
Khanza sangat senang keluarganya mengizinkan Yusuf untuk tinggal di rumah mereka setelah menikah, kabar ini pun sudah Khanza infokan lewat teks ke ponsel papihnya Yusuf yang tadi menghubungi Khanza, ternyata ponselnya masih Yusuf yang memegang, Yusuf juga sangat senang ternyata dia di terima baik di keluarga Arnold.
Apalagi melihat bunda Aisyah yang selalu ramah dan lembut perilaku dan ucapannya membuat Yusuf nyaman dikeluarga itu, beberapa kali Yusuf pernah makan bersama di rumah Khanza dan perlakuan Aisyah lada Yusuf sama seperti pada anak-anaknya benar-benar tidak di bedakan. atau mungkin karena Yusuf calon suami anaknya?.
Yusuf pun menceritakan semua yang Khanza jelaskan tadi tentang dia di izinkan tinggal sementara disana dan cerita ayah Khanza yang bertahan tinggal di rumah mertua, Yusuf ceritakan itu semua pada papihnya, papihnya dapat menilai bahwa begitu kuat ikatan cinta dikeluarga Zavier dan Aisyah.
Pernikahan Khanza tinggal 4 hari lagi, kebutuhan untuk pernikahan sudah sempurna, hanya tunggu meriah ruangan saja, karena itu akan di lakukan H-2 sebelum acara pernikahan, beberapa keluarga ayah Daniel pun sudah ada yang datang menginap di rumah ayah Daniel, keluarga Almahendra semua berkumpul di rumah Eyang Tasya sebelum hari H keluarga saling berkunjung dan ada juga yang menjadikan moment liburan ada yang jalan-jalan serta lainnya.
Rumah Arnold Zavier
"Tidak terasa ayah akan menikahkan anak kita bun" ucap Arnold mengelus bahu istrinya di ruang tv
"Alhamdulillah, kita bisa menjalankannya sampai di titik ini, bunda juga tidak menyangka bisa bertahan dengan ayah dengan berbagai rasa kehidupan rumah tangga" jawab Aisyah senyum bersandar di pundak suaminya
”Adi, kamu tidak punya pacarkan?" tanya Aisyah tiba-tiba menoleh ke anak bujangnya yang asik main games
"Kenapa bunda jadi tanya begitu sama Adi?" tanya balik Adi santai
"Hanya bertanya sayang, bunda harap kamu tidak pacaran" jawab Aisyah menatap anaknya yang mulai cuek
"Doain aja supaya Adi Istiqomah berada di jalan yang benar bun" ucap Adi melirik ke bundanya
"Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu nak, apa Adi akan coba-coba untuk pacaran?" tanya Aisyah penasaran
"Boleh sih kalo untuk coba-coba, pengen tau rasanya pacaran, tiap malam ngapel, jalan bareng, makam bareng, uuuhh pasti seru, tambah lagi naik motor berdua boncengan, pegangan tangan, peluk-pelukan, bagaikan dunia milik berdua sisanya ngekost" ucap Adi senyum fokus main games tanpa melihat bundanya yang sudah melotot
Plak.. pukulan keras Aisyah pada bahu anaknya
__ADS_1
"Bunda sakit kenapa mukul Adi sih?" tanya Adi meringis kesakitan dipukul keras
"Maksud kamu mau coba pacaran apa? pelukan pegangan segala macem" jawab Aisyah menatap tajam anaknya
"Tadi kan bunda yang bilang, apa aku mau coba-coba, itu isi hatiku yang paling dalam bun, jujur itu, memang suka ada rasa ingin pacaran, tapi takut kurang iman juga, tapi pengen bun" ucap Adi mengelus bahunya yang terasa panas akibat pukulan bundanya
"Semoga Adi kuat iman tidak melakukan hal yang membuat bunda gagal mendidik anak" jawab Aisyah sendu, Arnold hanya memperhatikan anak dan bundanya yang sedang berargumen tanpa ikut berkomentar apapun, terkadang juga Arnold pernah kencan dengan anak perempuannya bicara dari hati ke hati, lalu sama anak lakinya pun pernah nongkrong dan bicara secara laki-laki, itu akan Arnold lakukan sebelum anaknya memiliki kehidupan baru, Aisyah pun melakukan hal sama seperti Arnold jadi mereka tau isi hati anak-anaknya dan tidak di bicarakan kembali satu sama lain, jadi saling menjaga privasi.
