juga kamu sudah tidak bekerja sama dengan nya.", ucap papa Andrew
Papa Andrew memang tidak terlalu tau banyak tentang perusahaan yang Steven pimpin. Karena memang perusahaan tersebut sudah sepenuh nya di serahkan kepada Steven. Jadi dengan siapapun perusahaan itu bekerja sama, papa Andrew tidak begitu mengetahui nya.
"Iya benar pa, beberapa waktu lalu memang perusahaan kami bekerja sama. Begitu juga dengan perusahaan om Thomas pa. Tapi ada suatu hal yang membuat kami memutuskan kerja sama itu.", ucap Steven
"Memang nya ada apa??", tanya papa Andrew
"Begini pa, panjang cerita nya bila dari awal. Perusahaan ku lebih dulu bekerja sama dengan nya, baru ia bekerja sama dengan perusahaan om Thomas. Aku dan David cukup dekat. Bahkan kami sering pergi makan bersama dan saling bercerita satu sama lain.", ucap Steven
Steven menceritakan semua kejadian itu mulai dari awal hingga akhir, dimana David secara terang terangan melamar Celine di kantor nya padahal David sendiri tau kalau Celine sudah memiliki tunangan, namun David sama sekali tidak tau kalau Celine dan Steven lah yang sudah bertunangan. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk segera memutus kerjasama dengan perusahaan David agar mereka tidak perlu untuk bertemu dengan David lagi.
Mama Karin, papa Andrew dan Sally pun mendengar penjelasan Steven dengan seksama. Mereka cukup terkejut dengan sikap David yang tidak mau menyerah.
"Lalu bagaimana rencana mu selanjutnya?", tanya papa Andrew
"Untuk saat ini, kami memang sudah tidak pernah bertemu dengan David lagi, dan ia juga sudah tidak pernah menampakkan wajah nya lagi semenjak kejadian itu.", ucap Steven
"Kakak harus terus berjuang dengan ka Celine. Jangan sampai laki laki itu merebut ka Celine dari kakak.", ucap Sally
"Iya Steven. Jangan sampai laki laki tak bermoral itu sampai mendapatkan Celine. Mama sungguh tidak rela. Mama tidak menyangka, ada laki laki yang berpendidikan, pintar, tampan, punya kedudukan tapi mempunyai sikap seperti itu.", ucap mama Karin
"Maka dari itu, aku ingin menikah dengan Celine.", ucap Steven
"Kapan rencana nya kamu mau menikahi Celine?", tanya papa Andrew
"Setelah pertunangan ka Axel pa.", ucap Steven
"Apaa???", teriak mama Karin dan Sally bersamaan.
Seketika papa Andrew dan Steven menutup telinga nya.
"Kenapa kalian harus berteriak seperti itu sih? Berisik sekali.", ucap papa Andrew
"Abis mama kaget pa, setau mama, Axel itu kan ga punya pacar, bagaimana bisa mau bertunangan???", ucap mama Karin
"Apa Axel menghamili anak orang??", tambah mama Karin
"Iya kaa. Apa seperti itu?", tambah Sally
__ADS_1
"Husss!!! Kalian tuh ya, kalian sangat cocok bila menjadi penyebar gosip. Belum mendengar penjelasan sudah main menuduh sembarangan. Keluarga mereka itu keluarga baik baik.", ucap papa Andrew
"Iya ma, bukan seperti itu. Ka Axel tidak menghamili anak orang.", ucap Steven
"Habis kok mendadak banget tiba tiba mau bertunangan.", ucap mama Karin
"Iya ma, ka Axel mau di jodohkan dengan Fanny.", ucap Steven
"Hahh?????", teriak mama Karin dan Sally lagi berbarengan
"Kalian bisa tidak sih kalau tidak pake teriakk??? Lama lama papa tutup mulut kalian pakai bantal.", ucap papa Andrew karena sudah tidak tahan dengan istri dan anak nya yang sedari tadi teriak teriak terus.
"Maaf pa. Aku ga maksud, aku hanya kaget pa. Maaf pa.", ucap Sally sambil memeluk lengan papa nya
"Maaf ya pa. Hehe.", ucap mama Karin
"Sekali lagi kalian pake teriak, papa tarik semua kartu ATM kalian.", ucap papa Andrew yang mampu membungkam mulut mama Karin maupun Sally dengan seketika.
Karena kedua wanita itu tidak bisa hidup tanpa kartu ATM yang mereka dapat dari papa Andrew.
Mama Karin maupun Sally langsung mengangguk dan menutup mulut nya rapat rapat.
Sedangkan Steven hanya terkekeh melihat mama maupun adik nya itu.
"Lalu bagaimana Steve?", tanya papa Andrew
"Iya pa, jadi om Thomas dan tante Gladys sudah merencanakan hal itu dengan orang tua Fanny agar menjodohkan mereka berdua. Tapi baik Fanny maupun ka Axel tidak mengetahui kalau mereka saling di jodohkan. Tante Gladys hanya bilang kalau ka Axel akan do jodohkan dengan anak teman nya, dan tante Gladys berbicara seperti itu juga di depan Fanny. Aku tidak habis pikir, Fanny pasti sakit hati. hahaha.", ucap Steven tertawa
"Memang nya Fanny menyukai Axel?", tanya mama Karin
"Iya ma, ka Fanny itu menyukai ka Axel. Tapi ka Fanny tidak berani mengutarakan nya pada ka Axel.", ucap Sally
"Astaga kenapa kedua orang tua mereka tega mengerjai anak mereka sendiri.", ucap mama Karin geleng geleng kepala
"Ihhh papa!!!!", teriak mama Karin yang hendak memukul lengan papa Andrew
"Heh. Mau papa tarik kartu ATM nya??", ancam papa Andrew sambil menahan tawa nya
"Ehh iya tidak pa tidak. Jangan yaa pa.", ucap mama Karin
Seketika ketiga orang lain nya tertawa terbahak bahak menertawakan mama Karin yang begitu mudah nya di tipu dan di kerjain oleh anak maupun suami nya sendiri.
