
Rumah Arnold
Semoga mamihnya kak Yusuf benar-benar baik pada ku, entah kenapa aku merasa mamihnya kak Yusuf hanya pura-pura baik, astaghfirullah kenapa aku jadi berpikir jelek. Gumam Khanza pelan
tok..tok..tok "Kakak" panggil Adi
"Ada apa dek, kaka lagi males bicara sama kamu nyebelin" teriak Khanza dari dalam kamar
"Begitu banget sama adik sendiri, dosa tau kak, padahal kan niat ku baik mau menghibur" ucap adik di balik pintu
"Hibur apa, yang ada kamu cuma buat kaka keki dan sebal tau" teriak Khanza bete
"Iya aku janji ndak akan buat kaka sebal sama aku, sedih tau rasanya kalo kaka cuek sama aku" jawab Adi lemes
Ceklek...pintu kamar Khanza terbuka
"Maaf sudah teriak-teriak sama kamu" ucap Khanza pelan
"Tidak apa-apa, Adi hanya merasa akan sangat kehilangan kaka, jika kaka sudah menikah" jawab Adi sedih
"Kamu kan tetap bisa hubungi kaka, ndak mungkin kan Kak Yusuf melarang kamu hubungi kaka" ucap Khanza memeluk adiknya
"Kita tidak tau sifat asli kak Yusuf, bisa saja setelah menikah kak dilarang komunikasi sama aku" jawab Adi sendu
"Jangan begitu, jika pun itu terjadi kaka akan tetap pilih kamu kok" ucap Khanza memenangkan adiknya
"Ndak mungkin lah, masa kaka mengorbankan rumah tangga kaka hanya demi adik yang menyebalkan ini" jawab Adi membuang nafas berat
"Kalo kamu seperti ini kaka jadi berat dik, doain kaka terus ya semoga bisa menjalankan rumah tangga ini" ucap Khanza di dalam kamar bersama Adi
"Kaka janji ya, jika terjadi sesuatu, kaka harus bilang langsung ke aku, jangan ada yang di tutupi, aku akan merasa bersalah tidak bisa melindungi kaka" jawab Adi sungguh-sungguh
"Iya adik kaka yang ganteng nan baik hati tidak sombong, kamu harus ngabarin tiap hari kegiatan mu pada kaka juga ya, bagaimana? termasuk urusan cinta" tanya Khanza menggoda
"Selama ini kan aku selalu terbuka sama kaka dan bunda, entah kenapa aku sulit terbuka dengan ayah" jawab Adi bersandar pada Khanza
__ADS_1
"Justru kaka yang terasa sulit curhat sama bunda, kaka lebih nyaman ke ayah, walaupun kaka paksakan juga curhat ke bunda, bunda itu jauh lebih menyeramkan dari pada ayah" ucap Khanza tertawa bersama Adi
Hahahahahah....
"Kamar Kaka rame banget pada ketawa, apa Adi didalam kamar kaka yah?" tanya Aisyah pada Arnold
"Bisa jadi, tuh kamar Adi pintunya terbuka gitu aja dan kosong" jawab Arnold santai
"Rumah ini dulu kehilangan Adi yany harus tinggal di pondok selama 9 tahun, sekarang bunda akan kehilangan kaka di bawa suaminya sampai akhir hidupnya" ucap Aisyah bersandar pada Arnold di ruang tv
"Doakan saja yang terbaik buat anak-anak, saat Adi di pondok kamu kuat menahan rasa rindu dan yang lain, kalo kaka kan menikah banyak waktu untuk bisa komunikasi, dan selama kaka belum menikah kita habiskan dulu bersama dia" jawab Arnold menenangkan, mencium pucuk kepala istrinya
"Semoga keluarga Yusuf benar-benar baik, dan bisa memberikan kasih sayang serta perlindungan untuk kaka" ucap Aisyah pelan
"Ayah akan masih melindungi kaka bun, ayah juga tidak mau kecolongan atas kondisi kaka" jawab Arnold merangkul istrinya dengan erat
"Cie...cie ayah bunda sweet banget" ucap Adi keluar dari kamar Khanza