"In syaa Allah bundaku yang paling aku sayang, Adi akan menjaga nama ayah dan bunda, Adi juga tidak mau bunda menjadi bahan omongan yang jelek, Adi paham kok terkadang jika anak melakukan kesalahan pasti yang di pandang jelek orang itu adalah ibunya contoh ada anak bolos sekolah pasti orang akan bilang anaknya siapa sih apa ibunya tidak bisa mendidik dengan baik?, kalo anaknya hebat pasti yang di puji ayahnya, wah keluaga Zavier anaknya hebat bisa begini begitu, bla...bla...bla, benarkan bun?" ucap Adi memeluk bundanya dari samping penuh kasih sayang
"Wah..wah lagi peluk-pelukan ndak ajak kaka" jawab Khanza cemberut keluar dari kamar melihat moment sweet adiknya
"Lah kaka tau mau nikah orang mah kumpul sama kita malah mengeram dalam kamar, sudah berapa banyak telur yang keluar?" ledek Adi masih memeluk bundanya
Plak... pukulan Khanza di lengan adiknya
"Hilih minta peluk sama aku, sama minta peluk saja sama ka Yusuf" goda Adi senyum
"Eh belum boleh lah, bisa habis Yusuf main asal peluk anak bunda yang belum ini" jawab Aisyah sewot
Hahahaha .... Arnold, Adi Khanza tertawa bersama melihat tingkat bundanya
"Lagian kaka ndak mau lah bun" ucap Khanza memeluk bundanya dengan posisi duduk dan menindihin adiknya
"Kakak berat" teriak Adi ketindihan Arnold pun ikut memeluk keluarga kecilnya
"Kaka tuh ndak gendut dek, berat dari mana sih?" ucap Khanza sebal
__ADS_1
"Kaka ndak gendut cuma semok, hahahahah" ucap Adi tertawa ngakak
"Ihh bunda ayah Adi tuh masa bilangnya begitu bikin kaka ngga percaya diri aja, menjatuhkan kakanya" ucap Khanza memeluk Arnold pura-pura sedih
"Kaka terlalu lebay dan mendrama, bagusan juga drama korea dari pada drama kaka tidak jelas" jawab Adi senyum meledek
"Jangan meledek kakanya terus, kasihan nanti kalo yang punya udah ngamuk repot deh" ledek Aisyah mengelus anak bujangnya dan melihat ke anak gadisnya yang nempel pada Arnold
"Ayah belain kaka dong, ini kaka lagi disakiti sama bunda dan Adi" ucap Khanza cemberut menggoyangkan lengan ayahnya
"Biarkan saja kak, gampang buat ayah bela kamu, tinggal akses yang Adi punya tarik semua bereskan, tanpa banyak bicara" jawab Arnold santai merangkul putrinya
"Ayah benar tinggal tarik semua fasilitas Adi" ucap Khanza senang menjulurkan lidahnya ke Adi
"Beraninya pakai ancaman, pakai kata-kata dong, ndak elit akh" ucap Adi memuju dapur
"Kamu loh yang kampungan candaannya" teriak Khanza "Dek kaka sekalian dong tolong susu dikulkas sama gelasnya" ucap Khanza lagi
"Uh giliran nyuruh aja cepet, susu rasa apa?" tanya Adi mengacak-acak isi kulkas
"Susu yang warna hijau dek kotaknya, tapi coklat juga boleh deh bawa aja keduanya" jawab Khanza senang Adi selalu perhatian pada dia
"Adi isi kulkas jangan pernah diacak-acak nak, kamu tuh kalo ambil makanan suka kebiasaan semua dikeluarin tapi tidak dimasukin lagi" ucap Aisyah melihat ke arah dapur
"Tidak bun, kali ini Adi beresin deh" ucap Adi jalan mendekati bundanya memberikan susu pada kaka tercinta
"Makasih adikku yang tampan dan baik hati tidak sombong manis sekali lucu imut, uluh jadi gemes" ucap Khanza memeluk Adi gemas.
__ADS_1