Setelah menertawai mama Karin sampai puas, akhir nya mereka pun berhenti tertawa saat pelayan di rumah itu datang memberikan teh maupun kopi beserta cemilan nya.
Mereka berempat pun minum bersama.
"Lalu bagaimana kelanjutan nya?", tanya papa Andrew
"Iya, aku berniat menikahi Celine setelah pertunangan ka Axel.", ucap Steven
"Papa akan mendukung kalian. Lakukan yang terbaik. Pesan dari papa sebelum kamu masuk dunia pernikahan. Jaga hati maupun hidup mu hanya untuk satu wanita. Jangan berikan kesempatan kepada orang lain yang mau masuk ke dalam hubungan kalian. Orang luar tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam rumah bila pemilik rumah tidak membukakan pintu. Begitu juga dengan pernikahan.", ucap papa Andrew dengan bijak nya
Bahkan mama Karin yang ada di samping nya sampai terpesona dengan kata kata yang di ucapkan oleh suami nya sendiri. Mama Karin sangat beruntung memiliki papa Andrew sebagai suami nya, walaupun ia sadar dengan segala kekurangan nya, tapi papa Andrew dengan sabar dan dengan setia tetap terus berada dan bersama mama Karin.
"Mama juga berharap pernikahan kalian bisa terus sampai kalian menjadi kakek dan nenek.", ucap mama Karin.
"Iya ma, pa. Terima kasih ya ma, pa.", ucap Steven kepada kedua orang tua nya.
"Kamu pakai saja hotel papa untuk mengadakan resepsi nanti. Biar nanti mereka yang atur.", ucap papa Andrew
"Iya pa, terima kasih banyak pa.", ucap Steven
Setelah obrolan yang serius itu, masih ada obrolan ringan di antara mereka. Tapi karena waktu juga sudah lebih dari jam sepuluh malam, mereka pun memutuskan untuk segera masuk ke kamar mereka masing masing.
__ADS_1
************
Hari berganti hari, Celine maupun Steven sudah merencanakan untuk hari pernikahan mereka yang akan mereka laksanakan setelah pertunangan ka Axel selesai.
Baik dari keluarga Celine maupun Steven sudah setuju untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan itu setelah pertunangan ka Axel dan akan di selenggarakan di hotel milik papa Andrew.
Hari yang di tunggu tunggu pun tiba. Hari dimana ka Axel akan bertemu dengan calon tunangan nya.
Mama Gladys sudah merencanakan semua nya dengan mama Nita.
Flashback on
Mama Gladys menelepon mama Nita untuk menyusun rencana pertemuan Axel dengan Fanny
"Hallo bu Nita."
"Hallo Bu Gladys."
"Begini bu, bagaimana keadaan Fanny sekarang? Apa sudah lebih baik?"
"Sudah membaik, tidak seperti waktu malam itu."
"Syukurlah, saya takut nanti dia malah stress."
"Iya bu Gladys, tapi Fanny sudah tidak apa apa kok bu. Bagaimana rencana nya?"
"Begini bu Nita. Axel akan saya suruh untuk bertemu dengan Fanny di salah satu mall dengan ciri ciri baju atasan berwarna putih dengan blazer dan rok span hitam. Nah ibu nanti suruh Fanny untuk pakai baju seperti ciri ciri itu."
"Oke bu, nanti saya suruh Fanny untuk memakai baju tersebut. Tapi bagaimana saya menyuruh nya untuk kesana?"
"Itu terserah ibu saja. Atau, ibu pergi saja bersama Fanny ke mall itu dan bilang ingin bertemu dengan teman lama ibu beserta anak nya. Tapi ibu alasan saja untuk ke toilet."
"Ahh Iya benar juga. Baik bu baik. Akan saya lakukan. Mudah mudahan rencana kita lancar ya bu."
"Iya bu, mudah mudahan Fanny maupun Axel bisa cocok dan bisa lebih dekat lagi ya bu."
"Iya bu."
"Yah sudah kalau gitu saya tutup dulu telepon nya ya bu."
"Oke bu Gladys. Terima kasih banyak bu."
"Iya bu. Terima kasih juga ya bu."
Setelah menutup telepon itu, mama Gladys segera memberi tau kepada papa Thomas dan juga Celine. Agar rencana itu bisa berjalan lancar. Celine juga di tugaskan untuk mengikuti mereka ke mall namun dari jarak jauh agar bisa memantau mereka.
Flashback off
🦩🍀🦩🍀🦩🍀🦩
.
.
.
Hai guys, jangan lupa Like, Comment & Vote nya yaa. Jangan lupa juga follow ig author di @cathleen_josephine & @scenndle.co . Jangan lupa untuk beri dukungan buat author supaya author rajin update nya ya. Soal nya terkadang otak suka buntu bingung mau nulis apa. 🤣🤣 Thankyou semua and happy reading 😊😊😊
.
.
.
__ADS_1