"Kamu ini, ngapain dari kamar kaka?" tanya Aisyah penasaran
"Bahasa mu nak, di gondol" ucap Arnold geleng-geleng melihat tingkah anaknya
"Ayah, bunda, jika kaka sudah menikah Adi boleh ndak sering-sering tinggal di rumah kaka, itupun kalo kaka ndak tinggal sama ornagtua kak Yusuf?" tanya Adi serius
"Ndak boleh lah nak, nanti malah mengganggu kaka mu, sesekali boleh, misal seminggu sekali saat weekend, kalo buat tiap hari atau keseringan takutnya kak Yusuf tidak nyaman" jawab Arnold
"Loh, bukannya kalo seorang laki menikahi wanita berarti kan dia juga harus bisa menerima keluarga pasangannya juga dong, maksud Adi kan dia menikahi kaka berarti menikahi keluarganya kaka juga, masa iya dia tidak nyaman, berarti dia tidak nyaman juga dengan kaka" ucap Adi sok dewasa
"Pemikiran orang tuh beda-beda nak, tidak semuanya sama, apa lagi kaka mu nanti masuk kategori pengantin baru, otomatis kak Yusuf pasti ingin selalu bersama dengan kaka mu tanpa pengganggu seperti dirimu" jawab Arnold tertawa
"Hilih, bucin banget jadi orang, pokoknya aku harus sering-sering nginap di rumah kaka" ucap Adi serius
"Jangan jadi Dasim dirumah tangga mereka, jika kamu memaksa ingin terus menginap di rumah kaka mu" jawab Aisyah malas
"10 hari pernikahan kaka, selama belum menikah aku mau menghabiskan waktu sama kaka, selama di pondok aku jarang diskusi, aku kembali ke rumah kaka yang akan digondol sama suaminya" ucap Adi yakin
__ADS_1
"Adi...Adi bahasa mu itu loh gondal gondol, masih banyak bahasa yang bagus" ucap Arnold menatap anak bujangnya
"Mending kamu main sama ke rumah Rival atau Fahmi, biar kepala bunda sedikit tenang" jawab Aisyah
"Aku tidak akan main keluar, aku mau jagain kaka terus, titik pake koma" ucap Adi masuk ke dalam kamar
"Punya anak kaya Adi 5 aja bikin kepala pecah kali ya" ucap Aisyah pelan
"Kamu sih dulu diajak buat anak banyak nolak terus, akhirnya cuma punya dua doangkan" jawab Arnold tanpa melihat istrinya
"Idih tidak bersyukur, udah tau rezekinya hanya segitu pake protes segala" ucap Aisyah memukul tangan suaminya
Rumah Mahadika
"Mamih dan papih tuh pelit banget sih, katanya kan tidak boleh ketemu karena di pingit, masa chat aja ngga di izinkan padahal kan ngga lihat muka" ucap Yusuf pada dirinya sendiri
"Gimana caranya aku bica chat Khanza ya?" pikir Yusuf
"Akhh menyebalkan, bikin otak buntu saja deh, Apa Khanza merasakan apa yang aku rasa, atau biasa-biasa saja" pikir Yusuf
"Oh hari cepatlah berjalan, karena aku sudah rindu dengan bidadari surgaku" ucap Yusuf pasrah
Dibalik pintu kamar Yusuf
"Mih kasih saja ponselnya, papih yakin dia tidak akan melakukan video call pada Khanza" ucap papih santai
"Apa papih yakin, anak bucin begitu apa saja bisa di lakukan sama tuh anak" jawab mamih
"Selain karena mereka di pingit apa tujuan mamih menyita ponsel Yusuf, pasti ada hal lain kan?" tanya papih curiga
"Tidak ada ini murni agar mereka di pingit saja" ucap mamih berbohong
"Jujur saja sama papih, mamih tuh tidak pandai berbohong atau menutupi sesuatu" jawab papih santai
"Iya, mamih tuh cemburu, semenjak kenal Khanza dia lebih perhatian pada Khanza di bandingkan mamih
__ADS_1