
Keesokan harinya,Reihan menghubungi teman akrab nya yang bernama pak Hasan, pak Hasan adalah seorang pengacara handal,ia beberapa kali selalu memenangkan kasus dalam rumah tangga, Reihan sudah menceritakan semua nya kepada Hasan.
"Ustadz Reihan,menurut saya,sebaiknya kita menemui orang tua nya Dinda dulu,dan memintai keterangan dari mereka,agar saya bisa lebih mudah untuk menangani kasus ini " ucap pak Hasan.
"Anda benar pak Hasan,saya juga berpikir begitu, berarti sebelum kita ke kantor polisi, kita ke sana saja lebih dulu, kalau begitu saja akan memeriksa alamat Dinda di buku daftar santriwati, karena dulu dia pernah mondok di pesantren ini "sahut Reihan.
Setelah Reihan mencatat alamat rumah orang tua Dinda, Reihan dan pak Hasan langsung pergi ke alamat tersebut.
"Assalamu'alaikum"ucap Reihan dan pak Hasan.
"Wa'alaikum salam"sahut seorang perempuan paruh baya, yang kemungkinan besar adalah ibu nya Dinda.
"Maaf tuan-tuan ini mau cari siapa ya?"tanya ibu itu.
"Mohon maaf sebelumnya bu, karena kami sudah mengganggu waktu nya ibu, Perkenalkan nama saya Reihan dan ini teman saya nama nya adalah pak Hasan,kami datang ke sini, untuk bertemu dengan kedua orang tuanya Dinda"ucap Reihan,sopan.
"Apa kalian suruhan dari keluarga Ananta?" tanya ibu itu, merasa ketakutan.
"Bukan bu,saya adalah guru Dinda waktu mondok di pesantren dulu"jawab Reihan.
Reihan dan pak Hasan pun di persilahkan masuk, Reihan melihat seorang bapak paruh baya yang sedang duduk di kursi roda.
"Perkenalkan,saya ibu Neneng dan ini bapak Asep suami saya,kami adalah orang tua nya Dinda ustadz" ucap ibu Neneng.
"Begini bu,saya mau bertanya apa ibu dan bapak tau, tentang musibah yang di alami putri ibu kemaren?"tanya Reihan,ibu Neneng hanya terdiam sambil menggeleng kan kepalanya pelan.
Reihan pun menceritakan tentang kondisi Dinda di kantor polisi,dan Dinda pun meminta untuk menolongnya, ibu Neneng hanya bisa menangis mendengarnya,bapak Asep pun hanya bisa diam,sebenarnya kedua orang tua Dinda sangat ingin menjenguk dan menolong Putri mereka,akan tetapi karena mereka takut mendapat masalah dan diusir dari tempat tinggal, mereka pun memilih untuk diam, sebenarnya rumah yang mereka tempati sekarang adalah rumah milik orang tua Bram, dan ditambah lagi bapak Dinda sedang sakit stroke, dan yang membiayai pengobatan nya adalah orang tua nya Bram.
"Begini nak ustadz, sebenarnya kami sebagai orang tua bukan tidak ingin menolong Putri kami,tapi karena kami takut diusir dari sini dan juga dituntut, karena itu kami pun memilih diam, kami ini hanya orang miskin,dan tidak memiliki apa-apa"ucap ibu Neneng sambil menangis, Reihan dan pak Hasan pun ikut sedih mendengar nya.
"Nak ustadz,kami menikahkan Dinda karena permintaan orang tua dari Bram, mereka ingin Dinda bisa merubah dan membimbing anak mereka,karena mereka tahu kalau Dinda anak baik dan pernah mondok di pesantren 2 tahun yang lalu, anak mereka sebenarnya pernah di rehab karena kecanduan obat-obatan,dan setelah dinyatakan sembuh, mereka meminta Dinda untuk menikah dengan anak mereka, namun Bram mempunyai sifat yang sangat temperamental,anak kami Dinda sangat sering dipukuli dan dikurung dalam kamar tanpa alasan yang jelas, kami juga sebagai orang tuanya sangat sulit bila hendak bertemu dengan Dinda anak kami,saya bersyukur dan sangat berterima kasih,karena nak Ustadz mau menolong anak kami" ucap ibu neneng,bercerita panjang lebar,Rehan pun prihatin dengannya.
__ADS_1
"Sama-sama ibu, semoga Allah memudahkan semuanya dan memberikan jalan yang terbaik untuk Dinda" sehat Reihan sambil tersenyum.
Rehan dan Pak Hasan pun pamit dari rumah orang tua Dinda, dan menuju ke Kantor polisi, Pak Hasan menyuruh Dinda untuk melakukan visum dan mengumpulkan bukti -bukti yang lain,agar bisa meringankan hukumannya.
