
"Kenalin anak saya yang membimbing Adi" ucap pak Yayi memperkenalkan anaknya
"Mereka ini orangtua Adi nak" ucapnya lagi pada Adnan
"Alhamdulillah bisa bertemu langsung, dengan orangtua yang memiliki anak hebat seperti Adi" ucap Adnan ramah
"Jangan terlalu memuji anak kami pak ustad" jawab Arnold merasa tidak enak hati anaknya selalu di puji
"Oh iya kebetulan dari kemarin Adi itu lagi kurang sehat, kemarin dia muntah sampai 3kali, dan hari ini pas shalat subuh dia pingsan saat shalat tubuhnya demam" ucap Ustad Adnan
"Innalilahi, apa saya boleh bertemu dengan anak saya pak Ustad?" tanya Aisyah ramah
"Boleh, sebentar saya panggil istrinya terlebih dahulu untuk mengantar ibu" ucap ustad Adnan
"Biar umi saja yang antar ke kamar Adi nak" ucap umi dan mengantar Aisyah
"Nak Arnold disini saja dulu ada yang ingin saya bicarakan" ucap Abi Yayi
"Baik, silahkan pak kiyai" ucap Arnold
"Begini Nak Arnold, saya punya rencana sama anak saya ini untuk memperluas pondok, ini juga rencana Adi yang buat sebenernya, lalu anak saya ini bilang kalo tanah sebelah pondok ini cukup luas dan masih tanah kosong, setelah di cek ternyata ini punya Nak Arnold, benar kan nak seperti itu penjelasan pak kades" tanya Abi yayi pada Adnan
"Iya benar Abi, jadi begini pak Arnold, bila bapa berkenan kami ingin membeli sedikit dari tanah yang bapa punya untuk kegiatan usaha para santri dan santriwati" ucap Adnan hati-hati
"Eh, tanah yang percis sebelah pondok ya, itu benar milik saya juga baru 5 bulan ini sih kepemilikan atas nama saya, saya membeli tanah tersebut samping pondok sengaja, karena saya ingin mewakafkan tanah tersebut pak Kiyai untuk memperbesar pondok, karena Adi selalu cerita keinginan pak Kiyai ingin membuat usaha untuk santri, tetapi keterbatasan tempat, maka dari itu Adi meminta saya untuk membeli tanah samping pondok untuk pak Kiyai membuka kegiatan usaha, maaf saya belum menyempatkan waktu kemari untuk membahas ini, karena hari ini sudah disini maka dari itu saya ingin meresmikan saja tanah itu menjadi wakaf bagian dari pondok pesantren Ar-Rahman" penjelasan Arnold membuat Abi Yayi dan Ustad Adnan tersenyum senang
"Alhamdulillah" ucap Abi Yayi dan Adnan
"Terima kasih Nak, kami tidak tau harus berterima kasih bagaimana, saya hanya bisa mendoakan apapun yang terbaik untuk keluarga Nak Arnold" ucap Abi Yayi
"Jika seperti itu saya hubungi pengacara saya terlebih dahulu, dan Pak Kiyai serta Ustad Adnan bisa mencari orang sebagai saksi biar jauh lebih resmi, karena surat-suratnya pun akan saya pindahkan ke atas nama Pak Kiyai langsung" ucap Arnold semakin membuat Pak Kiyai bahagia
"Baiklah saya akan panggil beberapa sesepuh disini sebagai saksi" ucap ustad Adnan
Kamar Santri Putra Adipati & Rival
"Assalamu'alaikum" ucap umi yayi dan Aisyah
"Wa'alaikumsalam, Umi? Masuk umi" Ucap Rival
__ADS_1
"Gimana Adi kondisinya Val?" tanya umi yayi
"Alhamdulillah umi panasnya sudah turun, tapi dati muntah lagi, habis minum obat langsung tidur" ucap Rival tenang
"Kenalin ini bundanya Adi namanya ibu Aisyah, dia mau lihat keadaan Adi, kamar rapihkan?" Ucap Umi yayi memperkenalkan Aisyah dan mendapat uluran dari Rival
"Rapih dong umi, apalagi Adi itu suka ngomel kalo kamarnya ngga rapih" ucap Rival
"Maafin Adi ya kalo dia menyebalkan" ucap Aisyah lembut
"Tidak kok bu, saya senang punya teman seperti Adi, dia baik sekali" ucap Rival semangat
"Panggil saja saya bunda, tidak perlu kaku begitu manggilnya" ucap Aisyah mengelus kepala Rival
"Maaf bu, eh bun" jawab Rival cengengesan
"Umi dan bunda boleh masuk?" tanya Aisyah