Dan akhirnya pengadilan pun memutuskan bahwa Dinda di nyatakan tidak bersalah dan hanya mendapatkan hukuman 6 bulan penjara,karena terbukti bahwa Dinda hanya membela diri dari suaminya yang hendak membunuhnya, pihak keluarga Ananta sebenarnya sangat keberatan dengan hasil persidangan itu,mereka menuntut hukuman 15 tahun atau hukuman seumur hidup untuk Dinda,tapi karena banyak bukti yang mengarahkan dan memberatkan kepada Bram, maka Dinda hanya mendapatkan hukuman 6 bulan penjara saja.
"Terima kasih banyak nak Ustadz dan Pak Hasan,berkat nak ustadz dan Pak Hasan anak kami Dinda,selamat dari tuduhan percobaan pembunuhan" ucap ibu neneng,merasa sangat bersyukur.
"Ustadz dan Pak Hasan terima kasih sudah mau membantu saya! Saya tidak tahu kalau tidak ada Ustadz, mungkin saya akan dihukum sangat berat saat ini"ucap Dinda sangat bersyukur dan bahagia.
"Sama-sama Dinda, berterima kasih lah kepada Allah,Karena campur tangan nya lah kamu bisa selamat,dan kami hanya perantaranya saja"sahut Reihan sambil tersenyum.
"Dinda,kamu harus banyak-banyak beristighfar, berserah diri lah kepada Allah, mohon ampunan nya,dan perbanyak bersabar serta ikhlas menerima segala ujian yang kamu hadapi"ucapan Reihan menasehati.
"Iya ustadz,saya akan selalu ingat nasehat ustadz"sahut Dinda,ia sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan ustadz Rehan,dan ia pun semakin mengagumi sosok ustadz Reihan.
"Kalau begitu, kami pamit dulu,ibu,Dinda"ucap Rehan ramah,ibu neneng dan Dinda pun,
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"waalaikumsalam"sehat ibu Neneng dan Dinda bersamaan.
Rehan dan Pak Hasan pun pulang.
"Dinda..! sungguh, ustadz yang bernama Rehan itu, sangat baik dan Soleh, dia juga sangat sopan pada orang tua, ibu sangat suka padanya,ah.. seandainya dia yang jadi suami mu, pasti kamu akan bahagia nak" ucap ibu Neneng tanpa sadar, sambil tersenyum.
"Seandainya bu, tapi sayang, cinta Dinda bertepuk sebelah tangan,Ustad Raihan sudah mencintai wanita lain" batin Dinda merasa sedih.
*
*
__ADS_1
*
Di rumah.
"Nisa, kamu lagi ngapain sayang?"tanya Risa sambil mendekati putrinya.
"Astaghfirullah..!sayang,kenapa dindingnya dicoret-coret?"ucap Risa, sambil melihat putrinya yang sedang asyik mencoret-coret dinding kamar, Anisa hanya tertawa melihat umi nya protes, yang sambil membelalakkan matanya.
"Umi lucu,hi..hi..hi"ucap Anisa,menertawakan Risa, Risa menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Kenapa tertawa hem? Umi kan lagi marah!" sahut Risa, sambil cemberut dan menyipitkan matanya.
Anisa pun langsung berlari keluar rumah dan bersembunyi di samping kursi teras, Rehan yang baru datang pun bingung,melihat putrinya di luar sendirian sambil bersembunyi.
"Sayang nya Abi kenapa sendirian di luar? mana Umi?"tanya Rehan sambil menghampiri putrinya,dan berjongkok.
"Suuuttt..! Abi jangan berisik,nanti Umi tau" ucap Anisa, sambil menaruh jari telunjuknya ke mulutnya,dan membulat kan matanya, Reihan pun terkekeh melihat tingkah lucu putri nya.
"Memangnya kenapa kalau Umi tau?" tanya Rehan, penasaran,lalu menggendong anak nya.
"Umi nya lagi marah- marah" sahut Anisa, sambil tertawa sendiri, berbisik ke telinga Reihan.
"Marah kenapa? kok umi nya bisa marah? tanya Rehan, sambil mencubit hidung putri nya,karena putri nya terlihat sangat menggemes kan.
"Karena, Anisa udah coret-coret dinding kamar umi abi"sahut Risa,yang tiba-tiba datang,dan menghampiri mereka, sambil memanyunkan bibirnya,dan melipat kedua tangannya ke dada, Reihan hampir tergelak melihat tingkah lucu ibu dan anak ini.
"Benar..! kata Umi sayang?" tanya Rehan, menatap putrinya, sambil tersenyum, Anisa menggelengkan kepalanya.
"Anisa lagi gambar aja Abi" sahut Anisa, polos, Rehan pun tertawa mendengar nya, sedang kan Risa langsung ternganga dan membelalakkan matanya,ia tak habis pikir, dengan jawaban putri nya, yang sangat pintar.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa baca novel terbaru dari Ummi Alima ya yang berjudul (JERITAN HATI ANAK YATIM PIATU)