"Jelas boleh dong, masa mau dilarang bisa habis aku sama umi yayi" ucap Rival nyengir garuk kepala yang tidak gatal
"Beneran bobo Adi nya, Nak" ucap umi yayi " kalo begitu umi tinggal dulu ya nak, mau cek kama yang lain sekalian, kamu ikut uminya Rival" ucap Umi mengelus pundak Aisyah
"Nak, Adi sayang" panggil Aisyah mengelus wajah anaknya yang sedikit pucat, beberapa saat Adi pun bangun
"Hai, sayang apa ada yang sakit?" tanya Aisyah khawatir dengan mata berkaca-kaca
"Bunda kok ada disini?" tanya balik Adi dengan suara pelan
"Kata kamu bunda dan ayah di panggil pak Kiyai Husein disini, makanya bunda kesini" jawab Aisyah
"Ini masih jam 7, bunda jalan jam berapa?" tanya Adi lagi
"Jalan sebelum subuh, kamu bagaimana apa ada yang sakit atau apa yang dirasa" tanya Aisyah cemas mengelap keringat anaknya
"Adi tidak apa-apa, Adi baik-baik saja" ucap Adi pelan
"Bunda, Adi tidak jadi pulang, Adi tinggal disini saja" ucap Adi lemas
"Apa Adi marah sama bunda sampe Adi tidak jadi pulang?" tanya Aisyah sedih, Adi pun hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan bundanya
__ADS_1
"Kenapa tidak jawab pertanyaan bunda, Adi sudah malas menjawab pertanyaan bunda, apa yang bunda tanya benar karena Adi marah sama bunda" tanya Aisyah kembali menahan kesedihannya
"Ya sudah jika memang Adi marah sama bunda, dan tidak mau bicara dengan bunda, bunda minta maaf kalo bunda salah sama Adi, bunda tidak akan ganggu Adi, keputusan Adi mau tetap disini atau pulang itu kenyaman Adi dan untuk kebaikan Adi juga, bukan buat bunda, sia-sia juga bunda disini jika Adi tidak mau bicara sama bunda" ucap Aisyah sudah tidak kuat menahan air mata melihat anaknya diam saja
"Bunda pamit pulang ya, kamu sehat-sehat disini" ucap Aisyah lagi lalu pergi meninggalkan Adi di dalam kamar
Adi tidak marah dengan bunda, tapi kenapa bunda seperti itu, apa Adi bukan anak yang baik buat bunda. Gumam Adi pelan
Aisyah kembali ke tempat pak Kiyai dengan wajah se netral mungkin.
"Gimana Adi?" tanya Arnold mengelus pundak istrinya
"Lagi istirahat, tadi kata temannya habis minum obat" jawab Aisyah dan dianggukan oleh Arnold
Arnold pun tidak lupa menjelaskan pada Aisyah bahwa dia ingin me wakaf tanah yang di beli beberapa bulan yang lalu, atas nama Pak Kiyai Husein, Aisyah pun tidak keberatan atas itu semua, menurut dia itu hak suaminya, selagi itu masih di jalan yang benar dan baik Aisyah akan selalu mendukung suaminya.
"Makasih ya bun sudah dukung ayah" ucap Arnold merangkul istrinya
Tak lepas dari pandangan Pak Kiyai dan ustad Adnan, mereka sangat senang ternyata keluarga Arnold benar orang baik dan harmonis
"Assalamu'alaikum" ucap Adi pelan dan memgangi perut yang terasa mual
"Wa'alaikumsalam" jawab serempak dan menoleh ke arah pintu
"Adi?" lirih Aisyah dan dia pun berdiri tapi Adi keburu lari dan bersujud pada bundanya
"Maafin Adi bunda" ucap Adi menangis, yang melihat kejadian itu bingung ada apa dengan Adi sebenarnya
"Bangun sayang, Adi tidak salah apa-apa sama bunda" ucap Aisyah mencoba meangkat Adi tapi tidak bisa
"Maafin Adi bunda, Adi anak nakal, Adi durhaka sama bunda, Adi mengabaikan bunda dari semalam" ucap Adi masih posisi bersimpuh dan menangis
"Adi sayang, kamu tidak melakukan kesalahan nak, ayo bangun sayang" ucap Aisyah lembut
"Ayah, angkat Adi dong dia kan lagi tidak sehat" ucap Aisyah
"Nak, bangun lah sini kamu kan masih lemas" ucap Arnold mengangkat anaknya untuk bangun, saat Adi bangun dan berdiri langsung memeluk bundanya dan menangis sesaat itu Adi kembali pingsan karena tubuhnya yang sangat lemas
"Adi bangun sayang, nak jangan seperti ini sadar nak" ucap Aisyah panik.
__ADS_1